Alkisah, di sebuah desa tinggallah seorang janda dan dua anak laki-lakinya. Oleh penduduk desa, sang ibu dipanggil Indu Palui, sebab anaknya yang sulung bernama Palui.
Setiap hari Indu Palui bekerja di kebun sayur yang terletak di pekarangan belakang rumahnya sambil momong anak bungsunya. Berkat tangan dinginnya, tanaman di kebun itu tumbuh subur sehingga ada saja sayuran yang bisa dijual di pasar.
Indu Palui sangat menyayangi kedua anaknya, terutama Palui. Akibatnya, Palui tumbuh menjadi anak yang pemalas.
Suatu hari, Indu Palui sedang berada di kebunnya untuk menyiangi rumput liar yang tumbuh di antara tanaman sayurnya. Tiba-tiba ia menemukan dua ekor sangkalap montak, yaitu belalang yang berukuran sangat besar dan biasa dimakan sebagai pengganti daging.
Indu Palui sangat senang karena belalang itu bisa dimasak untuk dijadikan makan siang mereka bertiga. Bergegas dibawanya kedua belalang itu ke dapur rumah dan mengurungnya dalam sangkar kayu kecil.
Melihat belalang besar yang ditemukan ibunya, timbul rasa lapar Palui untuk memakannya. Dia mencari cara agar dapat menikmatinya tanpa dimarahi ibunya.
Palui berjingkat-jingkat menghampiri adiknya yang sedang asyik bermain di dekat dapur. Diambilnya ketapel dari saku celananya dan dilontarkan sebuah batu kecil ke arah adiknya. Plak! Batu mendarat di kepala adik Palui. Sang adik menangis kesakitan.
“O, Palui! Kenapa adikmu menangis?” teriak Indu Palui.
“Adik menangis karena ingin memakan sangkalap montak itu, Umai.”
“Kalau begitu, masak saja untuk makan siang kita.”
“Baiklah, Umai!” jawab Palui gembira.
Bergegas Palui memasak kedua belalang itu. Setelah selesai, ia memberikan bagian kepala dan sayap pada adiknya. Untuk dirinya, ia mengambil bagian dada berdaging. Palui makan dengan lahap dan lupa menyisakan untuk ibunya.
Siang hari, Indu Palui masuk ke rumahnya. Ia merasa lelah dan lapar. Segera ia ke dapur dan mencari belalang yang dimasak oleh anaknya. Namun, ia tidak menemukan makanan yang dicarinya.
“Lui, Palui! Di mana kamu simpan masakan sangkalap montaknya? Umai ingin makan.”
“Sudah kami makan, Umai,” jawab Palui acuh tak acuh.
“Kalau begitu, bekasnya pun tak apa, Nak. Umai hanya ingin merasakan sedikit saja sangkalap montak itu.”
“Ya ampun, Umai. Palui, kan, sudah bilang makanannya habis,” jawab Palui kesal.
Alangkah kecewanya hati Indu Palui begitu tahu tak ada secuil pun makanan yang disisakan baginya.
Merasa sangat sedih, Indu Palui pergi ke hutan untuk menemui Batu Manganga, yaitu batu yang sakti dan bisa berbicara. Batu Manganga berukuran sangat besar. Batu ini memiliki rongga yang berbentuk seperti mulut sehingga bisa menelan manusia.
“Sungguh malang nasibku. Hidup menjanda, Palui anakku tidak menyayangiku. Apalah gunanya aku hidup lagi. Telan saja aku, wahai Batu Manganga,” ratap Indu Palui di depan Batu Manganga.
Mendengar tangisan Indu Palui, Batu Manganga iba, lalu menelan Indu Palui.
Sementara itu, di rumah adik Palui menangis mencari ibunya yang tak kunjung datang. Tak tahan mendengar adiknya menangis, Palui pergi mencari ibunya hingga ke pelosok desa. Namun, hingga petang ia tidak bisa menemukan ibunya. Palui bingung. Tanpa ibunya ia tak bisa berbuat apa-apa.
Timbul rasa bersalah dalam diri Palui. Bersama adiknya, ia mencari sang ibu ke hutan. Sampailah mereka di tempat Batu Manganga.
“Tuan Batu Manganga, adakah kau melihat ibu kami?
Meski mulutnya tertutup, terdengar suara dari arah Batu Manganga. “Siapa namamu?”
“Saya Palui. Saya mencari ibu yang tak pulang semenjak siang.”
Mendengar itu, tahulah Batu Manganga bahwa wanita yang ditelannya tadi adalah ibu dari dua anak itu.
“Ho, rupanya kamu si anak durhaka itu! Ibumu sudah aku telan!” ujar Batu Manganga.
“Ampun, Tuan. Saya sangat menyesal telah membuat ibu bersedih. Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi. Tolong keluarkan ibu kami,” kata Palui tersedu-sedu.
“Aku tidak bisa!” sahut Batu Manganga. “Ibumu sendiri yang memintaku untuk menelannya. Hanya mantra dari tiga pertapa sakti yang bisa mengeluarkan ibumu. Temuilah Indu Bubut, Indu Ampit, dan Indu Balida!”
Segera Palui menemui ketiga pertapa sakti yang memang bertapa tak jauh dari tempat Batu Manganga.
Untunglah ketiganya mau membantu Palui, dengan syarat Palui harus bersungguh-sungguh mengubah sifatnya serta mau membantu ibunya mencari nafkah.
Mantra pertama diucapkan oleh Indu Bubut. “But, but, but! Majuhut Indu Palui bara rumbak Batu Ngangaaa!”
Ajaib! Keluarlah kedua tangan dan ujung kaki Indu Palui.
Indu Ampit menyambung dengan mantranya, “ Pit, pit, pit…! Majijit Indu Palui bara rumbak Batu Ngangaaa!”
Separuh badan Indu Palui keluar dari mulut Batu Manganga.
Terakhir, mantara dari Indu Balida. “Da, da, da! Manunda Indu Palui bara rumbak Batu Ngangaaa!”
Akhirnya, keluarlah Indu Palui dari dalam Batu Manganga tersebut.
Bukan main senangnya hati Palui dan adiknya. Mereka segera memeluk sang ibu. Palui meminta maaf atas perbuatannya pada ibunya.
Sejak itu, Palui menjadi anak yang rajin dan penyayang. Perubahan sikapnya membuat Indu Palui gembira. Mereka hidup bahagia bersama.
Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/indu-palui-ditelan-batu-manganga/
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...