Ritual
Ritual
Ritual Jawa Timur Banyuwangi
Jaran Goyang

Jaran Goyang

 

AJIAN Jaran Goyang, konon merupakan jenis ilmu pelet paling dahsyat yang ada di tlatah Bumi Blambangan. Menurut penuturan para sesepuh dan budayawan Banyuwangi, ajian tersebut hanya bisa dinetralkan atau disembuhkan oleh si pemilik ajian atau yang mengirim ajian tersebut kepada sasarannya. Begitu dahsyatnya ajian Jaran Goyang itu, sehingga siapa pun yang terkena akan mengalami kasmaran yang begitu mendalam dan berperilaku seperti orang gila.

 

Untuk menggambarkan kedahsyatan ajian tersebut, sampai-sampai ada unen-unen (kata-kata atau peribahasa, red.) yang biasa digunakan masyarakat Using Banyuwangi untuk menyebutnya. Unen-unen tersebut berbunyi Dhung keneng Jaran Goyang, ukure nyuwun gumbal, yang bila diterjemahkan secara bebas kurang lebih berarti: kalau terkena ajian Jaran Goyang, pendek kata orang akan lupa diri seperti orang gila. Personifikasi orang gila di sini digambarkan dengan kata-kata nyuwun gumbal atau membawa gombal yang diletakkan di atas kepala. Mengerikan sekali!

 

Dan itu ternyata bagian dari kultur masyarakat Using yang oleh budayawan Hasnan Singodimayan disebut sebagai sebuah bentuk resistensi. Kenapa harus begitu? Konon, Jaran Goyang hanya akan digunakan bila seseorang merasa dihina, dilecehkan atau dipermalukan oleh lawan jenis yang ditaksirnya.

 

Di balik keangkeran Jaran Goyang itu, ternyata tersirat sebuah makna filosofis yang begitu mendalam, yaitu orang akan membalas bila disakiti orang lain. Sederhananya, bila akan menolak cinta seseorang, hendaknya disampaikan dengan cara yang baik dan penuh pengertian, sehingga tidak sampai membuat sakit hati orang yang ditolak cintanya.

 

Sejak beberapa tahun silam, prosesi Jaran Goyang itu telah berhasil diangkat ke dalam sebuah fragmen tari tradisional yang diberi judul sama. Tarian yang diciptakan oleh koreografer Sumitro Hadi tersebut, selama ini cukup berhasil membayangi ketenaran tari Jejer Gandrung. Dan ketika tari tersebut disuguhkan di hadapan Konsul Itali, Mr Giuseppe Confessa dan Konsul Swiss, Mr Jon Zurcher saat mereka berkunjung ke Banyuwangi beberapa waktu lalu, mereka pun dibuatnya terperangah. Apalagi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Drs H Hadi Sucipto, MM, yang mendampingi keduanya dalam acara ramah-tamah yang digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan tersebut, dapat menjelaskan secara rinci tentang latar-belakang kultur budaya yang diangkat sebagai tema tarian tersebut.

 

Jaran Goyang Itu Jahat

 

Menurut budayawan dan sejarawan (Alm) Hasan Ali, dari sekian banyak ilmu pelet yang ada di Banyuwangi, konon yang paling hebat dan pengaruhnya sangat luar biasa adalah jenis pelet Jaran Goyang ini. Ilmu pelet jenis ini termasuk yang paling kuno dan klasik. Dari pengaruhnya yang luar biasa itulah, ilmu ini kemudian lebih banyak digunakan orang untuk membalas dendam karena sakit hati.

 

Menurut penuturan orang-orang yang faham tentang seluk-beluk ilmu pelet yang tergolong “kelas berat” ini, hanyalah orang yang “membuat” atau yang “mengirimkan” saja yang bisa menetralisirnya. Dan umumnya, ini akan memakan waktu relatif lama, sampai si pemilik dendam tersebut merasa puas karena rasa sakit hatinya sudah terbalas.

Di beberapa desa yang termasuk kantong-kantong masyarakat Using, lontaran kata-kata bernada ancaman seperti: “dhung wani ngenyek, ukurane nyuwun gumbal” atau dalam terjemahan bebas berbunyi: “kalau sampai berani menghina, pasti akan menjadi gila”, kadangkala masih sering terdengar. Bagi masyarakat luar, ungkapan-ungkapan seperti itu memang terdengar amat mengerikan. Maka tidaklah mengherankan kalau akhirnya Banyuwangi lebih terkenal karena hal-hal yang mistis dan misterius seperti itu.

 

Kalangan masyarakat Using sendiri menganggap bahwa ilmu pelet Jaran Goyang adalah semacam ilmu pamungkas yang terpaksa digunakan bila seseorang merasa cintanya ditolak dengan cara yang sangat hina. Jadi pelet Jaran Goyang lebih merupakan alat untuk membalas dendam karena sakit hati. “Terus terang, saya memang tidak begitu percaya pada hal-hal seperti itu. Tapi saya sangat yakin bahwa ilmu-ilmu semacam itu memang ada. Bahkan dengan mata-kepala sendiri, saya pernah melihat orang yang terkena ajian Jaran Goyang. Pengaruhnya memang dahsyat sekali, sehingga orang yang terkena itu sudah benar-benar lupa diri seperti orang gila,” ungkap hasan Ali mengawali penuturannya.

 

Pada sekitar tahun 1947 – 1948, sewaktu ia tinggal bersama orang tuanya di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, ia sempat menyaksikan ada seorang perempuan tetangganya yang berlaku layaknya orang gila. “Seperti layaknya orang gila, perempuan itu selalu menangis sambil nggandhang (melantunkan gending-gending, red.). Dan gending-gending yang dilantunkannya itu terdengar seperti meratap-ratap, dengan nada yang sangat memilukan. Menurut para tetangga, perempuan itu terkena ajian Jaran Goyang. Padahal waktu dalam keadaan masih normal, saya tahu betul kalau perempuan itu tidak bisa nggandhang. Tapi begitu terkena Jaran Goyang, ia bisa nggandhang dengan bagus dan suaranya terdengar menyayat perasaan. Mulanya saya memang tidak percaya. Tapi saya melihat sendiri bagaimana tingkah-laku orang yang terkena ajian Jaran Goyang itu. Ternyata sangat dahsyat dan jahat!,” tutur Hasan Ali.

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu