Asal nama permainan ini informan tidak dapat menjelaskan secara konkrit karena permainan ini memang sudah berkembang sejak lama dan generasi sebelum mereka tak pernah menceritakan tentang asal nama permainan tersebut.
Ghieng-ghieng asee demikian nama permainan ini, merupakan permainan anak-anak yang tidak menggunakan alat-alat musik dan bersifat per seorangan.
Ghieng-ghieng asee berkembang di seluruh Daerah Istimewa Aceh (sekarang, Aceh), walaupun dengan nama yang berbeda, secara jelas akan diuraikan pada bagian lain dalam penulisan ini. Permainan ini dapat digolongkan ke dalam salah satu cabang olah raga.
Sejarah
Dari hasil wawancara, permainan ini sudah lama sekali berkembang di dalam masyarakat. Sejak kapan permainan ini mulai berkembang dan dari mana asalnya tidak diketahui. Yang jelas permainan ini telah diwariskan dari generasi ke generasi sampai sekarang.
Waktu Pelaksanaan
Permainan ini tidak ditetapkan apakah pagi, tengah hari, atau sore hari dimainkannya. Hal ini ditentukan oleh kapan anak-anak dapat berkumpul. Kadang-kadang juga dimainkan pada waktu bulan terang. Permainan ini tidak juga ditetapkan harus dimainkan pada waktu turun ke sawah atau hanya pada waktu Luang Blang, atau sehabis panen. Jadi, dapat saja dimainkan sepanjang tahun kapan saja dan di mana saja bergantung pada selera pemain itu sendiri. Apabila hari hujan mereka dapat menggunakan kolong Meunasah. Di Daerah Istimewa Aceh, Meunasah tinggi-tinggi seperti rumoh adat (Rumah Adat) Aceh. Meunasah merupakan lembaga pendidikan informal, tempat anak-anak berkumpul untuk mengaji, baik pada siang hari maupun pada malam hari. Bila pengajian selesai bermacam-macam olah raga dapat dimainkan, di antaranya ghieng-ghieng asee.
Pemain
Pendukung permainan ini adalah anak-anak, rata-rata usia sekolah dasar. Sesuai dengan sifat permainan yang lebih menyerupai olah raga dan ketangkasan yang lebih menonjol, maka anak-anak wanita jarang diikutsertakan. Hal ini didukung oleh anggapan masyarakat bahwa anak-anak wanita dianggap kurang sopan bila mereka bergerak dengan leluasa di tempat-tempat terbuka atau di depan umum.
Permainan Ghieng-ghieng asee tidak memerlukan perlengkapan seperti permainan lainnya. Permainan ini dapat terselenggara apabila sudah ada berkumpul empat orang anak. Kurang dari jumlah ini tidak dapat terselenggara. Apabila lebih dari empat orang harus mencapai delapan orang, sehingga terdapat dua kelompok.
Jalan Permainan
Permainan ghieng-ghieng asee seperti telah diuraikan di atas bahwa yang menjadi pemain adalah anak lelaki. Permainan ini tidak dilakukan secara beregu, tetapi per seorangan.
Ketangkasan pribadi sangat ditonjolkan dalam permainan ini. Setelah empat orang anak berkumpul, mereka sudah dapat memulai permainan atau pertandingan. Keempat anak tersebut masingmasing sebelah kakinya dibengkokkan hingga lutut, diselang-seling dengan cara berdiri persegi empat, sehingga antara yang satu dengan lain saling berkait. Ketika keempat kaki berkait, tentunya masing-masing berdiri dengan sebelah kaki, mulailah mereka loncat di tempat.
Pada waktu mereka loncat di tempat, mereka tidak dibenarkan untuk saling berpegangan. Seni dan variasi daripada permainan ini bergantung pada si pelaku itu sendiri, sehingga mereka saling berguguran.
Bila satu orang yang gugur atau jatuh, kaitan kaki mereka terlepas, maka kepada yang jatuh dikenakan hukuman dengan cara menggendong ketiga kawannya. Jarak gendongan bergantung kepada persetujuan mereka sebelum bermain, apakah 5 (lima) meter, lebih, atau kurang. Kadang-kadang dua orang sekaligus yang gugur, maka kedua orang yang gugur tadi menggendong kedua kawannya. Berdasarkan pengalaman yang ada, tidak pernah tiga orang sekaligus jatuh karena dua orang saja jatuh sudah pasti kaki mereka terlepas, sehingga tidak mungkin kedua lainnya jatuh sebab mereka sudah dapat berdiri dengan mantap.
Lamanya permainan tidak dapat ditetapkan dengan pasti, bergantung kepuasan mereka sendiri. Permainan ini tidak bersifat kompetitif, tetapi bersifat rekreatif. Perlu juga disinggung bahwa permainan ini tidak memakai kostum tertentu, artinya pakaian biasa saja atau pakaian sehari-hari, dapat juga dibenarkan apabila tidak memakai baju.
Referensi:
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...