Ritual adat minta berkat leluhur (Husu Matak Malirin, Husu Is no beran) yang dilakukan Suku Laka Amanas di puncak Gunung Mandeu, Desa Mandeu Raimanus, Kecamatan Raimanuk memiliki nilai budaya tak terhingga. Ini mesti dijaga dan dilestarikan oleh anak cucu yang masih ada dan menyakininya.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belu, Johanes Andes Prihatin kepada Pos Kupang di sela rapat koordinasi (rakor) pembangunan pariwisata Belu di Hotel Nusantara II Atambua, Senin (20/11/2017) mengatakan, Pemerintah Kabupaten Belu saat ini sedang gencar melakukan promosi di sektor pariwisata.
Terakhir, Pemkab Belu baru saja menggelar Festival Fulan Fehan yang sukses meraih Rekor Muri sebagai pagelaran likurai dengan peserta terbanyak mencapai 6.000 orang di Padang Fulan Fehan.
Menurut Johanes, tren wisata dunia saat ini cenderung back to nature ikut menjadi faktor pendorong.
Dengan promosi melalui kemasan yang baik dan sentuhan entertain, katanya, tradisi Suku Laka Amanas ini bisa dikemas menjadi sebuah atraksi yang diharapkan menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Belu.
“Semoga ritual ini dan ritual-ritual lainnya mampu menjadi daya tarik utama pariwisata Kabupaten Belu selain keindahan alamnya,” pungkasnya.
Secara terpisah, Pejabat Kementerian Pariwisata, Dewitri Anggraini kepada wartawan usai rakor mengatakan,Pemerintah pusat sangat fokus memberi perhatian kepada daerah perbatasan.
Karena itu, berbagai program pembangunan terutama pariwisata diarahkan ke Kabupaten Belu. Potensi pariwisata yang harus dikembangkan di Belu adalah wisata alam dan budaya.
Dikatakannya, pembangunan pariwisata harus didukung dengan jalinan sinergitas semua pihak. Pariwisata adalah leading sektor, sehingga berbagai lintas sektor lain juga bisa bergerak dan memberikan peran supaya pembangunan pariwisata lebih berkembang dan mendatangkan banyak wisatawan.
Untuk diketahui, Sebagian besar warga desa yang mengelilingi Gunung Mandeu di Desa Mandeu Raimanus, Kecamatan Raimanuk meyakini leluhur mereka pernah hidup dan tinggal di puncak gunung ini.
Keyakinan ini diperkuat dengan adanya tuturan sejarah para tetuah adat dari masing-masing suku. Dan dikuatkan lagi dengan adanya bukti keberadaan leluhur seperti susunan batu menyerupai mezbah dan tiang kayu (Ksadan).
Karena menyakini leluhurnya pernah hidup dan tinggal di puncak gunung, anggota suku sering melakukan ritual adat sesuai keyakinan mereka. Ritual adat ini dilakukan dengan mendatangi tempat rumah (Uma Fatik atau Ksadan) di puncak gunung.
Seperti halnya, salah satu suku yang meyakini leluhurnya berasal dari Puncak Gunung Mandeu adalah suku Laka Amanas (Laka Amanas-Biku Barani).
Anggota suku ini sesungguhnya telah berkembangbiak dan bertambah banyak. Saat ini rumah suku berada di Dusun Oekofu, Desa Renrua atau berjarak sekitar 10 kilometer dari puncak gunung Mandeu.
Sedangkan anggota suku telah menyebar di desa-desa sekitarnya seperti Desa Mandeu Raimanus, Desa Faturika, Dua Koran dan daerah lainnya.
Bahkan dalam tutur adat disebutkan bahwa leluhur orang Malaka, Kabupaten Malaka juga berasal dari puncak gunung ini.
Baru-baru ini, Sabtu (4/11/2017) puluhan anggota Suku Laka Amanas mendatangi puncak Gunung Mandeu, tepatnya di tempat yang disebut Ksadan Malaka.
Kedatangan anggota suku ini bukan untuk sekadar jalan-jalan atau berpiknik. Melainkan datang membawa hewan berupa babi dan ayam serta niatan yang tulus untuk “meminta berkat” kekuatan dan rejeki kepada leluhur.
Dalam bahasa Tetun, ritual meminta berkat ini sering di sebut Hana’i atau ada yang menyebutnya Husu Matak Malirin (minta berkat).
Dalam kehidupan sehari-hari terkadang orang setempat menyebutnya Sa’e Foho (mendaki gunung dalam artian menuju tempat leluhur untuk minta berkat) atau ba tunu (pergi bakar/ lebih pada persembahan hewan kurban) yang bisa diterjemahkan sebagai prosesi adat meminta berkat kepada leluhur.
Tradisi ini biasanya dilakukan setahun sekali atau terkadang dilakukan jika ada anggota suku yang mendapat petunjuk melalui mimpi.
Jika ada seorang anggota suku yang mendapat petunjuk, dia akan memberitahu ketua suku atau tua adat untuk segera dilakukan ritualnya.
Anggota suku yang mendapat petunjuk ini biasanya akan menanggung hewan ternak besar (bisa babi atau sapi) untuk disembelih.
Sedangkan anggota suku lainnya hanya membawa ayam jantan yang juga nantinya akan disembelih untuk bisa “melihat” jalan kehidupan atau berkat apa yang bakal diterima. Prosesi ini disebut leno urat.
Selain hewan ternak yang dibawa, untuk kepentingan ritual, perlu ada juga jewawut yang dalam bahasa setempat disebut Tora.
Jika tidak ada jewawut/tora, sering diganti dengan sejenis padi beraroma harum (hare bauk morin). Tak lupa juga pinang dan daun sirih untuk ritualnya.
Tora atau hare bauk morin yang dibawa akan dimasak menjadi nasi dan akan dicampur dengan daging sudah dimasak tanpa garam atau bumbu apapun. Dijadikan sesembahan kepada leluhur.
Sedangkan siri dan pinang yang dibawa, akan dijadikan sebagai media untuk “memberitahu” leluhur tentang ritual adat ini.
Nantinya, setelah semua ritual selesai, sirih dan pinang akan dikunyah (dimamah) oleh tua adat untuk melakukan kaba (memberi tanda pada testa/dahi dan dada anggota suku) sembari memohon doa agar diberkati, diberi rejeki, keberhasilan dalam usaha dan dijauhkan dari kesialan atau marabahaya.
sumber: http://kupang.tribunnews.com/2017/11/20/tradisi-ritual-adat-minta-berkat-leluhur-di-gunung-mandeu-belu-punya-daya-tarik-wisata?page=all
#SBJ
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...