Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Riau Riau
Cerita Puteri Hijau dari Riau
- 28 Oktober 2017

Pada zaman kerajaan Rokan dipimpin Yang Dipertuan Sungai Daun Pekaitan, dikisahkan ada seorang puteri yang sangat cantik jelita tiada bandingnya. Ia bernama Puteri Hijau. Banyak raja menginginkan sang putri menjadi permaisurinya, termasuk raja dari Portugis dan juga raja dari kerajaan-kerajaan tetangga. Puteri Hijau berasal dari Gunung Ledang di daratan Melaka. Selain terkenal dengan kecantikannya, sang puteri juga sangat sakti. Ia berkelana dari satu kerajaan ke kerajaan lain. Dari Melaka, Bintan, sampai ke negeri Tiongkok. Puteri Hijau diramalkan akan berjodoh dengan seorang lelaki yang juga termasyhur di seluruh dunia. Lelaki itu mempunyai ciri khas ada parutan bekas luka di keningnya. Namun, meski sudah merantau sekian jauh hingga ke negeri Cina dan Keling, yang dicarinya tidak juga bertemu.

Pada suatu hari, Puteri Hijau sampai ke Pekaitan. Ia menyamar sebagai seorang  nenek tua dan menumpang di rumah salah seorang petinggi kerajaan, Datuk Penyarang namanya. Datuk Penyarang adalah kepala hulubalang di kerajaan Rokan.

Ketika menginap di rumah Datuk Penyarang, sang puteri melihat bahwa di kepala Datuk Penjarang ada parutan bekas luka.

“Yang dicari sudah bertemu,” gumam Puteri Hijau. Meski rupanya ada yang kurang sedikit, tak mengapa, pikirnya.

Datuk Penyarang adalah orang termasyhur sebagai hulubalang kerajaan yang gagah berani. Namun, budi pekertinya agak kasar. Inilah sebabnya Putri Hijau agak enggan mengatakan isi hatinya atau menunjukkan rupa aslinya kepada Datuk Penyarang.

Putri Hijau selalu diintai anak raja-raja dan orang besar kerajaan untuk diambil sebagai istri, sehingga ia menyamar sebagai orang tua. Sewaktu berada di Deli Tua, ia pernah dirampas Sultan Iskandar Muda.

Setelah beberapa waktu lamanya tinggal di rumah Datuk Penjarang, sang datuk pun melihat tanda-tanda kalau yang menumpang di rumahnya bukan sembarang orang. Pada suatu malam, Datuk Penyarang melihat cahaya hijau di rumahnya ketika pulang dari istana. Ia tahu bahwa yang bercahaya hijau adalah jelmaan Putri Hijau yang banyak diceritakan orang di Gunung Ledang. Karena Putri Hijau tidak memberitahukan maksud kedatangannya, Datuk Penyarang menunggu kesempatan dan saat yang baik untuk bertindak. Bila saatnya tiba, Putri Hijau akan dilarikannya ke Siarangarang. Lagi pula, kalau Yang Dipertuan Besar mengetahuinya, sudah pasti Putri Hijau akan dirampas dari tangan Datuk Penyarang, sehingga akan menyulut pertarungan antara Yang Dipertuan dengannya. Maka ia pun merahasiakannya. Putri Hijau sendiri pun tidak diberitahu.

Hari berganti hari, masa berubah, musim beralih, tahun berganti tahun, maka Datuk Penyarang melaksanakan keinginannya. Pada suatu malam, ia menyiapkan peralatan sampannya yang bernama Landak Menari. Dihiasinya sampan itu secukupnya, dilengkapinya dengan berbagai perbekalan, serta alat kebesaran dan kurungan berkelambu kuning sebagai tempat sang puteri. Setelah selesai, ia masuk ke dalam dengan tidak memberitahu Yang Dipertuan Besar. Puteri Hijau dipaksanya masuk ke dalam sampan Landak Menari.

Setelah Puteri Hijau berada dalam kurungan sampan Landak Menari, Datuk Penyarang mengambil galahnya yang terbuat dari anak kayu meranti bujang. Galah pun ditekan sekuat tenaga dan sampan pun meluncur selaju-lajunya meninggalkan pelabuhan Pekaitan. Sampan menuju ke hulu Sungai Rokan.

Dalam perjalanan, Datuk Penyarang membujuk dan merayu Putri Hijau agar mau kawin dengannya. Tetapi Putri Hijau belum mau mengakui bahwa Datuk Penyaranglah orang yang dicarinya.

Setelah beberapa saat, mereka sampai pada satu tempat di tepi Sungai Rokan. Perahu Landak Menari pun ditambatkan. Datuk Penyarang kembali merayu Puteri Hijau agar mau kawin dengannya. Putri Hijau bimbang. Setengah hatinya mau, setengah lagi tidak. Maka oleh Datuk Penyarang tempat ini dinamakannya Sangko Duo, artinya Putri Hijau berbagi dua pikirannya, separuh hatinya mau kawin dengan Datuk Penyarang separuh tidak, sampai sekarang tempat itu bernama kampung Sangko Duo.

Setelah itu, perjalanan diteruskan hingga sampai pada suatu tempat dan perahu Landak Menari ditambatkan. Sekali lagi Datuk Penyarang membujuk Putri Hijau dengan lemah lembut dan memuji-muji kecantikan Putri Hijau.

“Aku akan buatkan sebuah mahligai yang indah untukmu, dinda,” ujar Datuk Penjarang. Tuan Puteri diam saja. Tempat ini kemudian dinamai Kampung Pemujukan.

Kemudian perjalanan diteruskan lagi. Perahu pun digalah dengan laju. Sampailah ke satu tempat yang sangat indah. Pepohonan berbaris dengan teratur. Sinar matahari senja memancarkan cahaya kekuning-kuningan ibarat padi yang sedang masak di sawah. Perahu pun ditambatkan ke tepi. Putri Hijau terpukau pada keindahan alam di depan matanya. Datuk Penyarang mempergunakan kesempatan untuk merayu Putri Hijau. Menurut cerita, di tempat inilah Putri Hijau mau menikah dengan Datuk Penyarang. Maka tempat ini kemudian dinamai dengan nama Padang Pendapatan. Karena Datuk Penjarang telah mendapat kesepakatan dengan Putri Hijau untuk bersama-sama hidup sebagai suami-istri. Letak Padang Pendapatan ini sebelah hulu Pemujukan dan sebelah hilir Danau Raya, di hilir Siarangarang.

Kemudian perahu pun digalahnya lagi. Sesampai di suatu tempat yang kini dikenal sebagai Siarangarang, perahu ditambatkan. Putri Hijau dan Datuk Penyarang naik ke darat. Datuk Panyarang kemudian membangun sebuah mahligai beratapkan ijuk dan diisikan alat-alat kebesaran kerajaan. Sewaktu Putri Hijau naik ke mahligai, capeng Putri Hijau sebelah kiri yang terbuat dari perak tersangkut di pintu, lalu jatuh ke tanah, dan hilang. Konon, capeng Putri Hijau yang terbuat dari perak itu ditemukan oleh seorang Belanda pada masa penjajahan. Tetapi  capeng sebelah kanan yang terbuat dari emas masih ada dalam gua bekas mahligai Putri Hijau. Menurut kepercayaan setempat,  para pencari rotan atau kayu api yang beruntung pergi ke hutan itu bisa bertemu dengan capeng Putri Hijau. Benda kuning emas itu biasanya tampak tergeletak di atas pematang Bukit Siarangarang dan tak boleh diganggu karena dijaga ular besar. Menurut keterangan warga setempat, capeng itu berukuran dua jengkal.

Berita tentang Putri Hijau yang termasyhur terdengar hingga ke Kerajaan Aceh. Tak lama kemudian pasukan Aceh pun datang memasuki Sungai Rokan dan menyerang Datuk Penyarang. Lalu Datuk Penyarang bergabung Panglima Nayan. Akhirnya, Pasukan Aceh berhasil dipukul mundur. Mereka lari ke hulu sampai di Kuala Mahato, dan terus berjalan kaki menuju Panai. Menurut cerita, sekarang masih ada makam orang Aceh di Kuala Mahato.

 

Sumber:

https://lamriau.id/cerita-puteri-hijau/

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cara Membuat Sayur Sop Ayam yang Enak, Segar, dan Gurih
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Sayur sop ayam adalah salah satu masakan rumahan yang sangat populer di Indonesia khas ala Nur Kitchen . Rasanya yang ringan, segar, dan gurih membuat hidangan ini cocok disantap kapan saja, terutama saat cuaca dingin atau saat ingin makanan yang menenangkan. Selain enak, sayur sop ayam juga kaya akan nutrisi karena terdiri dari berbagai sayuran dan protein dari ayam. Bahan-Bahan Sayur Sop Ayam Berikut bahan yang perlu disiapkan: 500 gram daging ayam (potong sesuai selera) 2 buah wortel (iris bulat) 2 buah kentang (potong dadu) 1 batang daun bawang (iris) 1 batang seledri (ikat atau iris) 1 liter air Bumbu Halus: 4 siung bawang putih 1/2 sendok teh merica Garam secukupnya Bumbu Tambahan: 1/2 sendok teh gula Kaldu bubuk secukupnya (opsional) Cara Membuat Sayur Sop Ayam Rebus Ayam Didihkan air, lalu masukkan potongan ayam. Rebus hingga setengah matang. Buang kotoran atau busa yang muncul agar kuah tetap jernih. Tumis Bumbu Haluskan bawang putih dan merica, lalu...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua
Makanan Minuman Makanan Minuman
Papua

Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara
- -
-

Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara
- -
-

Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Jawa Tengah

Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional merupakan warisan kesehatan asli Indonesia berupa ramuan herbal yang diracik dari bahan-bahan alami [S1][S3]. Sebagai sistem pengobatan tradisional, jamu telah dipraktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya nasional [S1][S2]. Praktik ini mencakup pengetahuan meracik, filosofi kesehatan, hingga aspek sosial-budaya yang menyertainya. Sejarah jamu berpusat di Jawa, dengan Kota Surakarta (Solo) sebagai salah satu episentrum utama yang masih aktif memproduksi dan melestarikan tradisi ini [S4]. Akar tradisi jamu dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Mataram, di mana pengetahuan pengobatan herbal telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi [S6]. Hingga kini, Jawa tetap menjadi daerah asal dan pusat budaya jamu yang paling kuat [S2][S6]. Bukt...

avatar
Kianasarayu