Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kepulauan Bangka Belitung Bangka Belitung
Datuk Temiang Belah
- 13 November 2018

ada jaman dahulu kala,sekitar abad ke-18, ditepi  aliran Sungai Letang, Dusun Burung Mandi Desa Mengkubang Kecamatan Manggar,pulau Belitong,hiduplah sepasang suami istri yang terkenal dengan gelar “Datuk Letang”. Untuk kelangsungan hidupnya mereka atasi dengan berladang padi dan menangkap ikan di sungai dengan memakai alat penangkap ikan dari bambu yang disebut Bubu. Pasangan suami istri tersebut sampai menjelang usia lanjut belum juga memperoleh seorang anak. Segala cara dan daya upaya telah mereka lakukan, akan tetapi belum juga berhasil, akhirnya mereka hanya bisa pasrah.

Pada suatu hari, Datuk Letang pergi kesungai untuk melihat hasil tangkapan ikan dari bubunya Tapi apa yang didapatnya hanyalah sepotong bambu yang tersangkut pada bubu. Datuk Letangpun berpikir, mungkin bukan rejekinya hari ini untuk bisa makan ikan. Maka batang bambu tersebut beliau singkirkan dari bubunya, lalu dipasangkannya kembali bubu kedalam sungai. Tetapi anehnya, berkali-kali bambu tersebut masuk kembali kedalam bubunya, walaupun setiap kali setelah sekian kali disingkirkan, sekian kali pula bambu tersebut kembali tersangkut pada bubu beliau. Akhirnya bambu tersebut beliau ambil dan dibawa pulang kerumah dan diserahkannya pada istrinya.Oleh istrinya bambu tersebut dipergunakan untuk alat penindih tikar tempat menjemur padi.

Setelah sekian hari bambu tersebut dipergunakan oleh istri Datuk Letang (Tuk Letang) untuk menindih tikar penjemur padi, pada suatu ketika saat istri Tuk Letang sendirian berada dirumah sambil menunggu jemuran padi dengan memegang sepotong kayu kecil sebagai alat untuk mengusir ayam yang hendak memakan padi, tanpa sengaja bambu tersebut terpukul olehnya dan terbelah menjadi dua bagian. Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang sangat keras melengking yang sempat membuat istri Tuk Letang terperanjat. Setelah beliau dekati bambu yang terbelah dua tadi, terlihatlah sesosok bayi yang terbungkus 2 lapis kain. Lapisan Luarnya disebut Cindaidan lapisan dalamnya disebut Cukin. Selanjutnya bayi tersebut beliau gendong dan ditimang-timang dengan suka citanya. Kegembiraan beliau mendapatkan bayi yang sudah lama diinginkannya akhirnya terkabul, sehingga kegembiraan beliau pada hari itu tidak terkirakan. Tanpa terasa menjelang sore hari baru beliau sadar akan tugas-tugasnya yang terlupakan.

Setelah sekian hari bayi tersebut dipelihara. Pertumbuhan bayi tersebut sangat cepat sekali, tidak seperti bayi biasanya. Hal itu membuat suami istri tersebut semakin gembira dan sangat menyayanginya. Demikian pula dalam waktu singkat anak tersebut telah pandai berbicara dan bahkan pandai mengaji dan melaksanakan sholat tanpa ada yang mengajarinya. Sedangkan pada waktu itu, penyebaran agama Islam belum sampai ke daerah tempat kediaman mereka. Semua tidak lain karena kekuasaan serta atas kehendak Allah S.W.T. Melihat keadaan demikian, membuat istri Tuk Letang semakin bahagia.

Datuk Letangpun sangat berbahagia atas kehadiran anak yg sudah lama diimpikannya. Namun ada hal yang membuat datuk letang bersedih. Kehidupannya pada saat itu masih sangat primitif sekali. karena beliau adalah bukan orang sembarangan. Beliau adalah seseorang yang sakti serta disegani oleh orang-orang disekitarnya. Kehebantannya antara lain beliau dapat pergi kepulau jawa hanya 2 kali mengayuh dayung dengan duduk diatas kayu apung hanya untuk membali garam dapur, dapat mengusir perompak/bajak laut tanpa memakai senjata . Karena kesaktian serta kehebatan beliaulah yang membuat Tuk Letang tidak dapat mengikuti perilaku anak angkatnya tersebut untuk melaksanakan ajaran Islam. Beliau merasa malu kepada anak angkatnya dan kepada dirinya sendiri. Untuk mengikuti perbuatan anak angkatnya bagi tuk letang adalah hal yang tidak mungkin.Karena rasa malunya yang tidak dapat dihilangkannya, akhirnya Tuk Letang berniat meninggalkan istri dan anak angkatnya.

Untuk itu beliau telah mempersiapkan sebuah perahu yang dibuatnya diam-diam disebuah pulau kecil yang terletak dipantai Burung mandi.

Setelah merasa persiapan telah rampung, tanpa berpamitan pada istri dan anak angkatnya, Tuk Letang pergi meninggalkan kampung halamannya dan juga anak angkat dan istrinya. Dan sejak saat itu tidak pernah lagi terdengar kabar berita tentang Datuk Letang.

Kepergian tuk letang membuat istri dan anak angkatnya sangat bersedih. Keadaan demikian dirasakannya pada tahun-tahun pertama kepergian Tuk Letang, selanjutnya berjalan dengan waktu mereka dapat melupakan kesedihan tersebut.

Sepeninggal Tuk Letang, kehidupan Istri Tuk Letang dan anak angkatnya berjalan normal. Sang anak angkat telah menjadi seorang pemuda gagah dan tampan serta taat menjalankan perintah agama Islam, Untuk mengatasi kebutuhan hidupnya, mereka masih berladang padi serta menangkap ikan di sungai dan dilaut.
Untuk menambah ilmu agamanya, sesekali pemuda gagah dan tampan tersebut pergi merantau kepelosok negeri meninggalkan ibu & kampung halamannya,sambil terus menyebarkan agama Islam kenegeri-negeri yang disinggahinya. Akhirnya pemuda tampan dan gagah itu terkenal diseluruh pelosok negeri dan mendapat gelar ”Datuk Temiang Belah”

Dalam perantauannya beliau menikah dan memperoleh anak.Dan salah satu anak Datuk Temiang Belah bernama ”Dalip” yang nantinya akan menjadi seorang Rajadisuatu daerah yang terletak dimuara sungai Lenggang yang terkenal dengan nama ”Tanah Genting” atau lebih terkenal dengan nama ”Keramat Genting” Sedangkan sang Raja ”Dalip” dikenal dengan gelar ”Keria Lenggang Berdarah Puteh”.

Datuk Temiang Belah yg terkenal diseluruh pelosok negeri sebagai penyebar agama Islam, semakin sering meninggalkan kampung halamannya. Ketenaran nama beliau disamping sebagai penyebar agama Islam adalah karena kesaktian beliau antara lain :

1. Beliau dapat Memotong batu gunung tanpa menggunakan alat pemotong menjadi 3 bagian. Hal tersebut beliau lakukan ketika menyelesaikan perselisihan tiga penganut agama agama (islam, kristen dan Kong Fu Tju) karena masing-masing mereka mengakui batu yang dikeramatkan sebagai milik mereka. 3 bagian batu gunung tersebut saat ini masih terdapat di ”Pantai Samak Manggar”, yang dianggap keramat oleh masyarakat sekitarnya.

2.Belau yang memadamkan kebakaran yang melanda Kerajaan Mataram yang telah berlangsung lama hanya dengan secerek air yang belaiu kucurkan disekeliling kerajaan. Atas keberhasilannya, kerajaan Mataram memberikan hadiah sebuah"Parang Kuting" yang beliau rubah bentuknya menjadi "Keris berlok tujuh".keris ini bergagang dan bersarung emas seberat 2 kg

3.Beliau juga dapat membuat benda benda pusaka seperti Pedang (41 macam)dari yang ukuran sepanjang 1.5 meter sampai hanya sebesar batang lidi. Ada yang diberi nama Sundang, Badik, Kedik dan Pedang lidi. Ada lagi Gong tuli (2 buah)yang Jika dipukul oleh keturunannya akan mengeluarkan suara nyaring dan bergaung.Ada lagi Kelinang (12 buah)yg bentuknya seperti gong dan besarnya 1/3nya. Ada lagi Tombak Berambu yaitu Sebuah tombak yang diujungnya terdapat bulu-bulu/ rambut. Dan juga Batu Petunang  (1 buah) yg berbentuk seperti buah kentang terbuat dari kuningan (sebagai alat membunuh jarak jauh) ada dan lain-lainnya. Benda-benda tersebut sampai hari ini sebagian dititipkan di Musium Tanjung Pandan di Belitung. Ahli waris terakhir yang menyimpan benda-benda pusaka tersebut sebelum diserahkan ke Musium Tanjung Pandan adalah: Bapak Said bin Unus bin Mohd.Saleh bin Dalip. Saat ini berusia 80 tahun, dan bertempat tinggal di Desa Sukamandi Desa Mengkubang Kecamatan Manggar.

Menurut cerita orang-orang tua, Datuk Temiang Belah dimakamkan secara simbolis di Puncak Gunung Tajam,Belitung.

Pemakamannya dipuncak gunung tajam sesuai dengan permintaannya pada saat beliau terakhir sekali akan meninggalkan kampung halamannya. Belaiu berpesan, jika beliau meninggal agar dimakamkan disuatu tempat yang terletak diantara langit dan bumi.

mengapa disebutkan secara simbolik, karena yang dimakamkan ditempat tersebut hanyalah TikarR dan Bantal beserta binatang peliharaan beliau seekor kucing yang di kubur berada disamping makan beliau, dan sampai hari ini makam belau itu dikenal oleh penduduk Belitong dengan nama Kermat Gunung Tajam.

Beliau juga berpesan kepada seluruh keturunannya agar melaksanakan Upacara Adat Turun Tangga Tebu. Pelaksanaan upacara adat tersebut saat masih berlaku dan dilaksanakan oleh para Keturunan beliau.
Ketentuan pelaksanaan upacara adat tsb antara lain :
1.Bagi anak laki-laki dan turunannya dari anak laki-lakinya berlangsung seterusnya, mempergunakan 7 tingkatan tangga tebu.
2.Untuk anak perempuan turunan pertama, mempergunakan 3 tingkat anak tangga tebu, sedangkan untuk selanjutnya turunannya tidak melaksanakan upacara adat tersebut.

Pantangan bagi seluruh keturunan dari Datuk Temiang Belah antara lain :
1.Dilarang memakan sayuran yang berasal dari Rebung Bambu.
2.Dilarang Dipukul dengan bambu ataupun barang yang beruas atau berbuku


Demikianlah secara singkat Legenda sejarah leluhur Datuk Temiang Belah.

Sumber:

http://kennyericksdongengbangkabelitung.blogspot.com/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu