Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Gorontalo Gorontalo
Gumalangit
- 3 Desember 2018

Menurut cerita dari orang-orang tua penduduk Bolaang Mongondouw asalnya dari Gumalangit, Tendeduwata, Tumotol Bokol, dan Tumutol Bokat. Dahulu kala mereka  tinggal menetap pada suatu tempat yang bernama Huntuk. Asal mula cerita kejadiannya adalah sebagai berikut:


Dahulu kala ketika air ampuhan menggenangi seluruh daratan yang tersisa dipermukaan bumi tinggallah satu tempat, yakni puncak gunung Komasan atau Huntuk. Letak tempat yang kira-kira letaknya 40 Km ke pedalaman dari desa Bintauana di hulu sungai Hanga dan dinamai Huntuk Baludawa.


Pada waktu itu tinggallah seorang manusia yang masih hidup ialah seorang lelaki yang bernama Gumalangit (artinya orang dari langit). Pada suatu ketika Gumalangit berjalan di tepi laut tanpa seorang teman pun yang mendampinginya. Tiba-tiba tampak olehnya seorang lelaki di tengah-tengah laut sedang berjalan meniti ombak itu pecah dan bertepatan dengan pecahnya ombak itu muncullah seorang wanita yang sangat cantik.

 

Laki-laki yang datangnya meniti ombak itu Gumalangit menamakannya Tumotoi Bokol sedangkan perempuan yang muncul dari pecahan ombak itu diberinya nama Tumotoi Bokat. (tumotoi bokol artinya meniti buih ombak; sedangkan tumotoi bokat artinya pecah dari ombak).


Kemudian Gumalangit melanjutkan perjalanannya lagi menyusuri pantai, sementara di dalam perjalanan itu ia merasa haus. Tiba-tiba tampak olehnya seruas bambu yang sedang dimain-mainkan ombak dan setelah diambil dan diamat-amatinya ternyata bambu itu polos tanpa ruas pada bagian ujung pangkalnya. Meskipun demikian bambu itu diambilnya juga dan dibawanya menuju ke mata air yang keluar dari batu. Salah satu dari ujung bambu itu ditutupinya dengan telapak tangan lalu diisinya dengan air kemudian air yang di dalam bambu itu dituangkannya ke mulut, tetapi anehnya air itu tidak tertuang. Hal ini dilakukannya berulang-ulang kali tetapi hasilnya sia-sia belaka, tambahan pula ujung bambu yang ditutupnya dengan telapak tangannya pun tidak setetes juga yang keluar. Dengan tidak berpikir panjang lebar lagi, dihempaskannya ujung bambu yang berisi air itu ke tanah. Tiba-tiba terjadilah suatu keajaiban di mana dengan terperanjatnya ia karena yang keluar dari pecahan bambu tadi ialah seorang wanita yang lebih cantik dari Tumotoi Bokat. Gumalangit yang masih bujangan ini sangat terpikat dengan kecantikan wanita ini lalu diberikannya nama Tende Duwata (yang artinya rohatan jin selaku dewata).

Mengikuti pesan cerita ini, keempat insan yang telah muncul pada waktu itu berkumpul bersama-sama lalu mengadakan mufakat. Akhirnya mereka-mereka memperoleh kesimpulan bahwa :

  • Gumalangit mempersunting Tende Duwata, sedangkan,
  • Tumotoi Bokol mempersunting Tumotoi Bokat.

 

Untuk hidup selanjutnya mereka akan tetap menetap di puncak gunung Huntuk Baludawa. Pada waktu air ampuhan makin hari makin berkurang (surut) sehingga kian bertambah luaslah pula permukaan bumi. Akhirnya hampir seluruh daratan mulai kering dan air yang masih tertinggal, mengalir melalui sungai-sungai seperti yang kita lihat sekarang. Dari tahun ke tahun ke empat insan ini mulai kelihatan gejala-gejala ke tambahan umat.


Dari keluarga Tumotoi Bokol dan Tumotoi Bokat dianugrahi seorang bayi laki-laki yang tampan lalu diberi nama dari orang tuanya Dinondong.


Kedua bayi yang baru dilahirkan ini sangat dicintai oleh kedua orang tuanya, pertumbuhan badannya subur, serta turut-turutan kepada orang tua mereka. Setelah menjelang dewasa kedua anak ini dikawinkan oleh orang tuanya. Rumah tangga keduanya pun sangat rukun dan damai. Dari hal perkawinan mereka lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Sinudu. Sinudu pun diasuh dan dididik serta dielu-elukan seperti dengan perlakuan terhadap mereka pada zaman dahulu semasa mereka baru dilahirkan.


Setelah Sinudu dewasa maka dikawinkan dengan seorang wanita yang bernama Golingginan. Perkawinan antara Sinudu dengan Golingginan beroleh seorang bayi wanita pula lalu diberi nama Sampoto. Kehadiran Sampoto ditengah-tengah keluarganya disambut dengan baik atau diasuh sebagaimana asuhan orang tuanya dulu waktu kecilnya. Setelah Sampoto mulai menanjak dewasa lalu dilamar oleh seorang pemuda yang bernama Daliyan (Daliyan). Pelamaran ini diterima baik oleh kedua orang tuanya, lalu kemudian dilangsungkan dengan perkawinan. Perkawinan dari Sampoto dengan Daliyan memperoleh tiga orang anak masing-masing, yang sulung bernama Pondaag, kedua bernama Daago dan yang bungsu bernama Mokodoog.


Dari antara ketiga anak tersebut (Pondaag) kawin dengan Dampuloling. Setahun sesudah perkawinannya dengan Dampuloling lahirlah seorang bayi perempuan yang sangat cantik, namanya diperoleh dari kedua orang neneknya yaitu Bua’ Silagondo atau nama panggilan kesayangannya Boki.


Lama kelamaan tempat yang mereka huni ini makin bertambah banyak penduduknya yang berdatangan untuk bermukim di tempat itu, sehingga keturunan mereka mulai terpencar-pencar di sekitar Huntuk Buludawa. Mereka yang tersebar ini dari tahun ke tahun kian bertambah banyak sehingga diantara mereka tidak saling kenal mengenali lagi satu dengan yang lain, walaupun mereka seasal dan seketurunan. Persebaran mereka itu ada yang ke pantai utara ada yang ke pedalaman sebelah Timur dan Selatan di samping itu pula ada juga yang tinggal menetap di tempat itu. Yang menuju ke daerah pantai Utara bermukin di tempat-tempat yang bernama; Pondoli, Sinumolantaan. Ginolatungan dan Buntalo. Yang menuju ke pedalaman sebelah Timur (Lopa'i Mogutalong) mendiami tempat-tempat seperti; Tudu Impassi, Tudu in Lolayan, Tudu in Siya', Sinutungan, Alot, Batunoloda dan Batu Bogani.


Yang menuju ke pedalaman sebelah selatan (Lopa'i Dumoga) mendiami tempat-tempat yang bernama Bumbungan, Mahag, Tabagolinggot, Tabagomamang, Dumoga mointok dan Siniyow. Akhirnya di tempat yang mereka diami itu masing-masing mengangkat kepala suku atau pemimpin yang sanggup mengatur tata tertib perkampungan. Pimpinan yang mereka pilih ialah orang-orang yang cerdas, tangkas dan berani serta berwibawa. Mereka yang dipilih  ini diberi gelar “Bogani” (orang yang gagah dan berani). Bogani yang termasyuhur pada waktu itu ialah :

  • Bulumondo di Tudu in Lolayan.
  • Bolokasi di Buluan.
  • Rondong dan Bangiloi di Polian.
  • Manggopa Kilat dan Salamatiti di Dumoga Moloben.
  • Amali dan Inali di Bumbungan.
  • Damonegang di Tudu in Babo' dan
  • Punuk Gumolang di Ginolantungan.

 

sumber: http://alkisahrakyat.blogspot.com/2015/11/cerita-gumalangit-cerita-rakyat.html

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu