Banyak yang tahu bahwa gudeg adalah makanan khas Yogyakarta terbuat dari nangka muda kemudian diolah sedemikan rupa dan dibubuhi bumbu-bumbu tertentu sehingga jadilah hidangan khas seperti apa yang kita kenal sekarang.
Itu kalau gudeg biasa, bagaimana halnya dengan Gudeg Manggar Bantul?
Agak berbeda dengan gudeg yang biasa ditemui, gudeg manggar ini tidak terbuat dari Nangka Muda sebagai bahan bakunya, akan tetapi dari “Manggar” atau “Bunga Kelapa”. Iya benar, bunga kelapa di pohon kelapa yang merupakan cikal bakal buah kelapa itu yang dijadikan bahan baku gudeg manggar ini.
Nah, karena bunga kelapa jauh lebih sukar ditemui ketimbang nangka muda, maka sudah pasti gudeg manggar juga menjadi lebih langka ketimbang gudeg biasa. Selain bunga kelapa yang menjadi bahan dasar tersebut tidak sebanyak nangka muda, ternyata hanya bunga kelapa yang masih muda yang bisa digunakan untuk hidangan ini. Tidak berhenti sampai di situ, ternyata (lagi) tidak setiap bunga kelapa yang masih muda yang bisa diolah, jadi masih ada proses seleksi lagi. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika dari setiap satu kilogram bunga kelapa muda yang dibeli, tak jarang yang layak diolah hanya seperempat kilogram saja.
Tapi daya tarik gudeg manggar bukan hanya karena bahan bakunya tidak mudah ditemukan, tapi juga cara mengolah manggar tersebut yang unik dan membutuhkan waktu lama karena bisa memakan waktu satu hari penuh agar manggar tersebut menjadi empuk tanpa menghancurkan bentuknya, serta tentu saja rasa dari gudeg manggar tersebut yang tak kalah lezatnya dibanding gudeg dari nangka muda.
Hal menarik lainnya pada hidangan tradisional yang berasal dari Desa Mangir Kabupaten Bantul ini adalah kisah dan sejarah yang ada disekitar kemunculan menu makanan ini sekitar 500 tahun yang lalu.
https://kopioeyjogja.wordpress.com/2012/03/14/gudeg-manggar/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara