Banyuwangi kembali menunjukkan taringnya dalam kekayaan budaya. Budaya yang akan dibahas kali ini adalah Gedhogan atau Gendhongan. Dahulu wanita-wanita di Desa Glagah, Banyuwangi bekerja sebagai penumbuk padi. Banyaknya beras yang tersedia membuat pekerjaan cukup berat, membosankan, dan melelahkan tentunya. Sepanjang proses penumbuk padi tersebut untuk mengurangi kebosanan, mereka akhirnya menyanyikan lagu-lagu. Bukan hanya memainkan lagu, tanganpun memainkan pukulan-pukulan alu di permukaan gedhogan tersebut. Ritme yang dibuat secara spontan ini menciptakan permainan lagu yang nikmat didengar. Harmonisasi ditambah dengan pukulan sebatang logam terhadap logam lainnya serupa pisay kasar dan logam kecil penumbuk sirih sehingga menimbulkan dentingan lagu yang semakin asyik. Sungguh seni hiburan yang segar, bukan ?! permainan yang berupa seni hiburan ini saat ini sudah sering muncul sebagai sebuah seni perÃÂtunjukan.
Latar Belakang Sosial Budaya.
Semula wanita-wanita itu mempunyai tugas sebagai pekerja- pekerja penumbuk padi ketika dipanggil keluarga untuk memperÃÂsiapkan persediaan beras menjelang suatu perhelatan. Pekerjaan itu cukup berat dan karena banyaknya beras yang harus disediakan maka pekerjaanpun dilakukan berhari-hari.
MembosanÃÂkan dan melelahkan. Untuk mengatasi kebosanan dan kelelahan ituÃÂlah diantara phase-phase proses pembuatan beras dari padi itu mereÃÂ ka menyanyikan lagu-lagu. Tak disadari ia memerlukan suatu kejelasÃÂan ritme lagu, maka tanganpun memainkan pukulan-pukulan alu dipermukaan-permukaan gedhogan itu. Ritme itupun disahut secara spontan oleh rekan-rekannya.
Nikmat juga rasanya, dan tanpa lagupun permainan ini cukup menyegarkan kelelahan pikir dan tenaga yang seharian diperas tak henti-hentinya itu. Jadilah kini orang berÃÂmain Gedhogan atau Gendhongan itu. Sebatang logam yang dipukul dengan logam pula, serupa benar dengan pisau yang kasar dan logam kecil penumbuk sirih, menghasilkan denting yang menambah harÃÂmonisasi dentam Gedhogan. Naluri Aestetika melembagakan perÃÂmainan ini kearah seni hiburan segar.
Dan kini ketika beras tidak lagi dihasilkan dari padi lewat proses traÃÂdisi Gedhogan, maka permainan Gedhogan atau Gendhonganpun surut dari kegiatan di desa. Akan tetapi tidak selalu demikian. SemuÃÂla bunyi Gedhogan lengkap dengan intermesso bermainnya, menanÃÂdai adanya suatu perhelatan di sebuah keluarga. Sanak saudara, teÃÂtangga yang mendengar hendaknya segera siap untuk membantu meÃÂnyiapkan segala kepentingan perhelatan, entah itu perkawinan entah pula khitanan.
Yang mau menyumbang materi, mendengar bunyi geÃÂdhogan ditabuh orang itupun berarti sudah ditunggu empunya kerja. Jadi cepat-cepatlah datang. Ini disebut "buwuh". Dan kini ketika beÃÂras sudah dihasilkan oleh teknologi modern mesin penumbuk padi, maka ciri ini agak sulit dihilangkan. Tak kurang akal, wanita-wanita yang biasa bekerja untuk itu, tetap dapat dipanggil dengan tugas poÃÂkok hanya bermain Gedhogan atau Gendhongan. Demikianlah rombongan yang dipimpin oleh Mak Tiah dari desa Derek-Sukosari itu kini sering ditanggap hanya untuk memainkan Gedhogan/Gendhongan itu sehari semalam. Dankini sebagai perminÃÂtaan yang sudah menjurus kearah bentuk seni hiburan itu perlu diÃÂtampilkan dengan kelengkapan seni hihuran yang dirasa akan lebih menarik. Penyanyi tunggal dikhususkan untuk itu dan kadang kala ditambah dengan seorang pelawak.
Peserta Permainan
Enam wanita dianggap cukup lengkap untuk penyajian perÃÂmainan itu. Empat orang sebagai pemukul Gedhogan/Gendhongan, satu diantaranya merangkap sebagai "Pengundang", yaitu pembangkit suasana kegembiraan lewat monolog-monolognya. Seorang lagi sebagai penyanyi, dan seorang lagi pemukul kluncing. Sekalipun paÃÂda umumnya permainan ini dilakukan oleh wanita-wanita tua, akan tetapi kekuatan fisiknya haruslah masih kuat juga mengingat berjam- jam mereka harus main, Agak sulit memang menggantikan peranan wanita-wanita tua itu, karena kemampuannya dalam menyanyi, membuat perlaguan yang tak pernah ada notasinya, serta bertindak sebagai "pengundang", merupakan keahlian yang diperolehnya daÃÂlam waktu yang cukup lama melewati banyak pengalaman. Dalam acara-acara yang lengkap sering ditambahkan seorang laki-laki yang bertindak sebagai pelawak, sehingga dengan demikian suasaÃÂna menjadi benar-benar menuju ke arah suatu seni pertunjukkan.
Peralatan permainan
Gedhogan ini terbuat dari batang kayu nangka. Ada yang berfungsi sebagai gong (yang berukuran terbesar dan terpanjang) dengan panjang hampir 2 meter dan garis tengah 30 cm. Empat yang lain lebih kecil dengan panjang hanya 1 meteratau setengahnya dengan garis tengah 25 - 30 cm. Empat gedhogan tersebut berfungsi sebagai kendhang, kempul, dan othek. Kelima bunyi tersebut akan menghasilkan bunyi yang berbeda satu-sama lainnya. Alat pemukulnya adalah alu yakni batang kayu sejenis dengan ukuran panjang 2 meter dan garis tengah 7 cm. Untuk menambah bunyi yang semakin asyik maka gedhogan ditambah dengan sebatang logan dengan ukuran 20 cm dan alat pemukul berupa batang logam kecil berukuran 10 cm yang disebut sebagai kluncing.
Jalannya Permainan.
Tiba di sebuah rumah yang sedang mempersiapkan perhelatan maka alat-alat itupun segera diatur tempatnya. Para pemain mengÃÂambil tempat dan alat pemukul. Biasanya pimpinan yang mengambil prakarsa untuk memainkan suatu lagu, tak perlu ia mengatakan lagu apa yang akan dimainkan itu. Cukuplah ia sebagai pantus memulai dengan suatu pola ritme pukulan tertentu. Segera yang lain-lain mengisi pola itu dan membuat suatu kerja sama permainan ritme terÃÂtentu. Penyanyipun segera menyuarakan lagu-lagunya. Banyak dian- taranya lagu-lagu tradisi yang sangat mereka gemari seperti : Erang- erang, Waru Doyong, Podo Nonton, Kosir-kosir, Sekarjenang, dan se- bagainya. Ternyata lagu-lagu ini juga dikenal lewat permainan atauÃÂpun seni pertunjukkan lain seperti di dalam Sebiang, Gandrung dan Angklung.
Apabila suatu lagu sudah cukup lama dimainkan, maka "pantus" akan memberikan tanda-tanda tertentu untuk menggantikannya. Beberapa saat kemudian,, "pantus" membuat suatu pola ritme puÃÂkulan yang lain lagi dan rekan-rekannyapun berbuat sama, mengiÃÂsinya dan meresponsnya sehingga terdengar suatu lagu yang lain lagi. Demikian terus menerus berjam-jam hal itu dilakukan. SemenÃÂtara itu "Pengundang" tidak henti-hentinya melakukan monolog, diantaranya memperbincangkan kemerduan suara sinden, mengarÃÂtikan syair-syair sang pesinden, atau juga kalimat-kalimat sindiran dan sanjungan bagi para pendengarnya.
Pengundang yang baik akan mampu membangkitkan simpati dan riuh tawa pendengarnya, kegembiraanpun dirasakan di sekitar. Sehingga dengan cara demikian akan banyaklah tamu-tamu yang datang di perhelatan baik mereka yang akan membantu persiapan perhelatan maupun yang datang untuk 'buwuh' (menyumbang materi). Orang menyebutnya peristiwa mengunjungi perhelatan itu dengan istilah "Kondhangan". Sehingga rombongan Gedhogan/ Gendhongan yang di panggil untuk peristiwa itu sering dikatakan "ditanggap kango Kondhangan", artinya diminta bermain untuk meÃÂmeriahkan perhelatan.
Peranannya Masa Kini
Rupanya dengan hadirnya tape rekorder di desa-desa yang mampu memberikan 'tanda' akan adanya suatu perhelatan, merupaÃÂ kan salah satu sebab mengapa permainan ini sudah agak jarang diÃÂlakukan orang. Lagi pula orang sudah tidak memerlukan lagi meÃÂnyiapkan beras dengan menumbuk padi dalam Gedhogan. Beras giling masih lebih mudah diperoleh dan lebih murah di ongÃÂkosnya dari pada harus mengupah wanita-wanita untuk menumbuk padi sehari-hari. Generasi kini juga kurang menghargai profesi peÃÂmain Gedhogan , karena menganggap bahwa pekerjaan itu berasal dari buruh wanita yang kasar.
Dengan demikian dapat dikhawatirÃÂkan bahwa permainan ini akan semakin langka didapatkan. Memang ada usaha-usaha masyarakat untuk meletakkan permainan itu sebagai suatu bentuk seni musik rakyat. Bersama pemerintah daerah setempat, sering juga diadakan semacam festival permainan Gedhogan/Gendhongan untuk memancing kegairahan masyarakat agar tetap dapat menghidupkan permainan itu sebagai suatu benÃÂtuk seni pertunjukan musik. Usaha itu tidaklah terlalu sia-sia kareÃÂna ternyata bahwa di desa-desa lain orang juga sudah mulai beruÃÂsaha untuk tetap memiliki kelompok-kelompok pemain Gedhogan atau Gendhongan. Dan dengan pemain-pemain di kalangan anak-anak muda, permainan itu sudah sering muncul sebagai sebuah seni perÃÂtunjukan.
Sumber: www.jawtimuran.net http://jawatimuran.net/2013/03/05/gedhogan-atau-gendhongan-kabupaten-banyuwangi/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara