ELHA atau berburu tradisional secara kelompok pada umumnya orang Sentani dan lebih khusus pada masyarakat Ayapo Sentani-Timur kabupaten Jayapura. ELHAini sudah jarang dilakukan oleh beberapa komunitas orang Sentani akan tetapi masih dipertahankan oleh beberapa kampung di pesisir Danau antara lain Komunitas Orang Sentani yang Berada di Kampung Ayapo. Pelaksanaan Elha bagi masyarakat Ayapo, mempunyai nilai yang tinggi seperti hajatan baik itu untuk keluarga Ondofolo maupun Hajatan keluar untuk masyarakat kampung.
Seperti yang telah diungkapkan diatas bahwa “Elha” ini merupakan hak yang melekat pada Ondoafolo itu sendiri. Dalam melaksanakan Elha, Ondofolo akan memanggil beberapa kepala suku (khotelo) untuk bermusyawarah dari hasil musyawarah ini Ondofolo akan memanggil Pesuruh (abuakho) untuk mengumumkan kepada masyarakat kampung pada malam hari. Pesuruh (abuakho) akan berjalan sambil mengabarkan dengan lantang bahwa akan dilaksanakan Elha, dengan demikian kaum pria akan mempersiapkan diri dengan peralatan berburunya, dan menjaga diri dari beberapa pantangan yang sudah menjadi tradisi mereka. Pesuruh (abuakho) yang melakukan tugas ini adalah Marga Ohodo(Nelhe)dan Tukayo(Niway).
Pantangan sebelum melaksanakan Elha yang harus dihindari adalah; tidak boleh melakukan hubungan badan dengan istri, tidur terpisah dari kaum wanita, tidak boleh makan pagi, tidak boleh menoleh apabila di tegur orang.
Peralatan berburu yang digunakan berupa tombak, masyarakat Kampung Ayapo tidak menggunakan busur panah. Ini disebabkan karena tergantung dengan letak geografi dari kampung itu sendiri yang berupa daerah perbukitan yang diselimuti dengan rerumputan tebal atau alang-alang. Ini sangat berbeda dengan kampung–kampung lain dengan karakteristik lingkungan kampung mereka.
Sebelum Pelaksanaan Elha, dilakukan ritual khususoleh pesuruh (abuakho) dalam hal ini dilakukan oleh Marga Pulanda dan Ohodo. Mereka akan menyalakan Api diperbukitan untuk mengumpulkan masyarakat (kaum pria) sebagai tanda kepada masyarakat kampung bahwa Elha siap dilaksanakan. Setelah berkumpulnya masyarakat pada titik api yang ditentukan maka mereka akan mengatur arah dan strategi, sebelum menuju lokasi perburuan, maka akan dilakukan proses pembersian diri oleh pesuruh(abuakho) yang memlambangkan pembersian diri dari segala hal-hal yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan Elhaseperti; menghindari musibah dalam pelaksanaan Elha, Memberi Kekuatan dan motifasi bagi orang yang terlibat dalam kegiatan Elha. Kegiatan pembersihan ditandai dengan ditabiskan dengan daun adat (Kamea/puring) yang di tepuk pada pundak setiap peserta Elha.
Ada beberapa Lokasi perburuan yang telah ada untuk pelakasnaan Elha ini. Lokasi ini dalam bahasa Sentani disebut “ELHABU”. Penentuan lokasi ini dilakukan oleh marga tertentu yang mempunyai tugas dan fungsi dalam keondofoloan, dalam keodofoloan kampung Ayapo yang bertugas dalam penentuan Elhabuini biasa dilaksanakan oleh marga Pulanda (hebherouw) dan Ohodo(Nelhe). Apabila pelaksanaan Elhadilaksanakan di bagian barat kampung Ayapo, maka yang bertugas adalah marga Ohodo (Nelhe) dan sebaliknya apabila dilaksanakan di bagian timur yang bertugas menentukan lokasi Elhabu adalah marga Pulanda (hebherouw).
Pelakasnaan ELHA biasanya lakukan oleh kaum pria dewasa secara berkelompok sampai dengan 60 orang bahkan lebih, yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok pengusir (Melhi) dan kelompok penikam (Yokho). Kelompok pengusir biasanya jumlahnya lebih banyak dari pada kelompok penikam. Waktu pelaksanaan Elha dilakukan pada pagi hari hingga siang hari.
Apabila hasil buruan telah di dapat, maka masyarakat yang terlibat dalam Elha akan menghiasi dirinya dengan dedaunan dan melantunkan lagu atau syair sukacita oleh semua peserta. Sebelum hasil buruhan dibawa ke kampung maka akan ada orang yang membawa berita kepada ondofolo bahwa mereka telah mendapatkan hasil buruan di lokasi elhabu tertentu dan menyampaikan siapa yang menikam hasil buruan ini, kabar berita ini akan dibawakan oleh marga Ohodo dan Tukayo.
Namu seandainya marga Puhili atau Deda yang menyampaikan berita ini, maka ini menandakan bahwa ada hal yang buruk terjadi dalam proses perburuan contohnya ada yang mengalami luka akibat serangan babi hutan.
Dalam Proses Elha ini apabila ada orang atau anak muda yang pertama kali menikam babi, maka ada syair tertentu yang dinyanyikan sehingga orang di kampung akan mengetahui berita ini dan disambut oleh orang tua mereka karena merasa bangga akan pencapaian yang dilakukan oleh suami atau anaknya. Dan menurut kepercayaan mereka bahwa yang menikam ini akan selalu berhasil dalam setiap buruan yang dilakukan.Peserta Elha dalam perburuan mendapat buruan seperti kangguru, burung, tikus tanah maka akan diserahkan kepada marga Pulanda dan Ohodo atau Tokayo.
Hasil buruan akan di arak dengan nyanyian dan tarian menuju ke obhe (balai adat) untuk disembeli.Pembagian hasil buruan, tergantung kepentingan, ada beberapa jenis buruan atau obhoburu contoh; hajatan kampung hanya di ondofolo dan kepala suku (khotelo), bagian obho heai (bagian rahang bawa, dada dan perut) untuk ondofolo, dan untuk khotelo atau untuk kepentingan masyarakat umum seperti membuat perahu, atau masyarakat akan keluar kampung dalam hajatan besar makan akan mengalami perubahan, bagian heai (bagian rahang bawa, dada dan perut) tetap menjadi hak ondofolo, bagian lengan (yalho)dan paha(bheare) akan di bagikan kepada marga tertentu.
Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Elha ini adalah nilai gotong royong, nilai keperdulian dan nilai kejantanan, wibawa dan kekuatan. Nilai kejantanan, wibawa dan kekuatanini secara tidak langsung dilihat oleh para orang tua. Mereka akan menilai para generasi muda yang terlibat dalam pelaksanaan Elha. Apabila para pemuda yang terlibat tidak mempunyai kekuatan dalam proses elha ini, maka mereka dianggap sudah telah melanggar pantangan dalam kehidupan tradisi budaya mereka atau dalam bahasa orang Sentani disebut hokhom. Hokhom adalah sesuatu menurut orang Sentani yang tidak bisa dilihat seperti; hubungan intimsebelum waktunya, tidur bersamaan dengan wanita yang mengalami haid, dan pantangan lainnya. Pantangan-pantangan ini merupakan sesuatu yang membuat seorang pria lambat untuk bergerak dan pola pikirnya sudah tidak sesuai dengan aturan budaya mereka.
Semua norma budaya yang telah ditanamkan dari waktu ke waktu pada orang Sentani dulunya diajarkan pada rumah inisiasi pria (khombo imea).Norma ini diharapkan dapat dijaga sehingga hokhom ini tidak terjadi pada generasi mereka.
Keberadaan ELHA merupakan salah satu bukti nyata keberadaan budaya yang mempunyai nilai tersendiri bagi komunitas masyarakat adat Sentani pada umumnya dan lebih khusus pada Kampung Ayapo dan sebagai kekayaan khazanah budaya bangsa yang patut di lestarikan demi kehidupan kedepan.
sumber :
http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjayapura/2014/04/26/elha-tradisi-berburu-tradisional-orang-sentani-di-kampung-ayapo-kabupaten-jayapura-provinsi-papua/
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...