ÏTuTuing adalah seorang anak laki-laki yang kulitnya bersisik seperti ikan terbang. Ia tinggal bersama orang tuanya di sebuah desa di daerah Mandar, Sulawesi Barat.
Dalam bahasa Mandar, tui tuing berarti ikan terbang. Dulu, sebelum I Tui Tuing lahir, orangtuanya sudah lama menantikan kehadiran seorang anak. Mereka berdoa dikarunia anak, meskipun ia menyerupai ikan terbang.
Lalu, ibunya hamil dan melahirkan I Tui Thing, ayahnya pun menerima dengan hati lapang. "Ini memang permintaan kita Bu, kita tidak boleh bersedih. Kita harus menerima dan merawat anak ini dengan baik," katanya pada istrinya.
Bertahun-tahun kemudian, I Tui Tuing tumbuh besar. Orang tuanya sangat menyayanginya, segala permintaan I Tui Tuing selalu dipenuhi. Meski demikian, I Tui Tuing bukanlah anak yang manja. Ia selalu membantu ayah nya berlayar ke Teluk Mandar dan juga rajin membantu ibunya enyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
Suatu hari, I Tui Tuing berkata, "Ayah, Ibu, sekarang aku telah dewasa. Usiaku sudah cukup untuk berumah tangga. Maukah kalian mencarikan istri untukku?"
Ayah dan ibu I Tui Tuing terkejut. Tapi, mereka berusaha bersikap tenang, "Anakku, Iihatlah keadaan dirimu. Seluruh kulitmu penuh sisik, Ayah takut tak ada gadis yang menerima pinangan kami," jawab ayahnya.
"Kenapa Ayah tak mencobanya dulu? Aku tak muluk-muluk, gadis itu tak perlu cantik. Yang penting ia mau menerima keadaanku dan bersedia hidup bersamaku," jawab I Tui Tuing. Dengan berat hati, orangtua I Tui Tuing mencoba memenuhi keinginan anak semata wayangnya itu.
"Apa? Kau sungguh menghina putriku! Kau kira kami sudi punya menantu seperti anakmu itu?" teriak salah satu keluarga saat orangtua I Tui Tuing berkunjung untuk meminang putrinya. "Keterlaluan! Keluar kalian dari rumahku! Putriku hanya akan bersanding dengan pemuda yang tampan dan kaya!" teriak keluarga yang lain.
Seharian itu orangtua I Tui Tuing mendatangi setiap rumah yang memiliki anak gadis. Namun hanya hinaan dan cercaan yang mereka terima. Dengan putus asa, mereka pulang ke rumah. "Maafkan kami Nak, kami sudah berusaha. Tak ada yang merelakan putrinya menikah denganmu," kata ibunya.
"Ayah, Ibu, apakah kalian sudah mendatangi semua anak gadis di desa ini?" tanya I Tui Tuing.
Ayahnya rnenggeleng, "Belum Nak, kami suah Ielah rnendengar hinaan-hinaan mereka. Memang ada satu rumah yang belum kami dutangi, yaitu Juragan Kaya. Ayah rasa percuma saja, karena mereka juga pasti akan menghina Ayah." I Tui Tuing tetap rneminta orangtuanya agar mendatangi rumah Juragan Kaya. "Mereka punya enam putri, aku yakin salah satu di antara mereka mau menikah denganku," kata I Tui Tuing mantap.
Keesokan harinya, orangtua I Tul Tuing bertamu ke rumah Juragan Kaya. Ia memiliki enam anak gadis yang cantik-cantik, namun berhati dengki. Hanya satu yang berhati baik, yaitu putri ketiga yang bernama Siti Rukiah.
Siti Rukiah dibenci oleh saudara-saudaranya. Selain hatinya baik, ia juga berparas cantik. Saudara-saudaranya iri dengan kecantikannya. Mereka tak ingin pemuda di desa itu menyukai Siti Rukiah. Itulah sebabnya, mereka mengoleskan bedak dari arang ke wajah Siti Rukiah setiap hari agar wajahnya tampak hitam clan mengerikan.
Kedatangan orangtua I Tui Tuing disambut baik oleh Juragan Kaya. Namun tidak dengan putri-putrinya. Berbagai hinaan mereka lontarkan, kecuali Siti Rukiah. "Jika tak ada yang mau menikahi I Tui Tuing, aku bersedia," katanya. Juragan Kaya terkejut, namun ia tak melarang.
Semua saudara Siti Rukiah bertepuk tangan gembira.
Mereka senang karena Siti Rukiah menikah dengan pria bersisik dan akan keluar dari rumah mereka. Pesta pernikahan pun digelar. I Tui Tuing sangat bahagia.
Keesokan paginya, I Tui Tuing pergi berlayar. Selama kepergian suaminya, Siti Rukiah memasak dan mencuci, kemudian mandi. Ia ingin membersihkan semua arang yang masih tersisa di wajahnya. Ya, saat pesta pernikahan, saudara-saudaranya masih mengoleskan bedak arang ke wajah Siti Rukiah.
Usai mandi, ia masuk ke kamar untuk merias diri. Saat sedang menyisir rambut, ia mendengar pintu depan terbuka. "Siapa itu?" tanyanya sambil melangkah keluar. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang pria tampan berkulit bersih di ruang depan. "Siapa kau?"tanya Siti Rukiah ketakutan.
"Kau juga siapa?" tanya pria itu. Keduanya saling bertukar pandang dengan heran. Setelah mereka mengamati satu sama lain, ternyata pria itu adatah I Tui Tuing. Kulitnya sekarang halus dan tak bersisik. Rupanya keajaiban dari Tuhan telah menghilangkan sisik di kulitnya. "Selama ini aku bersisik karena orangtuaku meminta pada Tuhan untuk dikaruniai anak, meskipun bersisik seperti ikan terbang. Namun setetah menikah denganmu, sisik itu hilang," I Tui Tuing berusaha menjelaskan.
Siti Rukiah ternganga mendengar penjelasan suaminya. "Lalu, mengapa wajahmu tak hitam lagi? Rupanya istriku adalah seorang wanita yang cantik," tanya I Tui Tuing lagi.
Kini giliran Siti Rukiah menjelaskan kalau selama ini saudara-saudaranya telah mengoleskan bedak arang ke wajahnya. I Tui Tuing segera memeluk istrinya, "Aku sungguh bahagia, punyai istri yang baik hati dan berparas cantik," katanya. Suami-istri itu hidup rukun dan bahagia.
Sumber: http://dongengceritarakyat.com/dongeng-anak-anak-indonesia-kisah-i-tui-ting/
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...