Aki Japval adalah seorang kesatria Dayak Rungus yang berada di bagian utara Sabah, Aki Japval adalah anak Aki Japain. Kedua-dua tokoh ini merupakan pemimpin suku Rungus di utara Sabah dan merupakan pahlawan yang disegani di kawasan utara. Mereka membagi wilayah kekuasan wilayan pantai utara Sabah menjadi dua dan masing-masing menjadi menjaga kawasan tersebut.
Kekuasaan mereka bersifat “pemerintahan kesukuan”, di mana kawasan mereka bebas dari penjajahan kuasa Kesultanan Brunei atau Sulu. Sebagai pemimpin, kedua-duanya mengetuai tugas yang sangat berat, yaitu untuk melindungi suku-suku Dayak Rungus di kawasan utara dari serangan Perompak / Bajak Laut yang datang dari Sulu, Balmbangan, Mindanao, Kota Belud, Jambongan dan sebagainya. Pekerjaan rutin mereka adalah, berperang melawan perompak yang seringkali menyerang kawasan pantai utara.
Kedua-dua tokoh ini memiliki kemampuan mistik seperti ilmu kekebalan, di samping itu ilmu bertempur menggunakan senjata. Mereka memiliki gaya bertempur tersendiri yang sangat ditakuti oleh perompak. Dengan kemampuan mereka ini, mereka dapat menghalang para perompak di kawasan pantai dari mendarat dan merompak penduduk kampung. Kedua-dua anak beranak ini sangat erat dan satu hati dalam berjuang menentang perompak.
Aki Japain, ayah Aki Japval merupakan seorang duda. Pada suatu hari, Aki Japain membawa rombongan melamar seorang gadis yang kebetulan merupakan gadis yang dicintai juga oleh Aki Japval, anaknya itu. Aki Japval sangat kecewa dan patah hati. Tapi dia merelakan bapanya untuk mengawini gadis itu. Untuk mengobati kekecawaannya, maka Aki Japval keluar dari kampungnya dan kemudian mengembara ke kawasan sungai Tempasuk. Ketika itu, kawasan Tempasuk seringkali diserang oleh pemburu kepala dari suku-suku Dayak Dusun dari kawasan pendalaman. Dia mengambil keputusan untuk mengadu nasib di kawasan ini. Ketika sampai di kawasan Tempasuk, Aki Japval diserang oleh pasukan dari sebuah perkampungan yang menyangkanya adalah pemburu kepala / Pengayau. Tapi Aki Japval tidak membalas serangan itu, dan terus berjalan. Sekalipun ada lembing-lembing penyerang mengenai badannya, tapi tidak memberikan luka apa-apa kepadanya, kerana dia seorang yang kebal.
Ketika penyerang melihat Aki Japval tidak membalas serangan, maka mereka tahu dia bukan pemburu kepala, melainkan hanya seorang pengembara. Pemimpin mereka kemudian menyuruh supaya serangan dihentikan dan mereka pun membiarkan Aki Japval melanjutkan perjalanannya. Aki Japval kemudian menetap di suatu wilayah berdekatan dengan sungai Tempasuk dan menikahi seorang gadis setempat. Suatu hari, roh yang menjaga Aki Japval memberikan firasat kepadanya bahwa ada anggota keluarganya yang meninggal dan menyuruhnya untuk kembali ke Kudat. Aki Japval pun kembali menemui keluarganya dan menceritakan kehidupan bahagianya di Tempasuk. Setelah menziarahi keluarganya di Kudat, dia kemudian kembali kepada keluarganya di Tempasuk. Legenda mengatakan bahwa, karena kepahlawanannya menjaga kawasan sungai Tempasuk dari serangan-serangan pemburu kepala yang turun dari kawasan pergunungan, mereka mengangkatnya menjadi pemimpin. Aki Japval kemudian menjadi pemimpin yang berkuasa di kawasan sungai Tempasuk. Pemerintahannya bebas dari pengaruh dari Brunei maupun Sulu.
sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2015/01/19/kisah-aki-japval-pahlawan-dayak-rungus/
#SBJ
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...