Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Bangunan Rumah Tradisional Papua Asmat
Jew
- 7 Juli 2015

Sebuah rumah yang cukup besar tampak berdiri kokoh diantara pepohonan di pinggir sungai. Bentuknya memanjang dan memiliki pintu masuk lebih dari satu. Tangga sederhana pun berjajar rapi sebagai jalur masuk di depan pintu rumah. Pondasi kayu-kayu besi tertancap kuat membuat rumah itu terlihat megah dari kejauhan. Rumah itu adalah Jew, atau biasa dikenal sebagai rumah bujang suku Asmat.

Alasan disebut sebagai rumah bujang adalah karena yang tinggal di rumah itu adalah kaum laki-laki yang belum menikah. Namun demikian, rumah panjang tersebut dapat digunakan oleh seluruh penduduk di sekitarnya, terutama oleh kaum pria karena dianggap sebagai pemimpin dalam keluarga masing-masing. Biasanya, Jew atau rumah bujang ini menjadi tempat berkumpul bagi para pemuka adat dan pimpinan desa suku Asmat. Mereka mengadakan rapat desa, penentuan strategi perang, pesta adat, penyambutan tamu, dan segala kegiatan yang sifatnya tradisi di dalam rumah adat khas Asmat ini.

Setiap desa di suku Asmat umumnya mempunyai satu Jew di desanya. Fungsi Jew yang kurang lebih mirip balai desa membuat Jew benar-benar dibutuhkan masyarakat Asmat. Di dalam Jew, terdapat beberapa tungku yang jumlahnya menyesuaikan jumlah keluarga yang ada dalam satu desa Asmat. Bila desa tersebut memiliki 10 keluarga, maka jumlah tungku api dalam Jew tersebut adalah 10 buah. Tungku ini akan menjadi tempat tiap keluarga berkelompok apabila ada rapat besar desa dalam Jew.

Jew dibangun dengan bahan-bahan alami yang didapat dari alam. Suku Asmat percaya, bahwa leluhur mereka dan alam telah bersinergi dan menyediakan kebutuhan mereka dalam membangun Jew. Atap rumah dibuat dari daun nipah dan daun sagu, begitu juga dengan dinding yang terbuat dari anyaman daun sagu. Pondasi Jew menggunakan kayu besi yang kuat dan tahan air, mengingat suku Asmat hidup di daerah rawa dan pesisir laut. Hal lain yang unik adalah struktur dan rangka Jew yang sama sekali tidak menggunakan paku besi dalam proses pembangunannya. Suku Asmat mengandalkan tali rotan sebagai pengikat sambungan antar kayu dari struktur rangka Jew. Walau demikian, kekuatan bangunan Jew tidak perlu diragukan lagi, Jew buatan suku Asmat tetap mampu berdiri tegak sekalipun badai menerjang.

Panjang Jew pun beragam, kisarannya antara 10 hingga 10 meter. Panjang ini akan menyesuaikan jumlah tungku yang ada di dalamnya, begitu pula dengan jumlah pintu yang disediakan. Jadi, apabila keluarga dalam desa tersebut banyak, maka Jew akan semakin panjang dan memiliki banyak pintu. Ukuran lebar dan tinggi akan menyesuaikan panjang Jew, hal ini disesuaikan secara proporsional. Uniknya, semua ukuran dan proses pembangunan ini masih diatur dalam tradisi kehidupan suku Asmat hingga jaman modern seperti sekarang ini.

Bicara tentang Jew atau rumah Bujang, maka kita juga akan berbicara mengenai aturan-aturan yang terdapat dalam kehidupan suku Asmat. Keberadaan Jew yang dianggap sakral menjadi salah satu contoh dari sekian banyak aturan adat yang harus dipelajari dan ditaati oleh suku Asmat. Posisi Jew yang harus menghadap sungai, ukuran dan aturan pembuatan Jew, benda-benda keramat yang disimpan di dalam Jew (misalnya: tombak, panah berburu, atau Noken, sejenis tas anyam khas Papua), atau kepercayaan bahwa leluhur selalu menjaga Jew adalah beberapa contoh aturan serta tradisi yang memaknai berdirinya sebuah Jew.

Hampir semua aspek kehidupan suku Asmat terkait dengan keberadaan Jew di setiap desa. Segala aturan dan sistem kehidupan setiap desa dalam suku Asmat dimulai dari dalam Jew. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya Jew bagi suku Asmat. Selain itu, tradisi Jew sangat perlu kita lestarikan karena sarat akan nilai-nilai kehidupan yang dapat dipelajari sebagai kekayaan bangsa Indonesia hingga generasi masa depan nanti.

 

 

Sumber: http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/jew-rumah-bujang-suku-asmat

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Resep Ayam Ungkep Bumbu Kuning Cepat, Praktis untuk Masakan Harian
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...

avatar
Apitsupriatna