Es gandhoel merupakan sejenis minuman es serut yang dicetak dengan cetakan yang terbuat dari plastik berbentuk bulat. Kemudian disiram dengan sirup yang beraneka warna sehingga menyerupai warna pelangi. Saat mencetak es gandhoel tersebut diselipkan tali merang yang berfungsi sebagai gagang atau pegangannya. Tali merang merupakan bagian dari gagang padi. Sehinga es tersebut akan bergoyang jika diangkat tali merangnya. Cara makanyapun dari bawah dengan cara mengangkat tali merang yang menempel pada es gandhoel, kemudian dihisap . Semakin dihisap rasa manisnyapun akan semakin habis seiring dengan mencairnya es yang dicetak tersebut.
Pada jaman dahulu, pada masa penjajahan es gandhoell pernah popular. Sekarang es gandhoel sudah menjadi langka bahkan sudah punah. Namun ada salah seorang warga yang bernama Ela beralamat di Jalan Tohpati Yogyakarta mencoba memperkenalkan kembali es gandhoel tersebut. Hal itu berawal dari cerita neneknya tentang keberadaan es gandhoel pada waktu lalu. Ditambah lagi dengan event tentang makanan dan minuman lawas yang sering diikutinya. Ternyata banyak orang yang tertarik dan mencoba untuk menikmati es gandhoel buatan Ela.
Cara membuat es gandoel hanya dengan menyiapkan bahan es batu yang diserut, sirup sesuai selera, cetakan es yang berbentuk bundar, dan stik es cream (pengganti tali merang). Setelah bahan sudah siap, es yang sudah diserut, kemudian dipadatkan dan dicetak dengan cetakan plastik yang berbentuk bundar, diberi tangkai dari stik es cream. Kemudian disiram dengan beraneka warna sirup. Es gandhoel siap dinikmati.
sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=7339
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara