Ritual
Ritual
Tradisi Religi Jawa Tengah Demak
Grebeg Besar Demak
- 26 Mei 2014
Deskripsi
   Grebeg Besar Demak merupakan sebuah acara budaya tradisional besar yang menjadi salah satu ciri khas Demak. Tradisi Grebeg Besar Demak ini berlangsung setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijah saat Idul Adha. Dimeriahkan dengan karnaval kirap budaya yang dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak hingga ke Makam Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Kadilangu, jaraknya sekitar 2 kilometer dari tempat mulai acara.
Grebeg Besar merupakan upacara tradisional yang mempunyai nilai ritual keagamaan bagi warga masyarakat Kabupaten Demak untuk menyambut datangnya hari raya Lebaran Haji pada setiap tanggal 10 Zulhijah. Grebeg pertama kali diadakan untuk memperinghati hari jadi Mesjid Demak yang dibangun oleh Sunan Kalijogo bersama Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan Sunan Ampel dengan potongan-potongan kayu atau tata dalam tempo sehari. Pada waktu itu merupakan satu-satunya mesjid di Jawa. Sebelum peringatan dimulai diupayakankan bagaimana caranya untuk memancing kedatangan masyarakat desa yang masih banyak menganut agama dibawah Islam. Maka diadakan berbagai acara dan atraksi. Kesenian tradisional maupun permainan yang disenangi masyarakat pada waktu itu ditrampilkan sehingga rakyat impulse akan hilang tertarik kepada agama yang ada. Karena seringnya mengdengar dan melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang telah masuk Islam, masyarakat yang belum tahu akan agama tersebut tertarik perhatiannya dan menimbulkan rasa ingin mengerti.
 
Asal Mula
   Demak merupakan kerajaan Islam pertama dipulau jawa ,disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam dipulau Jawa. Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada. Untuk itu setiap tanggal 10 Dzulhijah umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban kemudian diadakan Grebeg Besar Demak. Pada waktu itu, dilingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan pula keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. Bentuk keramaian yang dikenal dengan nama GREBEG BESAR adalah murni hasil ciptaan para wali. Pelaksanaannya dimulai setelah walisongo angkatan I mengadakan sidang di serambi Masjid Agung Ampel Dento Surabaya, keputusannya sebagai berikut :
“NGENANI ANANE SOMAWONO KIPRAH MEKARE TSAQOFAH HINDU ING NUSA SALALADANE, JUWAJIBAN PORO WALI AREP ALAKU TUT WURI ANGISENI. DARAPUN SUPOYO SANAK-SANAK HINDU MALAH LEGO-LEGOWO MANJING ISLAM.
Artinya : Dengan adanya perkembangan ajaran Hindu di pulau wilayah ini, tugas para wali dakwah menyesuaikan adat istiadat setempat sambil mengisi nafas Islam, agar supaya masyarakat Hindu hatinya rela dan tulus ikhlas masuk Islam.
   Konon, Grebeg telah ada sejak 1428 tahun saka, atau 1506 Masehi pada zaman Majapahit. Para Raja Jawa secara turun temurun menyelengarakan upacara pengorbanan dengan menyembelih seekor kerbau jantan yang masih liar untuk dipersembahkan sebagai sesajian kepada dewa atau arwah para leluhur. Upacara korban merupakan upacara kenegaraan yang disebut Rajaweda dengan harapan mendapatkan kemakmuran dan dijauhkan dari segala malapetaka. Pada jaman kesultanan Demak Bintoro, yang diperintah Raden Patah, kebiasaan Raja Jawa mengadakan upacara Rajaweda bertentangan dengan ajaran agama Islam. Akhirnya, upacara tersebut ditiadakan. Para wali mengambil kebijaksanaan Grebeg dilestarikan sebagai salah satu jalan pendekatan dengan umat agama sebelumnya dengan mengubah corak dan tata caranya menurut Islam. Dari keseluruhan acara Grebeg Besar yang menarik adalah pada malam 9 Zulhijah yaitu tumpengan di serambi depan mesjid agung Demak. Tumpeng tersebut berjumlah sembilan atau songo, berbentuk gunungan atau kerucut yang masing-masing lengkap dengan lauk pauknya mencerminkan kebesaran dan jumlah wali yang sembilan orang, yaitu Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Dradjat, Sunan Kalijogo, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Gunungjati. Tumpeng itu diarak dari pendopo kebupaten Demak diiring dengan kesultanan Demak Bintoro tempo dulu ke mesjid agung Demak untuk direbutkan oleh pengunjung yang sudah menunggu di mesjid. Setelah acara resmi berupa selamatan yang dihadiri oleh Bupati Demak, para pejabat dan sesepuh masyarakat setempat, tumpeng sembilan tadi diperebutkan atau diraya pengunjung. Dengan memperoleh bagian tumpeng para pengunjung mempunyai suatu kepercayaan. Hidupnya akan dekat dengan rezeki yang dianugerakan oleh Allah SWT. Bahkan potongan-potangan bambo yang dipakai untuk membuat ancakan atau welat menurut mereka mempunyai keampuhan. Dapat dipergunakan untuk penangkal serangan hawa disawah, serta panen perkebunan dan pertanian lainnya. Yang juga banyak mengundang perhatian baik warga Demak maupun para pengunjung dari Grebeg Besar mengarak penjamas dari pendopo kebupaten ke komplex makam Kadilangu dilakukan setelah selesai salat Idul Adha dan khotbah pada 10 Zulhijah. Menjelang pemberangkatan minyak jamat, diawali dengan penabuhan gamelan hidup hingga nampak regeng (meriah) dan para tamu yang semuanya berbusana kejawen dihibur dengan Tari Budoyo. Lurah Tantama didampingi dua orang Wiratama melangkah menaiki terap pendopo maju menghadap Bupati untuk melapor bahwa ia siap melaksanakan tugas pengawalan minyak jamas. Seorang puteri dayang disertai keluarganya melangkah menuju meja mengambil bokor berisi minyak jamas diserahkan kepada Lurah Tantama. Setelah menerima minyak jamas, Lurah Tantama laporan kepada Bupati bahwa ia dan prajurit patang puluhan mohon doa restu berangkat menuju Kadilangu. Keunikannya terletak pada pengawal pembawa minyak jamas yang terdiri dari 40 orang prajurit patang puluhan. Para prajurit mengenakan pakaian tradisional yang menggambarkan kegagahan prajurit kesultanan Demak Bintoro tempo dulu. Di kepalanya memakai kain kepala yang disebut desta, memakai pinan ikat pinggang dan membawa tombak sebagaimana layaknya seorang prajurit. Setelah tiba rombongan pembawa minyak jamas di Kadilangu, sesapuh dan keluarga ahliwaris Sunan Kalijogo mengadakan upacara penyambutan utusan dari Sultan Bintoro yaitu prajurit patang puluhan untuk menyerahkan minyak jamas. Utusan dari Sultan Bintoro langsung diterima sesepuh didampingi pembantunya dan keluarga. Minyak jamas diterima oleh pihak ahli waris kesepuhan Sunan Kalijogo, selanjutnya prajurit patang puluhan kembali ke kabupaten. Dengan selesainya serah terima Minyak Jamas, sesepuh dan keluarga ahliwaris berangkat menuju ke makam Kanjeng Sunan Kalijogo untuk melaksanakan upacara penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijogo yang berupa jubah ontokusama, Keris Kiai Carubuk dan Kiai Sirikan.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Resep Ayam Ungkep Bumbu Kuning Cepat, Praktis untuk Masakan Harian
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...

avatar
Apitsupriatna