Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan DKI Jakarta Betawi
Gohyong
- 4 September 2017

Gohyong atau Ngohiang dibuat dari daging ayam, udang, telur dengan bumbu bawang putih dan merica. Adonan yang dicincang halus ini kemudian dibungkus kulit lumpia hingga berbentuk seperti lontong atau rollade dan dikukus, setelah dingin barulah digoreng kering. Saat akan disajikan gohyong diiris melintang serong lalu dilengkapi saus asam manis. Karena rasanya gurih, gohyong paling enak dimakan dengan nasi hangat plus tumis sayuran. Makanan khas Betawi ini memang tidak terlalu populer, namun adonan ayam dan udang yang dibungkus kulit tahu ini rasanya membuat ketagihan. Luarnya renyah dan dalamnya gurih, makin enak saat dicocol saus asam manis.

Jika dilihat dari sejarahnya, gohyong merupakan perpaduan budaya Cina dengan budaya lokal Betawi. Gohyong (ngó͘-hiong/Ngo Hiang) adalah sebuah gulungan kembang tahu yang diisi dengan cacahan daging yang dicampur berupa babi atau seafood seperti udang dan dicampurkan dengan bubuk lima rempah dan disajikan dengan digoreng dan dicampur dengan sayuran yang bervariasi seperti wortel dan lainnya. Bubuk lima rempah adalah bubuk yang mewakili kelima rasa yaitu asam, manis, pedas, pahit, dan asin. Bubuk ini terbuat dari campuran kayu manis, bunga lawang, cengkih, sichuan pepper, dan biji adas.

Gohyong merupakan makanan khas orang Hokkien dan Teochew, atau yang berasal dari provinsi Fujian. Karena mayoritas orang Chinese di Indonesia merupakan keturunan imigran yang berasal dari Fujian, maka Gohyong cukup terkenal di Indonesia dan mulai tersebar juga terasimilasi dengan budaya setempat, tentu saja kandungannya mulai diganti dengan menggunakan kandungan daging yang lebih umum. Gohyong juga cukup terkenal di negara Asia Tenggara lainnya seperti Singapore, Malaysia, dan di Cebú Filipina yang notabene memiliki jumlah penduduk yang merupakan keturunan imigran dari provinsi Fujian dengan angka yang tinggi. Di Malaysia, Gohyong terkenal dengan sebutan Lo bak.

Gohyong disajikan dengan saus sambal, ada pula yang menyajikannya dengan saus tauco. Namun di Indonesia yang terbiasa memakan sesuatu dengan sambal, Gohyong yang notabene merupakan gorengan lebih terasa mantap jika disajikan dengan saus sambal, walaupun di era modern ini Gohyong mulai divariasikan dengan banyak cara dan penuh kreativitas, seperti Gohyong saus madu disebuah restoran Chinese modern di Jakarta. Di Singapore, Gohyong menjadi topping untuk bihun goreng.

 

Gohyong dapat ditemui di lokasi berikut:

Radja Ketjil

Pondok Indah Mal 2, 3rd Floor

Jl. Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan

Telp: 021-75920468

 

Radja Ketjil

Jl. Taman Pendidikan II No.1

Tarogong - Jakarta Selatan

Telp: 021-7509818

 

Mi Ayam Gindangdia

Jl. R.P Soeroso no.36

Telpon: 021-31926765

 

Shanghai Blue

RM Trio

Jl. RP. Soeroso no. 29

Jakarta Pusat

 

Warong Shanghai Blue 1920

Kebon Sirih Raya 79

Jakarta Pusat

Telpon: 021-3918690

 

Restoran Cahaya Kota

Jl. Wahid Hasyim 9

Jakarta Pusat

Telpon: 021-3143077

 

Resep:

Bahan

  • 200 g daging ayam cincang atau giling

  • 300 g udang kupas cincang

  • 1 sdm ebi kering yang dihaluskan

  • 50 g tepung kanji

  • 1½ - 2 sdt bumbu ngohiong bubuk

  • 1 sdt merica bubuk

  • 2 butir telur

  • 1½ sdt garam

  • 2 sdt gula pasir

  • 50 ml air

  • Minyak goreng

  • 1 sdm minyak wijen

  • 4 siung bawang putih cincang halus

  • 3 batang daun bawang yang diambil bagian putihnya dan diiris halus

  • 4 lembar kulit tahu ukuran 20 x 25 cm

  • 1 butir telur yang dikocok dengan 1 sdm air

 

Cara Membuat

  1. Campur ayam cincang, udang cincang dan ebi halus dalam wadah lalu aduk.

  2. Masukkan campuran tepung kanji, bumbu ngohiong dan merica sambil diuleni hingga tercampur rata.

  3. Kocok telur bersama garam dan gula pasir, masukkan ke dalam adonan, tambahkan air kemudian aduk.

  4. Panaskan 3 sdm minyak goreng dan minyak wijen dalam wajan.

  5. Tumis bawang putih sampai harum kemudian masukkan daun bawang lalu aduk dan angkat, masukkan ke dalam adonan lalu aduk rata.

  6. Bagi adonan menjadi 4 bagian dan sisihkan.

  7. Taruh setiap bagian adonan di atas selembar kulit tahu kemudian gulung.

  8. Bungkus gulungan dengan selembar plastik/kertas minyak/kertas alumunium kemudian kukus selama ± 30 menit sampai matang, angkat dan dinginkan.

  9. Buka bungkusan plastiknya, celupkan gulungan ke dalam telur kocok kemudian goreng dalam minyak panas.

  10. Setelah berubah warna lalu angkat.

  11. Potong melintang serong setebal 2 cm lalu hidangkan dengan sambal.



 

Sumber:

https://food.detik.com/read/2010/01/04/114524/1271113/294/kres-renyah-enak-gohyong-betawi

http://caramembuat-masakan.blogspot.co.id/2014/09/resep-cara-membuat-gohyong.html

http://indonesianchinesefood.blogspot.co.id/2015/04/gohyong.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu