Pada suatu ketika, Tuan Rio Mangkubumi akan pergi mengajar. Dalam perjalanannya beliau dikawal oleh Hulubalangnya yang bernama Tuan Riau Cekai Langek dan Menak Kerenggow. Mereka bertiga pergi dengan membawa senjata tombak. Di tempat beliau mengajar ada seorang panglima dari Palembang yang bernama Raden Kelap Darmawijaya beserta pasukannya.
Ketika tuan Rio Mangkubumi sedang mandi bersama Hulubalangnya, mereka bertiga dijala dan ditangkap oleh Panglima tersebut beserta pasukannya, kemudian langsung di bawa ke Palembang dihadapkan kepada Sultan Palembang. Mereka pun dijatuhi hukuman oleh Sultan Palembang Tuan Rio Mangkubumi mendapat hukuman diikat terus selama menunggu pelaksanaan hukuman mati, sedangkan kedua orang hulubangnya dijadikan oleh Sultan Palembang sebagai koki diistananya.
Tuan Rio Mangkubumi terkenal sebagai orang yang kebal terhadap segala macam jenis senjata. Karena itu, walaupun beliau dijatuhi hukuman mati, beliau tidak gentar sedikitpun dan memang beliau ternyata tidak mempan dibunuh dengan senjata apapun juga. Karena itu Tuan Rio Mangkubumi tetap diikat selamanya dan diumumkan kepada rakyat Palembang, jika mereka buang air besar, maka sekujur badan Tuan Rio mangkubumi dilumuri dengan kotoran mereka. Hukuman ini berjalan selama lebih kurang dua tahun.
Karena Tuan Rio Mangkubumi mengetahui bahwa Sultan Palembang sangat besar kemauannya untuk membunuhnya, maka Tuan Rio Mangkubumi sengaja menemui dan memberitahukan pada Sultan Palembang, "Jika Sultan benar-benarakan membunuh saya, maka tikamkan tombak ini ke lubang dubur saya", Tuan Rio mangkubumi menyerahkan tombaknya kepada Sultan Palembang. Sultan Palembang pun tidak menunda waktu lagi, langsung menyambar tombak itu dan menikamkan pada anus Tuan Rio Mangkubumi. Maka tewaslah Tuan Rio Mangkubumi.
Lehernya dipancung dan kepalanya dimasukkan ke dalam guci. Guci yang berisi kepala Tuan Rio Mangkubumi ini disimpan di atas loteng istana.
Tuan Rio Cekai Langek dan Menak Kerenggow yang turut juga menjadi tawanan Sultan Palembang karena ternyata berkelakuan baik dan rajin, maka mereka dipercayakan oleh Sultan Palembang untuk membersihkan seluruh istana. Mereka pun menjalankan tugasnya dengan baik dan memuaskan.
Seluruh istana, lantai, dinding dan loteng menjadi bersih. Ketika mereka membersihkan loteng istana, mereka menemukan sebuah guci besar yang berisikan kepala dan tempat menyimpan kepala Tuan Rio Mangkubumi. Anehnya guci itu mempunyai tulisan "NYAK TUAN RIO MANGKUBUMI" yang artinya saya Tuan Rio Mangkubumi, Mereka berdua sangat terkejut membaca tulisan itu, dan segera memeriksa isi guci itu. Ternyata benar di dalamnya terdapat kepala Tuan Rio Mangkubumi. Dengan perasaan heran dan sedih, mereka berdua saling memandang satu dengan yang lain. Kemudian mereka mufakat untuk membawa guci yang berisi kepala Rio Mangkubumi itu kembali ke Pagar Dewa. Mereka pun langsung berangkat ke Pagar Dewa dengan membawa guci itu. Setelah mereka tiba di ujung kampung Penawar, terdengar suara dari dalam guci itu. Kiranya Tuan Rio Mangkubumi berkata,
"Karena saya telah mati dibunuh Sultan Palembang, maka saya jangan dibawa kembali ke kampung kita. Kuburkan saja saya di sini" Kedua pengawal beserta seluruh rakyat kampung itu tetap berusaha untuk membawa guci itu ke Pagar Dewa, tetapi usaha mereka sia-sia karena guci itu makin lama makin terbenam ke dalam tanah. Sebelum guci itu terbenam seluruhnya, terdengar suara dari dalamnya mengatakan.
"Semua harta warisan dan kerajaan saya tidak boleh diwariskan kepada siapa pun, kecuali kepada orang yang berhasil membalas kematianku." Kemudian guci itu terbenam seluruhnya ke dalam tanah dan yang menjadi nisannya adalah dua batang kayu leban, yang menurut cerita, sebelumnya kedua kayu tersebut, dipergunakan untuk mengangkat guci itu. Disitulah kampung tempat orang-orang berziarah. Ketika Tuan Rio Mangkubumi dibunuh oleh Sultan Palembang, Menak Kemalowbumi putranya baru berumur 7 tahun. Setelah dewasa menak Kemalowbumi pergi ke Banten, meminta bantuan kepada Sultan Banten untuk membalas kematian orang tuanya yang telah mati dibunuh oleh Sultan Palembang.
Oleh Sultan Banten, Menak Kemalowbumi disuruh bertapa disebelah hilir sungai di Banten dan di sana dia mendirikan sebuah kampung yang bernama Banten Girang. Dari hasil pertapaannya itu Sultan Banten mengatakan bahwa, Sultan Palembang belum boleh dibunuh sebelum Menak Kemalowbumi kawin dengan putri Balau dari Lampung. Beliau di beri tempo tujuh hari oleh Sultan Banten. Sultan Banten pergi menuju Palembang, untuk membunuh Sultan Palembang dan Menak Kemalowbumi menuju Lampung untuk menaklukkan putri Balau yang kemudian setelah berhasil, dibawa ke Banten.
Ketika Menak Kemalowbumi tiba di Banten dengan membawa serta putri Balau, Sultan Banten yang bernama Sulia Tunggal Sunan Gunung Jati, sedang mengambil air sembahyang (air wudhu) dan bertanya kepada Menak Kemalobumi,” Mana Putri Balau?” Dijawab oleh Menak Kemalowbumi, “ Putri Balau sudah di dalam kamar.”
Mendengar itu, Sultan Banten langsung menuju kamar tempat Putri Balau. Ternyata kamar itu terkunci dari dalam. Selama tujuh hari tujuh malam, pintu kamar itu tetap terkunci dan tidak pernah dibuka oleh putri Balau. Lama kelamaan putri Balau hamil. Oleh Sultan Banten Putri Balau diperintahkan kembali ke Lampung yaitu ke Pagar Dewa dengan diantarkan oleh Menak Kemalowbumi. Setelah selesai mengantarkan Putri Balau ke Pagar Dewa, Menak Kemalowbumi lantas kembali ke Banten dan langsung diperintahkan oleh Sultan Banten ke Palembang untuk membunuh Sultan Palembang.
Setiba di Palembang Menak Kemalowbumi langsung ke istana Sultan Palembang dan terus menuju singgasana raja. Ketika itu malam hari, Menak Kemalowbumi berhasil membunuh Sultan Palembang dan lehernya dipancung seperti Sultan Pelembang memancung leher ayahnya dulu. Kepala Sultan Palembang ini dibawanya ke Banten. Setelah tiba di Banten, bungkusan kepala Sultan Palembang dibuka, tetapi ternyata bukan kepala Sultan Palembang tetapi yang ada didalam bungkusan itu adalah kepala Panglima Kerajaan Palembang. Oleh karena itu Menak Kemalowbumi meminta izin lagi pada Sultan Banten untuk kembali ke Palembang membunuh Sultan Palembang yang sebenarnya.
Dijawab oleh Sultan banten, "Sudahlah tak usah kau ke Palembang lagi, karena yang kau bunuh itu adalah sebenarnya Sultan Palembang. Menak Kemalowbumi mendesak Sultan Banten bahwa dirinya ingin ke Palembang, tetapi Sultan banten melarangnya. Oleh karena itu Menak Kemalowbumi kembali lagi bertapa ke sebelah udik banten. Selama bertapa Menak Kemalowbumi duduk diatas kain putih sepanjang dua setengah meter. Sangat lama Menak Kemalowbumi bertapa, sehingga badannya dililit oleh akar-akar beringin disekitarnya.
Selesai bertapa di tempat ini, Menak Kemalowbumi berjalan di atas air laut dengan beralaskan kain putih itu. Tetapi kain putih itu sobek menjadi dua bagian. Tempat terjadinya peristiwa ini dinamakan orang Way Searikan. Bagian yang satu menuju ke Lampung dan bagian lainnya menuju ke Palembang. Menak Kemalowbumi atau Menak Parjurt kembali ke Banten. Sementara itu Putri Balau telah melahirkan seorang putra. Hal ini dilaporkan kepada Sultan Banten dan oleh Sultan Banten anak yang baru lahir ini diberi nama Raja Seberang Lor. Kedua ibu anak ini oleh Sultan Banten dibawa kembali ke Banten.
Dipati Prajurit atau Menak Kemalowbumi, diperintahkan oleh Sultan Banten, selama tujuh hari tujuh malam tidur bersama-sama dengan ketujuh orang istri-istrinya, tetapi semua istri-istri Sultan Banten tidak ada yang diganggunya. Oleh karena itu ia dikirim ke Mekkah untuk naik haji. Kembali dari Mekkah, Menak Kemalowbumi atau Dipati Prajurit diberi nama Haji Prajurit Hidayatullah Kangerbek Paku Tulang Bawang, yang kemudian diperintahkan oleh Sultan Banten untuk mengawini Putri Balau. Sedang putri Sultan Banten yang bernama Raja Seberang Lor di Lampung mengganti namanya dengan Pengeran Jimat (Jimat Lampung).
Dari perkawinan dengan putri Balau. Haji Prajurit Hidayattullah memperoleh anak, Menak Semalow Kwang, Menak Demang, Putri Anom yang kemudian kawin dengan Raja Malaka yaitu Stoke Menak Semalow Kwang Tua memperoleh anak yang bernama Menak Semalow Kwang Muda dan bergelar Semangek Aty, Semangek Aty berputra seorang yang bernama Sesunan. Sesunan kawin, tetapi ia meninggal dan putrinya kawin lagi dengan Mejuk. Inilah yang menurunkan Buay Rejo Tegamaan. Mejuk dibawa oleh istrinya ke Banten dan kemudian bergelar Sultan Megawou.
Di Banten mereka meminta pakaian yang dipakai oleh Sultan Banten yang berwarna merah dan kuning. Permintaan ini dikabulkan oleh Sultan Banten dan kemudian mereka kembali lagi ke Lampung. Dalam perjalanan pulang, mereka menyesal, mengapa tidak meminta sekaligus pakaian putih kepada Sultan Banten. Karena itu mereka mengambil keputusan tidak kembali ke Lampung tetapi langsung ke Palembang. Dari Palembang mereka memperoleh pakaian hitam dan putih.
Ketika kembali dari Palembang, ditengah laut mereka diketahui oleh Sultan Banten. Mereka pun ditangkap. Suami Sultan Megawow dibuang ke pulau Selayang. Sedangkan Sultan Megawow diperintahkan kembali ke Pagar Dewa. Di Pagar Dewa Sultan Megawow memerintahkan kepada Bujang Bening menghadap Sultan Banten untuk membebaskan suaminya (Mejuk) Jawab Sultan Banten, "Mejuk dapat dibebaskan dengan syarat mereka harus membawa kesini dua potong semambu ulung yang panjangnya tujuh depa dan besarnya sebesar pohon kelapa.
Oleh karena itu Sultan Megawow memerintahkan kepada rakyatnya untuk mencari semambu ulung. Setelah mereka memperoleh semambu ulung, kemudian direndam di dalam sungai Cekery dan setelah diangkat, warnanya menjadi hitam. Kemudian setelah itu, semambi itu dibawa oleh Bujang Bening ke Banten untuk diserahkan kepada Sultan Banten, seraya berkata, "Ampun Tuanku, ini kiriman Ratu Megawow untuk tebusan suaminya." Jawab Sultan Banten ," Taruh didekat dinding dan ambil suaminya di Pulau Selayang." Baru kemudian Sultan Banten memeriksa semambu itu.
Setelah diperiksa oleh Sultan Banten, ternyata semambu itu kecil dan tidak sebesar pohon kelapa. Tetapi karena diikat, maka kelihatan besar, karena itu, suami Sultan Megawou diberi nama Kerio Ampura. Setelah tiba di Pagar Dewa, mereka meresmikan pakaian adat yang mereka peroleh, tetapi belum mempunyai payung adat. Dalam upacara adat, hanya mereka berdua suami istri yaitu Sultan Megawou dan suaminya Kerio Ampura yang berhak menari.
Selesailah tugas mereka berdua suami-istri yang kemudian dilanjutkan oleh keturunannya. Mereka pergi ke Banten bersama dengan Ratu. Dipuncak, Negeri Jungkarang, Negeri Besar. Anak tiri Kerio Ampura meminta pakaian lengkap dari Sultan Banten yang dijawab oleh Sultan Banten. "Semua yang diminta oleh ayah dan pamanmu adalah untukmu. Pamanmu bernama Sultan Jimat Semergo."
Di Pagar Dewa, sekarang terdapat empat sesunan. Sesunan Jimat Semergo berkata kepada ketiga sesunan lainnya, "Kalian bertiga belum boleh kembali, sebelum mengadakan upacara adat." Dalam upacara adat itulah telah memakai payung dan memotong kerbau sebanyak 6 (enam puluh) ekor, serta dirayakan selama tiga bulan sepuluh hari. Setelah upacara adat, Sesunan Jimat Semergo pergi menuju Kota Bumi untuk menghadiri peresmian upacara adat disana. Oleh sebab itu, Kota Bumi disebut juga kebuayan Pagar Dewa.
Dari Kota Bumi, beliau meneruskan perjalanan ke Jungkarang dengan tujuan yang sama yang kemudian diberi nama Karangan Dewa. Terakhir beliau menuju Negeri Besar dan diberinya nama Kebesaran Pagar Dewa. Itulah sebabnya terjadi empat paksi, yaitu:
Paksi Pagar Dewa
Paksi Kota Bumi
Paksi Jungkarang
Paksi Negeri Besar.
Kemudian mereka menuju Menggala untuk menghadiri berdirinya Kebuayan Buay Bulan di Kampung Lebuh Dalem, marga Buay Umpu di Kampung Ujung Gunung yang pada zaman Belanda ditegakkan pula marga Aji. Oleh sebab itu, pada zaman sekarang ini terdapat empat marga dan empat paksi.
Sumber : Cerita Rakyat (Mite dan Legende) Daerah Lampung, Depdikbud
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...
Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional merupakan warisan kesehatan asli Indonesia berupa ramuan herbal yang diracik dari bahan-bahan alami [S1][S3]. Sebagai sistem pengobatan tradisional, jamu telah dipraktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya nasional [S1][S2]. Praktik ini mencakup pengetahuan meracik, filosofi kesehatan, hingga aspek sosial-budaya yang menyertainya. Sejarah jamu berpusat di Jawa, dengan Kota Surakarta (Solo) sebagai salah satu episentrum utama yang masih aktif memproduksi dan melestarikan tradisi ini [S4]. Akar tradisi jamu dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Mataram, di mana pengetahuan pengobatan herbal telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi [S6]. Hingga kini, Jawa tetap menjadi daerah asal dan pusat budaya jamu yang paling kuat [S2][S6]. Bukt...
Tenun Sumba: Simbol Kehidupan dalam Setiap Helai Benang Identitas dan Asal-Usul Tenun Sumba merupakan kain tradisional yang berasal dari Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur [S1][S2]. Kain ini dikenal sebagai wastra yang diolah menggunakan pewarna alami dengan proses pengerjaan yang cukup panjang, berkisar antara enam bulan hingga tiga tahun [S3]. Keberadaan tenun Sumba tidak hanya sebagai karya seni tekstil, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakatnya yang mencerminkan kearifan lokal setempat [S2]. Sejarah tenun Sumba berkaitan erat dengan tradisi lisan masyarakatnya yang tidak mengenal tradisi tulis di masa lalu [S5]. Berdasarkan sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dalam kepercayaan Marapu, nenek moyang masyarakat Sumba diyakini sebagai pendatang yang memasuki pulau ini secara bergelombang melalui beberapa titik, seperti Tanjung Sasar, Muara Sungai Pandawai, Muara Sungai Wulla, dan pantai selatan Pulau Sumba [S5]. Dalam Lii Marapu (sabda leluhur), diungkapka...