Hari Nelayan merupakan ritual tahunan yang diadakan di pantai Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, tepatnya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI)—atau masyarakat setempat biasa menyebutnya dengan Dermaga. Acara tahunan ini rutin diselenggarakan setiap tanggal 6 April tiap tahunnya, pada tahun 2018 tradisi sudah genap berusia 58 tahun.
Ritual ini dimulai dengan pemilihan putri dan putra nelayan yang dilakukan melalui beberapa tahap seleksi. Putri Nelayan disini mewakili Nyi Roro Kidul yang mana adalah Ratu pantai Selatan. Ritual ini bertujuan untuk memberi ucapan syukur kepada Nyi Roro Kidul sebagai penguasa pantai Selatan. Setelah terpilih putra dan putri nelayan, lalu mereka akan diarak menggunakan delman untuk berkeliling daerah Palabuhanratu. Selain itu, biasanya murid-murid TK, SD, SMP, bahkan SMA turut serta bersama rombongan putra dan putri nelayan, mereka ikut berjalan kaki menyusuri jalanan raya Palabuhanratu yang kegiatannya biasa disebut sebagai pawai.
Sementara putra dan putri nelayan diarak keliling Palabuhanratu, di Dermaga diadakanlah ritual ucapan syukur dengan cara menjatuhkan sesajen yang berupa benih ikan, bibit udang, dan tukik (anak penyu) ke tengah teluk Palabuhanratu dengan harapan hasil laut Palabuhanratu dapat bertambah setiap tahunnya. Namun, dahulu sesajennya biasanya berupa kepala kerbau, tetapi sekarang sudah diganti.
Hari Nelayan tidak berhenti di satu hari saja, tetapi kemeriahannya terus berlanjut sampai sebulan ke depan. Selama sebulan itu, di kawasan Dermaga sisi jalannya digunakan untuk berjualan, layaknya seperti pasar. Pasar ini biasanya dimulai pada malam hari. Ada banyak sekali barang-barang yang dijual disini, mulai dari pakaian, sepatu, makanan, jam, dan masih banyak lagi. Selain dengan banyaknya lapak baru itu, disini juga ada wahana permainan kecil-kecilan yang berupa bianglala, komedi putar, ombak banyu, rumah hantu, kereta api, odong-odong mini, kora-kora, pertunjukkan tong setan, dan mandi bola.
Setelah sebulan, keramaian di Dermaga perlahan-lahan redup dan para pedagang satu per satu mulai mengemasi barangnya dan menutup lapaknya. Akhirnya, Dermaga menjadi kembali seperti biasa.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara