Motif Kain
Motif Kain
Motif Kain Banten Baduy
KAIN TENUN TRADISIONAL KHAS SUKU BADUY
- 7 Agustus 2018

Kerajinan tangan biasa menjadi ciri khas tradisional yang identik dengan daerah tertentu. Dengan diversitas budaya yang kita punyai, Indonesia memliki beragam macam kerajinan tangan. Salah satu yang ingin saya bahas berdasarkan pengalaman kunjungan saya adalah kerajinan tangan khas suku Baduy dari daerah Pegunungan Kendeng, Banten.

Kain tenun khas Suku Baduy merupakan kerajinan tangan tradisional dari Desa Kanekes, Lebak, sebuah desa terpencil yang merupakan daerah asal mereka. Kain ini dapat digunakan sebagai pakaian adat, ikat kepala, taplak meja, dekorasi rumah, maupun busana modern pada umumnya.

Kain ini ditenun oleh kaum perempuan sebagai salah satu mata pencaharian mereka. Proses pembuatan kain ini dapat berlangsung dari berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, sehingga harganya pun juga berbeda-beda yang dijual di sepanjang toko-toko desa mereka untuk para wisatawan yang berkunjung.

Saya sendiri sempat menyaksikan betapa rumitya proses pembuatan kain ini, dimulai dari pemintalan kapas, hingga menjadi benang untuk menenun. Semua proses sangatlah alami, tanpa adanya bantuan mesin jahit. Ini dikarenakan cara hidup suku Baduy dalam yang memegang teguh aturan adat dan tidak mau tersentuh oleh peradaban modern.

Kain tenun ini memiliki filosofi tersendiri. Untuk suku Baduy dalam, terdapat warna yang mendominasi, yaitu putih, dan ada juga warna hitam. Motifnya pun sangat sederhana, tidak dicampur dengan warna-warna lain. Bagi mereka, putih melambangkan kesucian tanpa adanya noda dari pengaruh luar. Namun, untuk suku Baduy luar, yang gaya hidupnya lebih modern, warnanya lebih beragam. Warna biru tua adalah warna yang paling sering dipakai kaum Baduy luar, tetapi ada juga warna lain seperti merah, hijau, dan biru muda. Yang membedakan dengan kain kaum Baduy dalam adalah adanya motif warna-warni yang terinspirasi dari alam.

Maka dari itu, marilah kita menjaga eksistensi budaya yang unik dan menarik ini dengan membeli kain tenun mereka. Dengan adanya kontribusi materil dari kita, mereka dapat menjaga keberlangsungan hidup mereka lebih lama, mengetahui ancaman kepunahan budaya karena globalisasi sudah semakin dekat.

Untuk membeli kain tersebut, kalian dapat mengunjungi kawasan pariwisata Kampung Baduy di Desa Kanekes, Lebak, Banten. Akses kesana sebenarnya tidaklah mudah, karena desa tersebut terletak di daerah dataran tinggi. Maka, pemandu dari sana mungkin dibutuhkan. Namun, apabila tidak berkenan untuk berkunjung, kalian juga dapat membeli melalui salah satu penduduk sana via telfon / sms. Uniknya lagi, apabila yang mengantar kaum Baduy dalam, mereka rela berjalan kaki dari rumah mereka menuju alamat kita, tanpa memakai alas kaki ataupun angkutan umum!

OSKMITB2018

Oleh: Muhammad Nadhif Adristia Noegroho 19918127 SAPPK-G

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker