Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Mitos Sulawesi Selatan Toraja
Eran diLangi
- 15 Mei 2018
KONON, kata sebuah legenda, ketika kehidupan di "Bumi" masih diatur langsung dari "Langit" oleh PUANG MATUA (Tuhan, Sang Pencipta), semua aktivitas keseharian di bumi berlangsung aman, tenteram, dan damai. Bila ada masalah yang muncul dalam perikehidupan sehari-hari diutusla wakil penduduk Bumi ke langit menemui Puang Matua untuk meminta nasihat. Jalur transportasi-komunikasi yang digunakan adalah "Eran diLangi'" sebuah tangga menjulang tinggi menuju langit yang sengaja diciptakan Puang Matua. Lalu, setelah Puang Matua bersabda atas persoalan yang dibentangkan ke hadapan-Nya, wakil penduduk Bumi itu pun turun lewat tanggga yang sama dan menyampaikan segala isi pembicaraanNya dengan Puang Matua kepada sekalian penduduk Bumi untuk kemudian dijadikan pegangan hidup. Selama beberapa generasi ruitinititas ini berjalan lancar. Sampai pada suatu ketika malapetaka itu muncul, berawal dari keinginan keluarga yang berniat mengawinkan anak mereka sesaudara kandung. Konon, keinginana itu dipicu oleh sikap pelit yang telah mereka kumpulkan kelek diwariskan kepada orang lain. Karena keinginan ini tidak umum, diutusla anak lelakinya menemui Puang Matua di lagit untuk meminta petunjuk. Tak ada kata setuju dari Puang Matu. Akan tatapi, dasar manusia, seetiba di Bumi sang anak justru memutarbalikkan isi pesan Puang Matua, sehingga ia akhirnya "direstui" warga bumi untuk menghawini adik kandungnya sendiri. Puang Matua pun marah. Penduduk Bumi kena tulah. Ancaman wabah dan kelaparan terjadi di mana-mana. Sesembahan dan ritus yang digelar oleh penduduk Bumi ditampik-Nya. Di puncak kemarahanNya puang Matua merobohkan Eran diLangi', sekaligus menandai putusnya jalur transportasi-komunikasi langsung antara Bumi dan Lngit. Sis-sia anak tangga menuju ke langit itu berkellimpangan jatuh ke Bumi, lalu membentuk bukit-bukit batu yang kini membentang dari wilayah Desa Rura kabupaten Enrekang hingga Rantepao di Tana Toraja. TENTU saja itu semua hanya legenda. Akan tetapi, dalam kepercayaan asli masyarakat Toraja yang disebut Aluk Todolo, posisi "Legenda Eran diLangi' tadi ternyata secara filosofis memiliki benang merah yang kuat dengan cerita tentang asal-usul aluk itu sendiri. Disebutkan bahwa ketika penghulu adat (tomina) mengajak penduduk naik ke langit untuk mencari aluk, ia dihadapkan pada pertanyaan, "Jalan manakah yang harus ditempuh karena kini sudah tidak ada lagi tangga ke lagit"??.... Sejenak kemudian ia teringat pada ucapan pada leluhur bahwa tangga ke langit itu sama artinya dengan "pinggir bibirmu dan ia ada di ujung lidahmu". (Nakua tomina, Kendekki' langnggan langi' undaka' Aluk. Na umbamo lakupolalan langngan ba'tangna langi' na tae'o tu Eran diLangi'?? Apa nakua to diponene': Samannamo Eran diLangi' tu randan dipundukmu, samannamo enda' dideata tu dara' dilengko lilamu....) Selain percaya pada Puang Matua sebagai dewa tertinggi yang mengatur kehidupan di jagat Bumi, penganut kepercayaan Aluk Todolo juga percya pada berbagai kekuatan yang ada di sekelilingnya. Karena itu, ada berbagai upacara. Namun, pada dasarnya upacara-upacara itu terbagi dalam dua kelompok besar, upacara kegembiraan (rambu tuka') dan upacara kesedihan (rambu solo'). Dalam setiap upacara selalu ada unsur-unsur magis. Sebutla pada upacara ma'bugi yang konon menggunakan siklus lima tahunnan. Dalam upacara untuk mengusir wabah penyakit ini, kadang-kadang disertai ritus yang mereka sebut ma'terre. Dalam ritus ini, dukun atau orang pintar yang bertindak sebagai pemimpin upacara menghapalkan mantra-mantra, lalu mereka yang terserang wabah biasanya kerasukan atau trance. Di tengah arena ditegakkan bambu yang hanya dipegang oleh beberapa orang. Lalu, orang yang kerasukan tadi disuruh naik dan setiba dipuncak turun dengan posisi kepala kebawah. Sesampai di tanah, pemimpin upacara menancapkan pisau ke kening si "sakit" hingga berdarah-darah. "Anehnya, begitu luka tadi diusap dengan daun tabang (pepohonana sejenis perdu yang banyak tumbuh di kaki gunung di Tana Toraja), luka tadi langsung menutup. Tak ada bekas luka sama sekali dan orang tadi kembali sadar," kata Ambe' Ato', penduduk desa Durian, kecamatan Makale. Dia mengaku beberapa kali menyaksikan peristiwa "langkah" itu di tengah-tengah para pemeluk kepercayaan Aluk Todolo yang tinggal di sekitar Gunung Ke'pe', masih dalam wilayah kecamatan Makale. Kisah yang lebih seru adalah apa yang disebut "Roh tebang". Biasanya itu terjadi pada malam hari. Orang "sakti" pemilik ilmu ini secara fisik tengah tidur, tetapi rohnya terbang melanglang buana. Masyarakat percaya karena apa yang ia lihat selama 'terbang', lalu ia ceritakan pada pagi harinya, biasanya benar-benar terjadi. Misalnya, ia mengatakan bertemu roh sesorang yang dalam waktu dekat akan meninggal, ternyata beberapa hari kemudian terdengar berita ada orang meninggal dunia; orang dengan ciri-cirinya seperti yang ia ceritakan. "Memang sulit dipercaya ,tetapi susah juga untuk tidak mempercayainya karena biasanya apa yang ia katakan terbukti kebenarannya. Akan tetapi, sekarang orang yang punya kemampuan seperti itu sudah tyak perna lagi terdengar keberadaannya", kata Mangeka, yang semasa kecil masih sempat hidup di tengah-tengah segala sesuatu yang berbau magis dan mistis. LEPAS dari itu semua, kalau kita datang ke Tana Toraja dan masuk ke dalam kehidupan masyarakat yang masih menganut kepercayaan Aluk Todolo, mitos dan legenda adalah bagian dari keseharian mereka. Namun, dibalik itu semua tersimpan kearifan yang luar biasa. Paling tidak itu bisa disimak dari "petuah-petuah" yang mereka sampaikan, seperti dikatakan oleh salah seorang putra Tato' Denna' salah satu pemangku adat Aluk Todolo dari Siguntu' dan Makale: "Manusia itu memang aneh. Coba saja tengok, kaki kita yang terantuk batu, eh....mulut yang mengaduh..." Sumber: http://torajapuamamitos.blogspot.co.id/2012/04/eran-di-langi.html?m=1

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (PERIUK TANAH)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
BENDA MAGIS MASYARAKAT BATAK
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
Cara menghubungi call center ayopinjam
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999