SEKALI setiap saat di Kalimantan Selatan, ada sebuah desa bernama Padang Batung. Penduduk desa adalah petani. Mereka sangat bersyukur memiliki tanah yang subur. Mereka semua hidup makmur.
Untuk menunjukkan rasa terima kasih mereka secara teratur mengadakan sebuah upacara. Itu diadakan setelah mereka panen. Mereka menamakannya Manyanggar Banua. Dalam upacara tersebut mereka menyiapkan persembahan. Makanan dan minuman diatur dengan baik sebagai persembahan.
Penduduk desa baru saja dipanen. Segera mereka akan mengadakan upacara Manyanggar Banua. Pria dan wanita, muda dan tua mulai mempersiapkan tempat mereka. Ada yang sibuk memasak dan ada yang sibuk membersihkan dan menyiapkan tempat mereka.
Semuanya telah ditetapkan. Makanan dan minuman sudah siap: Tempat mereka n'as dekan. Keesokan harinya mereka akan mengadakan upacara tersebut.
Saat itu fajar. Seseorang berteriak!
Hei! Mana makanan? Siapa yang mencuri makanan untuk persembahan? "
Orang-orang segera datang untuk melihat apa yang terjadi! Mereka semua kaget melihat sesajen mereka berantakan.
"Apa yang terjadi di sini? Siapa yang melakukan ini? Siapa yang makan makanan ini?"
Tidak ada yang tahu jawabannya.
"Kita harus menemukan siapa yang melakukan ini! Kita harus menghukum pencuri itu!"
"Ya, tapi bagaimana?" Tanya seseorang
"Saya punya ide, kami mengatur makanan dan minumannya sekali lagi Tapi kita memasukkan nasi ke dalam panci yang bocor Ketika pencuri membawa panci, kita bisa mengikuti jejak nasi."
"Ini ide bagus, ayo kita lakukan."
Kemudian penduduk desa sekali lagi mengatur penawaran mereka. Mereka memasak nasi dan memasukkannya ke dalam panci yang bocor. Mereka semua berharap bisa menangkap pencuri itu.
Mereka mengatur penawaran seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Mereka juga membersihkan kotorannya. Pada malam hari mereka semua pulang ke rumah. Di pagi hari, semua penduduk desa terbangun dan segera pergi ke tempat upacara mereka. Dan ya, tempat itu berantakan lagi. Dan panci itu hilang.
"Hei, lihat, ada nasi di sini, ayo ikuti jalannya!"
Penduduk desa dengan hati-hati mengikuti jalan setapak. Mereka tidak mau ketinggalan nasi di tanah. Jejak itu berhenti di depan sebuah gua. Penduduk desa ragu-ragu.
"Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita masuk?"
"Tidak!" Kata seorang wanita tua.
Dia melanjutkan, "Anda tahu siapa yang tinggal di sini?"
"Tidak, tolong beritahu saya siapa yang tinggal di sini."
"Ini adalah roh yang disebut Datu, sangat berbahaya jika kita masuk ke dalam gua," kata wanita tua itu.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Tutup gua ini dengan bambu. Saya yakin roh itu tidak akan mengganggu kita lagi."
Penduduk desa mengumpulkan beberapa bambu dan mereka semua menutup gua. Setelah itu mereka semua pulang. Keesokan paginya, mereka semua pergi untuk melihat persembahan mereka. Dan tidak ada yang terjadi. Persembahan mereka masih diatur dengan baik. Mereka bisa menggelar upacara dengan baik. Sejak itu, mereka menamai tempat itu sebagai Hampang Datu. Hampang berarti menutup dengan bambu dan Datu berarti semangat. ***
sumber: http://winrymarini.blogspot.com/search/label/Kalimantan%20Selatan
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...