Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
cerita rakyat Jawa Timur Kediri
Cerita Rakyat Dewi Sekartaji dan Sejarahnya di Masa Lampau
- 6 Januari 2019
Dikala masa Kerajaan Jenggala - Kediri saat di perintah oleh pemerintahanPrabu Lembu Amiluhur tersebutlahRaden Panji Inu Kertapati. Ia adalah pangeran Yang cukup dikenal dengan baik oleh banyak masyarakat kala itu karena kebaikan luhur budi nya, tanpan dan sakti mandraguna. Beliau Prabu Lembu Amiluhur adalah putra mahkota dari kerajaan Jenggala - Kediri
 
Ramalan dan Kepercayaan Kuno 
 
Raden Panji memiliki istri yang amat sangat dan teramat sangat cantik dan halus bahasanya beliau adalah Dewi Sekartaji atau Dewi Candra Kiranaatau Putri Kediri . Pujangga kerajaan pernah meramalkan tentang kerajaan kerajaan nusantara , bahwasanya kerajaan nusantara akan lahir raja raja besar dari pasangan Raden Panji dan Dewi Sekartaji .
 
Akan tetapi ini bukan hal mudah , pasalnya untuk dapat menjadikan kenyataan ramalan tersebut Raden Panji dan Dewi Sekartaji harus melewati hal hal sulit dengan mendekatkan lebih dekat kepada sang penciptanya dengan memperbanyak itikaf .
 
Kisah Mengharukan Raden Panji dan Dewi Sekartaji
 
Dewi Sekartaji bersama Raden Panji Putera dari Kerajaan Jenggala adalah pasangan serasi. Suatu ketika sang Dewi Sekartaji mengandung dan di tengah kandungannya itu sang Dewi mempunyai keinginan sebagaimana umumnya tanda tanda wanita mengandung. 
 
Apa yang kamu inginkan saat ini wahai istriku ? tanya sang suami.
Aku menginginkan  makan daging menjangan putih, " pinda Dewi Sekartaji". Permintaan itu terdorong selera yang sangat menggoda pada saat mengidam. Betapapun menjangan putih itu sangat sulit di temukan , namun Raden Panji tetap menyanggupinya.
 
Hutan Larangan dan Mistiknya
 
Pada suatu hari Raden Panji disertai isterinya berburu ke hutan. Mereka tiba di hutan Larangan. Hutan Larangan kala itu dikenal sebagai hutan terlarang karena angker dan mistiknya. Memasuki hutan sebagaimana mestinya sunyi senyap tanpa ada orang selain mereka " Dewi Sekartaji dan Raden Panji ".
 
mereka " Dewi Sekartaji dan Raden Panji " berburu dari pagi hingga petang tidak mendapati menjangan putih yang di idam-idamkan. Malam mulai menyelimuti hutan Larangan. Sebaiknya kita beristirahat disini , " ujar Dewi Sekartaji kepada Raden Panji ". Mereka " Dewi Sekartaji dan Raden Panji " segera mendirikan kemah. Sebelum tidur pasangan ini bermesrahan layaknya pengantin yang sedang berbulan madu.
 
Nampaknya di tengah kemesrahannya itu mereka sedang di awasi oleh dedemit hutan Larangan. Tersebutlah Kalakunti , " Dia harus menjadi suamiku "  ucap Kalakunti yang geram saat melihat sepasang sejoli itu bermesrahan. Kalakunti adalah kuntilanak ganas yang mendiami hutan Larangan itu. Kalakunti menginginkan Raden Panji untuk menjadi suaminya.
 
 
 
 
 
 
medium;">Untuk mewujudkan tujuan itu Kalakunti mencari cara untuk dapat menggoda dan menjerumuskan keduanya di dalam kebingungan yang nyata. Saat matahari telah terbit terdapat babi hutan yang menjelma menjadi menjangan putih sedang mengendap ngendap di sekeliling Kemah dari Raden Panji dan Dewi Sekartaji. Tidak ingin membangunkan Sang Istri yang sedang tertidur dengan lelap. 
 
Dengan segera Raden Panji memburunya sampai akhirnya berpisah jauh dengan istrinya. Dalam hati Raden Panji , " Aku harus sesegera mungkin mendapatkan menjangan putih ini ". Tetapi Raden panji gelisah karena semakin jauh dengan sang istri sedang menjangan putih berlari menjauhi perkemahannya. Kalakunti tertawa kegirangan karena daya dan upayanya berhasil. 
 
Tiba tiba Istrinya berada di belakang Raden Panji. Suami yang melihat istrinya datang dengan senang hati berkata , " syukurlah kamu dapat mengikutiku hingga kesini ". Padahal itu adalah kalakunti yang sedang menjelma menjadi Dewi Sekartaji Palsu. Ayo kejar terus menjangan putih itu kanda," pinta sang Dewi Sekartaji palsu,". Raden Panji akhirnya dapat memburu menjangan putih itu dan membidiknya dengan tepat. Dengan hati yang berbunga bunga Raden Panji memberikan daging menjangan putih itu kepada Dewi Sekartaji palsu.
 
Dengan lahap Dewi Sekartaji palsu melahapnya daging panggang menjangan putih itu. Setelah itu mereka kembali ke Istana bersama Dewi Sekartaji Palsu. Sedang Dewi Sekartaji Asli terperangkap di hutan bersama dedemit Hutan Larangan ," Kalawarok ". Hingga dalam waktu yang lama Kalakunti (Dewi Sekartaji Palsu)  mengutarakan kepada suaminya bahwa kandungannya sudah semakin besar.
 
Dewi Sekartaji palsu sudah saatnya melahirkan. Betapa gembiranya Raden Panji menyambut kelahiran anaknya itu. Namun ketika bayi itu lahir, istana kerajaan gempar. Sebab bayi laki- laki yang dilahirkan berbentuk aneh. Badannya besar bagaikan bayi raksasa. 
 
Kulitnya hitam legam. Giginya tumbuh bagai gergaji. Pada kedua sudut bibirnya menonjol taring yang runcing. “ Kuberi nama Pangeran Muda,” tutur Raden Panji menamai puteranya. Semakin bertambah umur, Pangeran Muda semakin mengerian. Tabiatnya pun sangat keras. Ia sering mengamuk.
 
Raden Panji sangat malu melihat puteranya bertabiat buruk. Ia bermaksud mengurung puteranya itu di salah satu ruang. “ Anak kita jangan dikekang apalagi dkurung. Berilah kebebasan sepuas-puasnya,” kata Sekartaji palsu menahan keinginan suaminya. Raden Panji tidak bisa membantah. Ia menuruti kemauan istrinya. 
 
Pada suatu hari ia mendatangi sebuah pasar desa. “ Hem, daging mentah ini sangat lezat. Baik akan kusantap semua,”kata Pangeran Muda. Para pemilik daging itu berusaha menghalang-halangi Pangeran Muda mengambil daging mentah yang akan dimakan. Melihat keadaan itu Pangeran Muda mengamuk. Ia merusak apa saja yang ditemuinya. Orang- orang berlarian menghindari serangan Pangeran Muda. Pangeran Muda mengejar orang- orang itu sampai ke dusun- dusun, tertangkap langsung dipukul dan disiksa. 
 
Banyak yang menemui ajal. Di tengah- tengah keberingasan Pangeran Muda itu, tiba- tiba tampak sekelebat bayangan seorang pemuda melompat tepat berada dihadapan Pangeran Muda. “ Raksasa biadab ! Sungguh kejam kau! Kedatanganku ingin menghabisi nyawamu !” tantang seorang pemuda.
 
“Berani benar kau! Awas kusantap hidup- hidup!” ancam Pangeran Muda berwajah garang. Seketika itu pula terjadilah pertarungan seru. Pangeran Muda berkali- kali kena pukulan dari pemuda itu. Dalam keadaan terdesak, Pangeran Muda melarikan diri dan melapor kepada ayahnya., Raden Panji dan istrinya mendapat laporan Pangeran Muda perihal kekalahan melawan seorang pemuda dusun. 
 
Mereka segera berangkat menuju di mana seorang pemuda itu berada.
“Oh, rupanya raksasa jahat itu putera Tuan,” kata seorang,” kata  pemuda itu sambil menyembah. “ Maafkan hamba, karena hamba telah menyakiti putera Tuan,” tambahnya. “Siapa namamu ? “tanya Raden Panji.
 
“Nama hamba Jaka Putera. Ibu hamba bernama Dewi Sekartaji,” jawab pemuda itu. Ibu hamba mengatakan bahwa ayah hamba bernama Raden Panji putera Raja Janggala,” lanjutnya. Betapa terkejutnya hati Raden Panji mendengar pengakuan Jaka Putera. 
 
Dewi Sekartaji palsu tampak gelisah dan segera mendesak suaminya agar segera menangkap Jaka Putera untuk dijebloskan ke dalam penjara. Namun, Raden Panji tidak mengikuti kemauan Dewi Sekartaji palsu itu.
 
Dewi Sekartaji palsu langsung menyerang Jaka Putera. Jaka Putera  langsung melemparkan pukulan maut tepat mengenai dada Dewi Sekartaji palsu. Seketika itu juga tubuh Dewi Sekartaji palsu terbakar, bentuk dan rupa dirinya berubah menjadi Kalakunti, lantas badannya kejang dan segera menghembuskan nafasnya yang terakhir. 
 
Pangeran Muda melihat ibunya tewas, langsung melompat hendak mencengkram kepala Jaka Putera. Namun Pangeran Muda terkena tendangan maut Jaka Putera, seketika itu juga tubuh Pangeran Muda gosong, ia tewas mengenaskan. Setelah Jaka Putera berhasil mengalahkan kedua makhluk itu, ia langsung menyembah Raden Panji.
 
“ Maafkan, Ayah. Ayahanda telah menjadi korban iblis betina yang bernama Ni Kalakunti yang telah menjelma menjadi ibunda,” ungkap Jaka Putera. Raden Panji mengakui Jaka Putera sebagai anak kandungnya. Ia pun ingin bertemu dengan ibu kandung Jaka Putera.
 
Pertemuan Raden Panji dengan Dewi Sekartaji sangat mengharukan. Mereka melepas rindu sambil meneteskan air mata dengan tak henti- hentinya. Dewi Sekartaji menjelaskan apa yang telah dialami di hutan. Demikian pula Raden Panji mengungkapkan pengalamnnya selama berpisah dengan istri yang dicintainya. Mereka bangga karena telah mempunyai anak yang membela kebenaran.
 
“ Dinda, kita harus segera kembali ke istana,” ajak Raden Panji kepada istrinya. Mereka bertiga tiba di istana dan disambut penuh dengan sukacita  oleh kedua orang tuanya. Akhirnya Raden Panji dan Dewi Sekartaji dapat membangun keluarga bahagia dan sejahtera.
 
Sumber : https://www.kuwaluhan.com/2017/04/legenda-dewi-sekartaji-putri-kediri.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah