Warga Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggelar upacara adat Gadean Gunung Gentong di situs cagar budaya petilasan Prabu Brawijaya ke V di Pedukuhan Manggung, Desa Ngalang.
"Upacara adat ini sebagai bentuk penghormatan warga kepada leluhur," kata Kepala Desa Ngalang Kaderi di Gunung Kidul, Rabu (26/4).
Ia mengatakan acara nyadran tahun ini lebih meriah dari tahun sebelumnya, hal ini bisa dilihat dari antusiasme masyarakat untuk ikut menyemarakkan acara.
"Mereka rela menunggu sejak pagi sampai dengan selesai acara tetap berada di lokasi. Semoga kedepan masyarakat semakin sejahtera dalam berbagai aspek, dan tidak meninggalkan adat tradisi yang harus tetap dilestarikan sebagai warisan budaya kepada anak cucu," harap Kaderi.
Sejak pagi masyarakat berkumpul di area Nyadran menunggu rombongan kirab yang berjalan menuju lokasi, dari anak-anak hingga orang tua, bahkan ada pula wisatawan yang ikut menyaksikan acara Nyadran tahun ini.
Bertolak dari Balai Desa Ngalang warga masyarakat membawa hasil panen mereka menggunakan jodhang menuju ke lokasi upacara adat Gadean Gunung Gentong yang berjarak sekitar 3 Km. Dengan cara dipikul masyarakat berjalan kaki melewati rute dengan kondisi jalan yang menanjak dan curam.
Pembawa hasil panen tersebut tidak boleh beristirahat atau berhenti sebelum sampai di Watu Lincip. Setelah sampai di Watu Lincip, pembawa hasil panen telah ditunggu oleh pamong desa, tokoh masyarakat serta disambut dengan kesenian jathil.
Jodhang kemudian diarak menuju ke lokasi upacara untuk diserahkan kepada panitia dan sesepuh pelaksanaan upacara adat. Selanjutnya digelar doa bersama, lalu bahan makanan dibagikan kepada warga masyarakat dan tamu undangan yang hadir di acara tersebut.
Kegiatan ini sudah berlangsung turun-temurun. "Upacara ini, diyakini, petilasan pernah disinggahi Prabu Brawijaya V bersama prajuritnya ketika dalam pelarian, sebagian di antara mereka kemudian menjadi cikal bakal masyarakat Ngalang. Tradisi ini juga dianggap sebagai bentuk penghormatan warga kepada leluhur," kata dia.
Sementara itu, Ketua Karang Taruna Desa Ngalang Eko Hardiyanto mengajak kepada semua generasi muda khususnya di Desa Ngalang untuk ikut menjaga kelestarian adat budaya yang dimiliki. Menurutnya, generasi muda memiliki kewajiban menjaga kekayaan adat tradisi dan budaya di Desa Ngalang.
"Momentum Nyadran menjadi wisata budaya yang menarik minat para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk datang ke kawasan destinasi wisata Gunung Gentong Gedangsari Gunung kidul (4G). Kami berharap pada tiap tahun pelaksanaan Nyadran dapat terus meningkat baik peserta maupaun warga luar yang ingin menyaksikan," harapnya.
sumber: https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/04/26/op0iww284-warga-gedangsari-gelar-tradisi-gadean-gunung-gentong
#SBJ
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara