Jangut ngkurik adalah bahasa daerah Gayo yang terdiri atas 3 kata, yaitu jangut berarti bulu, ng berarti nya, dan kurik berarti ayam. Jadi, jangut ngkruik berarti bulunya ayam atau tepatnya bulu ayam. Permainan ini dinamakan demikian karena bahan baku utamanya adalah bulu ayam. Bulu-bulu ayam dimasukkan ke dalam bambu kecil, sehingga bila bambu tersebut dipukul pada bukunya, jangut ngkurik yang ada di dalamnya melayang ke udara.
Para pemain berdiri melingkar pada suatu lapangan, dan di tengah-tengah berdiri seorang sebagai pembagi bola jangut ngkurik yang di dalam bahasa daerah ini disingkat dengan bal. Pembagi tersebut tugasnya membagi bal kepada setiap pemain. Pemain yang gagal mengembalikan balnya kepada pembagi harus menerima hukuman dan bertindak sebagai pembagi bal yang berdiri di tengah lingkaran.
Sejarah
Permainan ini dari dahulu sampai sekarang keadaannya tidak berubah, baik mengenai aturan maupun penyempurnaan bal. Kedudukannya sudah terdesak permainan bulu tangkis, sungguhpun yang terakhir ini adalah permainan mahal. Dalam melaksanakan permainan ini, kegembiraan dan kepuasan pemain tampak dengan jelas. Menurut orang-orang tua, permainan ini asli dari daerah ini.
Waktu Pelaksanaan
Permainan ini dilakukan bila akan merayakan Maulid Nabi Muhammad saw saja. Di daerah ini diadakan di mersah (menasah = langgar = surau) yang dihadiri seluruh penduduk kampung dan undangan dari kampung lainnya. Dua atau tiga hari sebelum perayaan diadakan, penduduk yang akan mengadakan perayaan secara serentak membawa seekor ayam ke mersah untuk disembelih oleh tengku. Pada hari-hari tersebut dapat disaksikan berpuluhpuluh ayam bergelimpangan di mersah. Anak-anak tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka mengumpulkan bulu-bulu tersebut untuk dibuat mainan. Mainan tersebut bermacam-macam, antara lain jangut ngkurik. Pada saat inilah permainan tersebut berlangsung dan dapat dikatakan umur permainan ini hanya seminggu saja. Setelah perayaan selesai, selesai pulalah permainan ini.
Pemain
Pemain atau pelaku. Peserta adalah anak lelaki dan wanita, tetapi tidak dibenarkan permainan campuran. Umur peserta kira-kira 5-12 tahun. Pakaian dapat seadanya dan tidak mengikat, sedangkan atribut yang dipakai selain bal tidak ada.
Jalan Permainan
Aturan permainan adalah sebagai berikut:
beregu).
Untuk per Seorangan
Dua orang anak berdiri berhadapan dengan anak jarak kira-kira 5 – 10 langkah. Seorang memukul bal yang ditujukan ke arah lawannya, dan lawannya merigembalikan kepadanya.
Setelah bal mati, diangkat lagi dan permainan dimulai lagi. Permainan model ini tidak ada hitungan, tidak ada pemenang, dan bila sudah lelah berhenti bermain.
Permainan Beregu
Regu yang sudah bermufakat untuk bermain, membuat sebuah lingkaran menurut banyaknya peserta. Di tengah-tengah berdiri seorang anak yang kalah undian (pertama kali) sebagai pembagi bola. Masing-masing peserta memegang sebuah penggues (raket).
Misalkan ada 9 orang peserta, masing-masing nomor 1,2,3,9. Pembagi bal adalah nomor 1. Pemain lainnya berdiri pada lingkaran dengan menghadap ke tengah. Mula-mula pembagi membuang bal ke arah peserta nomor 2. Pemain nomor.2 ini mengembalikannya kepada pembagi. Kemudian pembagi membuangnya ke arah pemain nomor 3, dan seterusnya. Bila misalnya pemain nomor 8 gagal mengembalikan bal kepada pembagi, maka pemain nomor 8 tersebut menjadi pembagi, dan nomor 1 mengambil alih tempat nomor 8. Begitulah seterusnya.
Permainan ini juga tidak pernah mencari pemenang karena tidak pernah dihitung. Bila permainan sedang berlangsung kemudian ada seorang anak yang ingin masuk/ikut serta maka dia diharuskan untuk mengadakan sut dengan pembagi tadi. Yang kalah menjadi pembagi, sebaliknya bila ada pemain yang berhenti, maka pembagi tetap yang tadi juga. Jadi, yang dicari dalam permainan ini hanya kegembiraan dan kepuasan saja tanpa menentukan pemenang.
Referensi:
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...