Itak Tata merupakan makanan tradisional khas Batak Toba yang dibuat pada acara adat tertentu. Itak dalam bahasa Batak Toba artinya beras yang telah dihaluskan hingga menyerupai tepung. Tata dalam bahasa Batak Toba artinya mentah atau tidak dimasak. Itak tata terbuat dari dua bahan utama yaitu beras dan kelapa. Bentuknya terbilang unik karena itak ini berbentuk kepalan jari tangan manusia. Rasanya hampir sama dengan makanan tradisional khas Batak Toba lainnya, Lampet (baca: lappet), yaitu manis dan gurih. Meskipun sebagian orang Batak Toba berpendapat bahwa itak yang terlalu manis itu itidak enak. Bahan tambahan lainnya adalah gula pasir dan sedikit garam untuk menambah cita rasa. Itak Tata ini biasanya dibuat pada acara seperti memasuki rumah baru maupun acara syukuran kecil-kecilan. Ada juga beberapa orang yang menambahkan bahan opsional seperti gula merah yang telah dicairkan dan ada sebagian orang yang memilih untuk mengukus adonan itak terlebih dahulu sebelum dicetak. Itu sebabnya itak tata juga dikenal dengan nama itak gurgur. Gurgur dalam bahasa Batak Toba artinya masak atau membara. Yang melambangkan semangat yang membara. Cara membuat itak tata tergolong mudah, yaitu cukup dengan menghaluskan beras. Sebelum dihaluskan, beras terlebih dahulu direndam dengan air selama beberapa jam. Kemudian ditiriskan dan dikeringkan. Setelah kering barulah beras dapat dihaluskan dengan cara digiling atau ditumbuk secara manual. Kemudian memarut kelapa. Kelapa yang digunakan adalah kelapa yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Kedua bahan tersebut lalu dicampurkan dan diaduk secara merata. Tambahkan gula pasir dan garam secukupnya. Aduk semua bahan hingga merata dan terbentuk adonan itak. Adonan tersebut kemudian dicetak secara manual dengan kepalan tangan berisi adonan itak. Kemudian adonan itak akan berbentuk seperi kepalan jari tangan dan siap untuk dinikmati.
sumber foto: https://deskgram.org/p/1781248414829221206_7276795456
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara