Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Kalimantan Selatan
5_Cerita Raden Carang Lalean
- 20 Mei 2018
Alkisah Rakyat ~ Atas perintah Lembu Mangkurat maka dibangunlah sebuah mahligai dan padudusan. dengan disertai menembak meriam dan menabuh gamelan. Raden Carang Lalean dan Puteri Kalungsu dimandikan dengan segala upacara. Dan kemudian Raja baru itu pun meletakkan mahkota diatas kepalanya. Di dalam peraturan negara tidak ada perubahan yang diadakan. Tiap-tiap hari Sabtu tetap diadakan kesempatan untuk menghadap.
 
Cerita-Raden-Carang-Lalean.jpg

Tak lama kemudian permaisuri melahirkan seorang putera yang dinamai SEKAR SUNGSANG. Ketika putera  raja ini baru berumur 6 tahun, raja menerangkan akan "kembali ke asal". Dan menyerahkan pemerintahan kepada Lembu Mangkurat, sementara Raja Putera belum dewasa. Kemudian raja pun melenyap dari pemandangan mata yang menimbulkan kesedihan dari seluruh rakyat dan keluarga istana.

Tidak sesudah itu, suatu waktu puteri Kalungsu membikin kue juadah. Sekar Sungsang yang masih muda belia itu kadang-kadang datang mendekati ibunya untuk meminta makan. Karena juadah itu belum masak, maka ibunya menyuruh ia supaya pergi dulu.

Tetapi akhirnya Sekar Sungsang tidak dapat lagi menahan selera nafsunya. Maka diambilnya sedikit kue juadah itu. Melihat hal ini ibunya menjadi gusar. Dan memukul dengan sebuah sendok dikepalanya. Dengan kepala yang bercucuran darah, anak ini lari makin lama makin jauh sehingga akhirnya tidak setahu siapa juapun. Kemudian ia dilihat oleh seorang pedagang bernama Juragan Balaba yang datang ke Negradipa untuk berniaga. Juragan Balaba pada waktu itu telah menduga bahwa anak itu bukanlah anak biasa saja, karena dari tubuhnya keluar cahaya yang bersinar. Karena semua anak buah kapal ingin segera berangkat maka Juragan Balaba pun mengambil keputusan akan segera berlayar dengan membawa Raden Sekar Sungsang.

Tak lama kemudian permaisuri menitahkan mencari anaknya ke semua pelosok tapi sia-sia saja usaha itu. Hanya ada beberpa orang yang menerangkan bahwa mereka melihat sebuah kapal berlayar dengan membawa seorang anak, tetapi mereka tidak dapat juga memastikan apakah anak itu Raden Sekar Sungsang yang dicari itu. Walaupun kapal itu di kejar namun tak ketemu juga. Karena telah menuju laut lepas. Lembu Mangkurat kemudian menitahkan menyiapkan empat buah kapal untuk pergi keseberang lautan. Akhirnya kapal-kapal itu sampai di Surabaya. Disini diadakan penyelidikan dimana-mana, tetapi ternyata seseorang pun tidak dapat memberikan penjelasan. Setiap saat Lembu Mangkurat mengirm penyelidik-penyelidik tetapi jejak anak itu tidak juga ditemukan.

Raden Sekar Sungsang yang sementara itu bergelar Ki Mas Lelana, telah dianggap oleh Juragan Balaba dan isterinya sebagai anak kandung mereka sendiri. Ayah dan bundanya ini ingin supaya ia beristeri, tetapi Ki Mas Lelana sendiri belum mempunyai keinginan. Juga sesudah ayah angkatnya itu meninggal, Ki Mas Lelana tetap tinggal di Surabaya. Pada suatu hari ia menerangkan cita-ctanya untuk pergi ke Negeradipa bersama-sama dengan Juragan Dampu Awang untuk berniaga. Mula-mula ibu angkat Ki Mas Lelana menahannya, tetapi karena Ki Mas Lelana sudah berketetapan hati untuk pergi, maka dengan perasaan sedih ibu angkatnya melepaskan kepergiannya juga. Dengan segera mereka berlayar mengarungi lautan.
 
 

Tatkala sampai di Negaradipa, maka Dampu Awang dan Ki Mas Lelana mulai berniag. Lembu Mangkurat ikut juga berbelanja pada Dampu Awang dan Ki Mas Lelana. Bahkan Lembu mangkurat mengharap supaya Ki Mas Lelana tinggal di Negaradipa sampai musim yang akan datang dan ia akan menyerahkan sebuah rumah dengan pekarangannya. Juragan Dampu Awang mendapat perintah supaya memberitahukan hal ini kepada ibu anagkat Ki Mas Lelana, bahwa ia akan kembali ke Jawa pada tahun depan. Sementara itu Lembu Mangkuat mencoba menganjurkan Puteri Kalungsu supaya kawin lagi. Ia mengabarkan bahwa seorang saudagar muda turunan dari raja Majapahit, muda dan cantik sekarang tinggal di rumahnya. Mua-mula permaisuri tidak mau,tetapi kemudian ia meminta supaya orang asing itu datang menghadapnya pada hari Sabtu.


Dengan suatu upacara kebesaran, pada keesokan harinya Lembu Mangkurat denganberpakaian yang indah dan tanda-tanda kebesaran menuju ke Sitiluhur. Begitu juga dengan Ki Mas Lelana. Ketika tiba di Sitiluhu, maka duduklah ia dibelakang Lembu Mangkurat. Tatkala Puteri Kalungsu memandang kepada pemuda yang gagah itu, maka puteri pun menjadi jatuh cinta kepadanya. Dan tatkala Lembu Mangkurat meminta jawaban.Puteri Kalungsu menyatakan peersetujuannya. sedangkan saudagar muda itu sesudah menimbang -nimbang mengatakan pula persetujuannya.

Sebuah padudusan didirikan dalam tujuh hari lamanya. Perkawinan itu dirayakan menurut adat istiadat raja-raja yang terdahulu. Tetapi walaupun Ki Mas Lelana adalah keturunan dari Raja Majapahit, ia tidak dapat juga  dijadikan raja, karena ia tidak lahir ke dunia melalui bertapa. Jika seandainya dari perkawinan itu lahir seorang putera, maka ialah yang akan menjadi raja, karena ibunya berasal dari raj yang lahir dengan kekuatan gaib. Dengan demikian maka untuk sementara Lembu Mangkurat tetap menjadi wakil Raja di Negaradipa.

Ketika pada suatu hari Puteri Kalungsu sedang membersihkan kepala suaminya, maka ia melihat sebuah tanda bekas luka dan ia menanyakan sebab-sebabnya. Mula-mula Ki Mas Lelana menerangkan bahwa ia sendiripun tidak mengetahui. tetapi ketika isterinya terus menerus mendesak, akhirnya ia menceriterakan bagaimana ketika ia masih kecil. Pada suatu hari mendapat pukulan dikepala dari ibunya, sebab ia membikin gusar hati ibunya dengan meminta berulang-ulang kue juadah yang sedang ditanakj. Di ceriterakannya pula bahwa ia kemudian melarikan diri dan beberapa tahun tingal di Jawa. Selain dari itu ia tidak tahu apa-apa. Dengan terperanjat Puteri Kalungsu menolak kepala suaminya dari pangkuannya.

"Jika demikian engkau adalah anakku Sekar Sungsang"! menjerit puteri Kalungsu.

Ki Mas Lelana meniarap dengan menangis dikaki ibunya dan memohon ampun dan mengharap supaya membunuhnya. Puteri Kalungsu memanggil Lembu Mangkurat dan kepadanya diceriterakan peristiwa yang mengejutkan itu. Lembu Mangkurat tidak mengambil suatu keputusan, tetapi mengharap supaya permaisuri sendiri harus memutuskan, apakah yang harus dibuat. Dengan ini permaisuri menetapakan bahwa mereka harus bercerai untuk selama-lamanya, dan permaisuri mengganti nama anaknya dengan Raden Sari Kaburangan.

Selanjutnya ia tinggal menetap di suatu kampung lain. Kemudian Raden Sari Kaburangan dinobatka menjadi raja. Setahun kemudian rajamemindahkan kedudukan negara ke Muara Hulak. Kedudukan baru nini disebut negara Daha dan sampai sekarang ini tempat itu masih bernama Negara. Di Muara Bahan dibuat sebuah pangkalan (pelabuhan) yang kemudian ramai sekali didatangi para pedagang.

Tidak berapa lama kemudian menghilanglah secara gaib Puteri Kalungsu yang tinggal di Negaradipa bersama-sama 500 orang pengiring. Dalam waktu itu pula Lembu Mangkurat meninggal dunia. Sebagai Mangkubumi diangkat Putera Arya Megatsari yang bernama Arya Taranggana, seorang yang sangat cerdik lagi bijaksana.

Sumber : Lembu Mangkurat (Ceritera Rakyat dari Kalimantan Selatan)
http://alkisahrakyat.blogspot.co.id/2017/04/cerita-raden-carang-lalean.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu