Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Surabaya
Cindelaras Cerita Daerah Jawa Timur
- 3 Desember 2014 - direvisi ke 2 oleh Bangindsoft pada 12 November 2021

Alkisah, Raja Kerajaan Jenggala yang bernama Raden Putra mempunyai dua orang istri. Istri pertama adalah Sang Permaisuri yang berhati baik serta sangat cantik wajahnya. Sedang istri kedua Raja Jenggala adalah Sang Selir yang juga cantik wajahya tapi berhati jahat. Sang Selir selalu iri pada Sang Permaisuri. Ia memiliki rencana jahat untuk menyingkirkan Sang Permaisuri dari istana agar perhatian Raden Putra hanya tercurah padanya.

Dalam menjalankan aksinya, Sang Selir bekerja sama dengan tabib istana. Sang Selir berpura-pura sakit. Ketika Raden Putra bertanya pada tabib istana perihal sakit istri keduanya itu, tabib istana mengatakan bahwa Sang Selir telah diracun oleh Sang Permaisuri.

Raden Putra hampir tidak percaya mendengar Sang Permaisuri telah bertindak jahat dengan meracuni Sang Selir. Akhirnya Raden Putra memerintahkan patihnya untuk membuang Sang Permaisuri ke hutan dan kemudian membunuhnya setelah sampai di hutan.

Patih Kerajaan Jenggala merasa Sang Permaisuri tidak bersalah namun mau tidak mau ia harus menuruti perintah Raden Putra. Sang Patih segera membawa Sang Permaisuri untuk diasingkan di hutan. Setibanya di hutan, Sang patih tidak membunuh Permaisuri. Ia menangkap seekor kelinci kemudian disembelihnya kelinci tersebut. Kemudian ia mengusapkan darah kelinci pada keris pusakanya sebagai bukti pada Raja Jenggala bahwa ia telah membunuh Permaisuri.

“Terima kasih Paman Patih atas bantuanmu. Aku tidak akan melupakan kebaikan Paman Patih.” kata Permaisuri pada Patih Kerajaan.

Sepeninggal Patih Kerajaan, Sang Permaisuri tinggal sendiri di tengah hutan dengan keadaan tengah mengandung. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Sang Permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Ia memberinya nama Cindelaras.

Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak laki-laki tampan lagi tangkas. Sejak kecil ia telah terbiasa bergaul dengan hewan-hewan di hutan. Hewan-hewan tersebut menjadi dekat dan menurut pada perintah Cindelaras.

Pada suatu hari, seekor burung rajawali menjatuhkan sebutir telur ayam didekat Cindelaras. Telur tersebut kemudian diambil oleh Cindelaras dan dieramkan pada seekor ayam hutan betina sahabatnya. Tiga hari kemudian, telur tersebut menetas.

Cindelaras merawat ayam tersebut dengan baik hingga tumbuh menjadi seekor ayam jago yang kuat lagi kekar. Paruhnya runcing dan kokoh. Kedua kakinya terlihat kekar dengan kuku-kuku runcing lagitajam. Satu hal yang aneh dari ayam jago milik Cindelaras ini adalah suara kokoknya. “Kukuruyuuuuk….Tuanku bernama Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, ayahnya adalah Raden Putra.”

Cindelaras merasa heran dengan suara kokok ayamnya. Ia kemudian menanyakan perihal kokok ayam tersebut pada ibunya. Sang Permaisuri, ibu Cindelaras, kemudian menceritakan kejadian yang menimpa mereka. Sang Permaisuri mengatakan bahwa Cindelaras adalah putra Raden Putra, Raja Kerajaan Jenggala. Ibunya juga menceritakan bahwa ia terusir ke tengah hutan karena mendapat fitnah dari Selir Raden Putra.

Setelah mengetahui asal-usul dirinya dan ibunya, Cindelaras meminta izin pada ibunya untuk pergi ke istana. Ia ingin membersihkan nama ibunya dari fitnah Selir Ayahnya. Ia membawa serta ayam jago miliknya. Di tengah perjalanan menuju istana Kerajaan Jenggala, Cindelaras bertemu dengan beberapa orang tengah mengadu ayam. Melihat Cindelaras membawa seekor ayam jago, mereka menantangnya untuk mengadu ayam. Namun Cindelaras menolaknya karena tidak memiliki taruhan.

“Bagaimana aku bisa mengadu ayam jagoku dengan ayam kalian, sementara aku tidak memiliki taruhan.” kata Cindelaras.

“Kalo begitu, taruhannya adalah dirimu sendiri. Jika engkau kalah, engkau harus bekerja padaku. Tapi jika engkau menang, aku akan memberimu banyak harta. Bagaimana setuju?” kata para pengadu ayam.

Sebenarnya Cindelaras ragu-ragu untuk mengadu ayam jagonya. Tapi ayam jago miliknya meronta-ronta, terlihat seperti memintanya untuk menerima tantangan tersebut. Akhirnya Cindelaras bersedia menerima tantangan para pengadu ayam.

Ketika ayam jago miliknya diadu dengan ayam lain, hanya dalam beberapa gebrak saja ayam jago milik Cindelaras dapat mengalahkan musuhnya. Satu-persatu ayam para pengadu ayam dapat dikalahkan dengan mudah oleh ayam jago Cindelaras. Sudah tidak terhitung berapa banyak uang dan perhiasan yang diperoleh Cindelaras dari hasil adu ayam ini. Dalam waktu singkat, kehebatan ayam jago Cindelaras tersebar ke seantero negeri. Sejumlah penyabung ayam berpendapat hanya ayam milik Prabu Raden Putra saja yang mampu menandingi ayam Cindelaras.

Kabar ini akhirnya sampai juga ke telinga Raden Putra. Raden Putra ingin mengadu ayam miliknya dengan ayam jago Cindelaras. Ia kemudian memrintahkan prajuritnya untuk membawa Cindelaras beserta ayam jagonya ke istana untuk diadu dengan ayam milik Raden Putra.

Tidak lama kemudian, Cindelaras berhasil ditemui oleh para prajurit kerajaan dan membawanya ke istana Kerajaan Jenggala untuk bertemu Raja Jenggala. “Engkaukah yang bernama Cindelaras pemilik ayam jago tangguh? Maukah engkau mengadu ayam milikmu dengan ayam jago milikku?” tanya Raden Putra.

“Hamba bersedia Gusti Prabu.” kata Cindelaras yang mengetahui bahwa Raja Jenggala di hadapannya adalah ayahnya.

“Kalo begitu apa taruhanmu?’ tanya Raden Putra.

“Taruhannya, jika ayam jago hamba kalah, hamba serahkan nyawa hamba pada Gusti Prabu. Tapi jika ayam jago hamba menang, hamba meminta separuh wilayah Kerajaan Jenggala. Hamba harap Gusti Prabu tidak tersinggung dengan tawaran taruhan hamba.” ujar Cindelaras.

“Baik. Mari kita mulai duel ayam jago kita. Bersiaplah engkau untuk dipenggal oleh algojo kerajaan seusai pertarungan ini.” kata Raden Putra.

Kerajaan pun menyiapkan pertarungan kedua ayam jago tersebut di alun-alun istana. Warga berduyun-duyun ingin menyaksikan pertarungan ini. Tidak sedikit diantara warga yang melakukan taruhan mendukung ayam jago milik Cindelaras atau milik Raden Putra.

Ayam Jago Cindelaras Mengalahkan Ayam Jago Raden Putra

Tibalah kedua ayam jago tersebut saling dihadapkan di alun-alun istana. Ayam jago milik Cindelaras terlihat kalah besar dan kalah kekar jika dibandingkan dengan ayam jago milik Raden Putra. Namun ayam jago Cindelaras nampak tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Dengan diiringi sorak-sorai penonton, dimulailah pertarungan kedua ayam ini.

Meski bertubuh lebih kecil, ayam jago milik Cindelaras nampak sangat tangguh dan mampu membuat ayam jago milih Raden Putra kepayahan. Patukan paruh dan tendangan kakinya sangat kuat dan bertenaga. Berkali-kali ayam jago miliki Raden Putra jatuh terpental. Serangan-serangan balasan dari ayam jago Raden Putra dengan mudahnya ditangkis. Melihat kenyataan ini, Raden Putra mulai cemas. Ia khawatir ayam jago miliknnya akan kalah dan ia akan kehilangan separuh wilayah kekuasaannya. Kekhawatiran Raden Putra nampaknya menjadi kenyataaan. Tidak lama kemudian ayam jago miliknya berkaok-kaok dan lari meninggalkan arena pertarungan. Nampaknya ia sudah tidak sanggup melawan ketangguhan ayam jago milik cindelaras. Para penonton yang menjagokan ayam Cindelaras bersorak-sorai gembira.

Raden Putra merasa terkejut dan badannya lemas. Walaupun masih belum bisa menerima kekalahannya ayam jagonya, namun ia sebagai Raja Jenggala harus menjaga kehormatannya dengan menepati janji. Ia harus rela menyerahkan separuh wilayah kekuasaan Kerajaan Jenggala pada Cindelaras.

Setelah selesai bertarung, mendadak ayam jago Cindelaras berkokok. “Kukuruyuk….Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah hutan rimba, atapnya daun kelapa, ayahandanya adalah Raden Putra…”.

Raden Putra keheranan dengan ayam jago Cindelaras. “Cindelaras, benarkah apa yang dikatakan ayam jago milikmu itu?”. Tanya Raden Putra.

“Benar paduka. Menurut ibu hamba yang sekarang berada di hutan rimba, Hamba adalah putra Gusti Prabu. Ibu hamba adalah Permaisuri Paduka yang diasingkan ke hutan. Beliau difitnah oleh Selir. Percayalah Gusti Prabu, Ibu Hamba tidak bersalah.” kata Cindelaras.

Melihat kejadian tersebut Sang Patih Kerajaan segera menghadap Raden Putra. “Ampun Gusti Prabu. Hamba tidak melaksanakan titah Gusti Prabu untuk membunuh Sang Permaisuri. Karena hamba tahu Sang Permaisuri hanyalah korban fitnah Sang Selir yang bekerja sama dengan tabib istana. Dan Cindelaras ini adalah putra Gusti Prabu.” kata Sang Patih Kerajaan.

Raden Putra segera memanggil Sang Selir dan tabib istana. Di hadapan Raden Putra, akhirnya mereka mengakui perbuatan jahat mereka dan memohon ampun. Raden Putra kemudian menjatuhi hukuman mati bagi tabib istana, sementara Sang Selir dihukum dengan diasingkan ke hutan rimba.

Raden Putra kemudian memerintahkan para prajuritnya untuk menjemput Sang Permaisuri dihutan pengasingan. Akhirnya terbongkarlah kejahatan Sang Selir dan tabib istana. Sang Permaisuri dan anaknya Cindelaras, kini hidup berbahagia di istana Kerajaan Jenggala. Kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan kejahatan.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker