Alat Musik
Alat Musik
alat Musik Kalimantan Tengah KalTeng
KATAMBUNG
- 3 Agustus 2014

Katambung adalah alat musik perkusi sejenis gendang yang biasa digunakan dalam upacara - upacara adat seperti dalam upacara Tiwah agama Kaharingan. Katambung berarti PUKUL. Bentuknya hampir menyerupai intrumen musik Tifa dari Papua. Ukuran panjang kurang lebih 75cm terbuat dari kayu ulin dan bagian yang dipukul dengan telapak tangan terbuat dari kulit ikan Buntal (sejenis ikan yang kulitnya dapat menggembang apabila terancam atau terkena rangsangan/gesekan) yang telah dikeringkan ber-diameter kurang lebih 10 - 18 cm. Jenis instrumen ini diperkirakan sudah ada sebelum abad ke X Masehi, banyak terdapat di wilayah suku Dayak Ngaju.

Katambung dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu:
(1) katambung untuk orang dewasa dan
(2) katambung untuk anak-anak.

Katambung yang pertama (terbuat dari kayu) umumnya berukuran panjang lebih kurang 70 sampai 75 cm dengan garis tengah (tempat melekatkan kulit membran) antara 15--18 cm. Sedangkan, katambung yang kedua (terbuat dari bambu) umumnya berukuran panjang sekitar 40--60 cm. Katambung ini garis tengahnya bergantung pada diameter luas ruas bambu yang dipakai.

Pembuatan Katambung
Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat katambung antara lain adalah: rotan, kayu, bambu, kulit, dempul, baji, dan penyang. Rotan yang diambil adalah rotan yang sudah tua. Rotan itu dipotong sepanjang 4 meter dari pangkalnya. Kemudian, dijemur sampai kering, lalu dianyam. Anyaman ini, dalam sebuah katambung, ditujukan untuk bagian-bagian tertentu yang disebut: tambut, saluang sarak, dan pelimping.

Kayu yang dipilih untuk dijadikan sebagai katambung untuk orang dewasa adalah kayu kayu besi atau meranti. Kayu-kayu tersebut diambil tengahnya yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai "teras". Sedangkan, bambu yang dipilih untuk membuat katambung anak-anak adalah bambu yang juga sudah tua. Kulit yang dalam katambung berfungsi sebagai selaput getar berasal dari kulit binatang: mengkas, kubung atau kulit ikan buntal yang besar. Kulit-kulit tersebut dijemur sampai kering agar tahan lama (kuat) dan tidak mengeluarkan aroma (bau) yang tidak sedap. Dempul terbuat dari sarang binatang serangga yang oleh masyarakat setempat disebut "pamburep". Pemburap dibentuk menyerupai bola-bola kecil yang pada saatnya akan ditempelkan pada kulit katambung. Sementara, baji digunakan untuk mengeraskan dan mengencangkan kulit katambung. Baji terbuat dari teras kayu atau tanduk binatang yang panjangnya lebih kurang 10 cm yang satu sisinya datar dan sisi lainnya membentuk setengah silinder dengan ujung lebih tipis dari pangkalnya dan agak runcing. Sedangkan, penyang terdiri atas berbagai jenis bentuk merjan, gigi binatang, cula badak dan lain-lain. Penyang ini dianggap benda yang mempunyai kekuatan gaib (mistik) yang fungsinya untuk melindungi seseorang dan dapat menambah wibawa serta pengaruh pada yang bersangkutan. Adapun peralatan yang dipergunakan untuk pembuatan katambung adalah: parang (mandau), beliung, pahat, gandin, ampelas, pisau peraut (langgei).

Pembuatan Katambung
Pembuatan katambung diawali dengan pelingkaran rotan. Dalam hal ini rotan yang sudah kering dibentuk menyerupai silinder. Salah satu ujungnya dibuat lekukan yang cukup dalam lalu dilicinkan dengan menggunakan beliung. Lalu, diteruskan dengan pembuatan ornamen. Caranya, mata beliung disilangkan pada lekukan, kemudian badan katambung diukir dengan menggunakan pahat dan langgei. Selanjutnya, bagian tengah badan katambung dibuat lubang lebar untuk ruang resonansi. Setelah lubang resonansi terbentuk, diperluas dengan menggunakan ampelas. Selanjutnya, badan katambung diukir dengan pahat dan diberi warna: kuning (campuran kunyit dengan kapur sirih), hitam (campuran jelaga dengan minyak kelapa), dan putih (campuran air dengan kapur sirih). Setelah selesai, dilanjutkan dengan pemasangan kulit selaput getar yang dibentuk menyerupai lingkaran yang telah diberi beberapa lubang pada beberapa bagian pinggirnya. Pada lubang tersebut dipasang rotan tambit yang terbuat dari belahan rotan yang agak besar. Anyaman tambit ini disebut anyaman pelimping. Lebih kurang satu jengkal dari mulut katambung, dianyam helai-helai rotan yang membentuk anyaman saluang sarak yang dibentuk sedemikian rupa dengan memasukkan baji yang berfungsi untuk mengencangkannya dan sekaligus mengencangkan kulit selaput getar. Anyaman saluang sarak ini biasanya menggunakan rotan irit yang halus. Baji-baji pengencang ini biasanya terbuat dari kayu keras seperti kayu ulin atau tanduk.

Untuk mengatur panjang-pendeknya getaran pada kulit membran, dipasang biji-biji dempul (sebesar telur cecak) yang berbentuk kelerang-kelereng kecil. Dempul tersebut dipasang melingkari sebuah titik yang dianggap sebagai pusatnya. Cara merekatkannya pada kulit membran cukup dengan menekannya. Setelah kulit terpasang pada tempatnya dan telah dikencangkan dengan tambit dan baji, maka pembuatan katambung pun selesai. Selanjutnya, tinggal menambah sifat magisnya yakni dengan menggantungkan penyang-penyang pada saluang sarak.

Teknik Menabuh Katambung
Agar katambung mengeluarkan bunyi yang indah, ada tekniknya, yaitu kulit membran dipukul dengan jari-jari tangan kanan, sementara tangan kiri memegang badan katambung atau diletakkan di atas pelimping dengan dengan posisi jari-jarinya menjulur ke depan (menjuntai ke bawah permukaan kulit membran). Hal ini dimaksudkan ,jika sewaktu-waktu diperlukan, dapat dilakukan dengan mudah (biasanya meredam bunyi atau menghentikan getaran membran). Sedangkan, bagian tengah katambung cukup hanya dengan disanggah.

Katambung biasanya dimainkan dalam bentuk kelompok yang beranggotakan 5--7 orang. Pemimpinnya, oleh masyarakat setempat, disebut "upu". Seorang upu biasanya dibantu oleh basir yang duduk di kiri-kanannya. Saat sedang memainkannya, adakalanya seorang upu menyanyi sendiri, sementara para basir hanya diam atau membunyikan katambung. Akan tetapi, adakalanya mereka secara serentak menyambut dengan mengulangi bait-bait (syair) yang telah diucapkan oleh upu. Cara menabuh atau memukul membran dilakukan menurut irama atau pukulan-pukulan tertentu yang disesuaikan dengan syair mantra/doa yang diucapkan atau dilakukan oleh penabuhnya.

Penggunaan Alat Musik Katambung
Katambung digunakan pada upacara yang berkaitan dengan upacara gawi belom (memotong pantan) dan gawi matey. Pada upacara gawi belom, katambung digunakan untuk mengiringi penyambutan tamu. Sedangkan pada gawi matey, katambung ditabuh pada saat upacara tiwah (kematian), termasuk pada upacara balian ngarahang tulang (mengangkat tulang belulang), balian tantulak (penguburan), balian untung (upacara syukuran setelah penguburan maupun mengangkat tulang-belulang). Tulang belulang yang sudah diangkat dimasukkan ke dalam guci kemudian diletakkan di dalam suatu rumah kecil yang dibuat memakai tiang penyanggah.

Sumber Info: http://dayak-artmusic.blogspot.com

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker