batak punya cerita
DATU PARNGONGO Maret 04, 2015
Dulu di tanah Batak ada seorang raja bernama Datu Parngongo. Dia sangat dicintai rakyatnya dan disegani teman-temannya.Datu Parngongo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Poda. Dia sangat sayang kepada anaknya itu.Suatu hari Poda menyampaikan keinginannya untuk menjadi raja. Karena rasa sayang kepada anaknya, Datu Parngongo memutuskan untuk mengabulkan permintaan itu. Dia pergi ke suatu tempat untuk menyepi. Hanya Marhati, pembantunya yang setia, yang tahu ke mana dia pergi. Sepeninggal ayahnya, Poda mengangkat dirinya menjadi raja. Berbeda dengan Datu Parngongo, Poda memerintah dengan sewenang-wenang. Poda juga sering menyuruh tentaranya menjarah harta milik rakyat di negeri tetangga. Akibatnya Raja Losung, raja di negeri seberang menjadi marah. Dia memanggil raja-raja yang ada di sekitarnya untuk berunding. Lalu mereka sepakat untuk mengundang Poda datang ke negerinya untuk berjudi. Dengan senang hati Poda memenuhi undangan itu. Dibawanya tiga kantong emas untuk taruhan. Marhati juga diajaknya untuk menemani. Acara diadakan di ruang balairung. Raja Losung mengeluarkan sekantung emas. Poda menuang sekantung uang emas di atas tumpukan emas itu, lalu dadu pun dilempar. Taruhan pertama Poda kalah ,pada taruhan yang kedua dan ketiga juga mengalami kekalahan. Akhirnya Poda tidak mempunyai emas lagi untuk dipertaruhkan. Tetapi karena sombong, Poda tidak mau mundur dari pertaruhan. "Ku pertaruhkan istana dan tanah pusaka milik kerajaan!" serunya. Marhati terkejut mendengarnya. Dia menatap Poda dengan cemas. Tetapi anak itu kelihatan sudah tidak peduli dengan nasihat. Seperti sudah diduga, Poda kalah dalam taruhannya yang terakhir. Kini dia tidak punya apa-apa lagi. Karena Raja Losung kenal bai dengan Raja Parngongo,kemudian dia berkata ke pada Poda , "Semua taruhanmu akan kukembalikan, asal kau sanggup menjawab dua pertanyaan yang akan kuajukan," kata Raja Losung. Raja Losung mengambil sebuah alu, alat untuk menumbuk padi. "Ini pertanyaan pertama," kata Raja Losung. "Coba kau tunjukkan mana ujung dan mana pangkal dari alu ini." Kemudian Raja Losung mengeluarkan sebuah kotak kecil. "Ini pertanyaan kedua. Di dalam kotak ini ada sepasang semut. Coba tunjukkan mana semut jantan dan mana semut betina. Nah, kuberi waktu satu jam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku itu!" kata Raja Losung. Lalu gong dipukul, sebagai tanda waktu mulai dihitung. Poda mengamati kayu bulat dan sepasang semut itu, tetapi dia tidak bisa membedakannya. Marhati segera meninggalkan tempat itu menuju ke tempat Datu Parngongo menyepi. Diceritakannya kemelut yang sedang dihadapi Poda. "Pergilah sebelum waktunya habis," kata Datu Parngongo. Marhati segera memacu kudanya kembali ke arena taruhan. Segera Marhati mendekati Poda.Sementara Raja Losung terus mendesak "Bagaimana?" Tanya Raja Losung. Dan mendesak lagi, "Apa jawabanmu?" Setelah dapat bisikan dari Marhati ,kini wajah Poda tidak lagi cemas seperti sebelumnya. Dengan tenang dia maju ke depan. Diambilnya alu itu, dibawanya ke sungai yang mengalir di dekat istana. Pelan-pelan ditaruhnya alu itu ke dalam air. "Yang tenggelam lebih dulu, itulah pangkalnya. Karena usianya lebih tua daripada ujungnya, maka dia akan lebih berat." Sahutnya. "Bagus!" seru Raja Losung. "Jawabanmu benar. Bagaimana dengan pertanyaan kedua!" seru Raja Losung mengatasi sorak-sorai penonton. Poda mengambil kotak kecil itu. Kemudian dia minta dibawakan kuali berisi air. Diletakkan semut itu ke dalam kuali. Begitu menyentuh air, seekor semut berusaha berenang ke tepi untuk menyelamatkan diri. Sementara semut yang lain pelan-pelan tenggelam di dalam air. Lalu Poda berkata, "Semut yang berenang ke pinggir itu semut yang jantan. Karena dia lebih berani dan lebih kuat. Sedang yang tenggelam itu semut betina," Wow! Semua yang hadir mendecak kagum. Mereka tidak menyangka Poda bisa menjawab pertanyaan yang sulit itu. "Ternyata kau seorang anak muda yang cerdik," kata Raja Losung kagum. "Sebetulnya aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu,"Jawab Poda terus terang.kemudian dia berkata. "Marhati yang membisikkan jawabannya kepadaku." "Bukan aku!" sahut Marhati dengan suara keras. "Tapi Datu Parngongo. Dia yang memberitahukan jawabannya kepadaku." Poda menjadi malu dengan tingkah lakunya selama ini. Diajaknya Marhati menemui ayahnya. "Ayah," katanya. "Kembalilah ke istana. Sekarang aku sadar kalau aku belum bisa menjadi seorang pemimpin." Datu Parngongo menolak ajakan Poda untuk kembali ke istana. "Ayah percaya, mulai saat ini kau akan menjadi pemimpin yang baik. Marhati akan mendampingimu sebagai penasihat," kata Datu Parngongo sambil menepuk pundak Poda dengan kasih sayang. Sejak saat itu Poda berusaha menjadi seorang pemimpin yang baik. Sehingga akhirnya dia menjadi raja yang dicintai rakyatnya dan disegani raja-raja lain. Sumber:http://ceritarakyatbatak.blogspot.co.id/2015/03/datu-parngongo_4.html
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...