Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Aceh Aceh
Geugasi dan Geugasa
- 8 Agustus 2018

            Dikisahkan, pada zaman dahulu kala ada seorang ibu yang hidup dengan anaknya yang masih berusia sepuluh tahun. Mereka tinggal di perkampungan yang aman dan tentram di ujung nusantara, Aceh. Tidak pernah kau dengan pencurian dan perampokan di kampung itu. Masyarakatnyapun gemar bermusyawarah untuk menyelesaikan permasalahan. Sehari-hari, ibu dan anak itu mencari kayu bakar untuk di jual di pasar dan menyambung hidup mereka.

            Pada suatu saat, hal yang tidak terduga terjadi di kampung tersebut. Salah seorang warga yang biasa dipanggil Mak Yah kehilangan kerbaunya. Walau masyarakat sudah bersusah payah mencarinya, mereka tetap tidak berhasil menemukan kerbau itu. Hilang bagai tertutup kabut. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Membuat masyarakat kampung itu dipenuhi tanda tanya. Siapakah gerangan yang mencuri kerbau milik Mak Yah? Tidak hanya kabar hilangnya kerbau Mak Yah. Warga kampung kembali dibuat bingung dengan hilangnya tiga ekor kambing gembalaan milik Bang Ma’e. Yang tersisa hanyalah tulang belulang kambing dan percikan darah di ladang gembalaan. “Ada yang tidak beres” pikir semua warga kampung itu. Siapa gerangan yang berani memecah ketentraman kampung ini?

            Hari demi hari berlalu, semakin banyak keluhan warga kampung karena hilangnya binatang ternak mereka. Banyak warga kampung yang berkumpul di balai desa. “Sapi saya hilang semalam.. ada jejak darah di kandang sapi saya” keluh salah seorang warga. Di tengah ramainya balai desa, Wak Minah datang dengan nafas terengah-engah. Ia bercerita bahwa, salah seorang anaknya hilang ketika sedang bermain. Wak minah terus menangis sepanjang hari. Warga kampung menerka-nerka bahwa yang telah mencuri binatang ternak mereka dan anak Wak Minah adalah geugasi (raksasa) yang tinggal di hutan. Mengingat, ada jejak tapak yang sangat besar di dalam hutan.

            Rumor tentang geugasi itu cepat merambah ke seluruh pelosok kampung. Membuat banyak warga resah dan enggan beraktivitas di luar rumah. Mereka takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun, tidak dengan Ahmad, salah seorang warga kampung yang tidak tahan terus menerus dalam kondisi kampungnya yang seperti ini. Ia bertekad untuk mencari siapa pembuat onar selama ini.

            Niat dan tekadnya begitu kuat. Ia berencana akan pergi ke hutan esok pagi. “Janganlah engkau melangkah ke dalam hutan Ahmad, nyawamu tidak akan terselamatkan karena geugasi itu” Cegah ibunda Ahmad sembari memegang erat tangan putranya. Ahmad tersenyum tulus, “Tidak apa-apa ibu. Aku akan menjaga diriku baik-baik. Aku tidak ingin warga kampung kita terus menerus dilanda ketakutan seperti ini. Doakan saja anakmu ini ibunda.” Tidak ada yang bisa ibunda lakukan lagi, perlahan-lahan tangannya melepas kepergian anaknya dengan hati ikhlas dan pasrah.

            Pergilah Ahmad ke hutan. Dengan bekal seadanya dan pisau yang terikat di pinggangnya, ia melangkah dengan pasti memasuki hutan. Setelah sekian lama ia berjalan, keringatnya mulai membasahi pakaiannya. Ahmad memutuskan untuk istirahat sejenak di bawah pohon. Saat dirinya sedang terduduk di bawah pohon, matanya terikat pada sebuah rumah panggung tak jauh di depannya. Ia semakin penasaran dan bersemangat untuk mencari tahu. Ia bangkit dari istirahatnya dan berjalan menuju rumah itu.

            Rumah itu tidak begitu besar, namun tidak pula begitu kecil. perlahan Ahmad mengetuk pintu rumah itu. Barangkali, sang pemilik masih ada di dalam rumah. Namun, tidak ada sahutan dari dalam rumah tersebut. Ahmad membuka pintu rumah yang ternyata tidak terkunci. Ia melihat sekeliling tembok. Banyak kepala binatang dan tulang belulang yang dipajang. Tak hanya itu, ia juga melihat berbagai macam tombak dan parang berburu di dalam rumah itu.

            Sedang asyik Ahmad melihat-lihat, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara teriakan “Tolong..!” Ahmad mencari tau asal suara rintihan itu. Ternyata suara itu berasal dari bilik di rumah panggung itu. Yang benar saja, saat Ahmad membuka pintu bilik itu, dilhatnya seorang anak perempuan yang tidak lain adalah anak Wak Minah. Ia duduk meringkuk di pojok bilik itu sambil menangis tersedu-sedu. Ahmad segera menggendong anak itu di punggungnya dan memulangkannya kepada Wak Minah. Ahmad sangat yakin bahwa rumah itu adalah milik si geugasi.

            Tiba-tiba saja, Ahmad merasakan guncangan. Semakin lama semakin terasa seperti gempa bumi. “itulah pasti hentakan kaki geugasi” pikir Ahmad. Ahmad segera memikirkan ide agar mereka berdua selamat.

            Geugasi itu semakin dekat dengan rumah panggungnya. Ia mengendus-endus dengan hidungnya “ada bau manusia di sekitar sini”. “Siapa di dalam?” tanya geugasi dengan lantang.

            “aku geugasa” jawab ahmad dengan lantang pula.

            Geugasi berpikir bahwa geugasa juga seorang raksasa seperti dirinya.

            “Hai kau geugasa! tunjukkan gigimu”

            Ahmad melemparkan buah pinang. Geugasi terkejut betapa besarnya gigi geugasa. Sekali lagi geugasi menantang “tunjukkan kumismu!”

            Ahmad melemparkan gumpalan ijuk kepada geugasi. lagi-lagi geugasi terkejut dengan lebatnya kumis geugasa dibanding dengan dirinya. Ia pun melemparkan pertanyaan lagi “Coba tunjukkan tahimu!”

            Ahmad melemparkan buah kelapa yang tua dan besar. Geugasi amat terkejut. Ia berpikir betapa besarnya geugasa. Ahmad berteriak kencang “Aku lapaarrr… adakah makanan di sini?” Karena takut akan kalah dari geugasa, geugasi pergi meninggalkan rumah panggung itu. Dengan sigap, Ahmad melemparkan tombak yang menancap mulus menembus perut geugasi. Sekali lagi Ahmad melemparkan tombang tepat di kepala geugasi. Geugasi jatuh tersungkur di tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

            Segera ahmad membawa pulang putri Wak Minah ke kampung mereka. Semua orang sangat senang dan kampung mereka kembali aman.

#OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu