HARE
Hare adalah makanan khas daerah Sumatra Utara yang berwujud bubur berwarna kuning. Biasanya hare disediakan dalam acara pernikahan. Rasanya yang sangat lezat membuat orang banyak memakannya sehingga hare selalu dicari di acara adat daerah Sumatra Utara. Dalam kehidupan sehari-hari hare dijual oleh seorang pedagang yang biasanya menggunakan sepeda, biasanya ditemukan di daerah pedalaman. Hare sangat mudah dibuat dan bahan-bahannya mudah didapat. Makanan yang berbahan dasar susu kerbau ini membuat orang yang mencium baunya tergoda untuk mencicipiya biasanya hare ditambahkan buah nangka untuk menambah aroma dan rasa hare. Rasa hare sedikit manis seperti perpaduan dari manis beras dan santan.
Hare sendiri sering ditemukan pada acara adat batak sehingga rasanya tidak lengkap jika dating ke acara adat batak tetapi belum mencicipi hare. Hare sendiri merupakan makanan yang paling cocok untuk menunda lapar, maka tak heran di acara adat batak hare sering habis duluan daripada makanan inti (nasi dan lauk) ditambah lagi acara adat batak berkisar selama enam jam keatas. Untuk mengusir rasa jenuh dalam mengikuti acara ada batak .
Untuk membuat hare dibutuhkan akar purbajolma, buah nangka, buah semangka, buah pisang, mentimun, kencur, kunyit, santan kelapa, susu kerbau, kaldu ayam, tepung beras, madu. Bahan-bahan tersebut sangat mudah didapatkan disekitar tempat tinggal. Faktanya hare sering disuguhkan kepada perempuan yang sulit hamil dan dipercaya dapat meningkatkan kesuburan tubuh.
Hare biasanya ditemukan di kawasan daerah pedalaman, tak hanya orang dewasa yang sering menikmati hare di acara adat batak, anak-anak juga sering menikmati hare dari pedagang yang lewat di sekitar pedalaman. Dengan harga hare yang sesuai dengan kantong anak-anak tak jarang hare menjadi jajanan favorit di kalangan anak-anak.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara