Tersebutlah suatu keluarga, mempunyai dua orang anak, yang sulung laki-laki dan adiknya perempuan. Setelah anak itu berumur kira-kira sepuluh tahun, orang tuanya yang perempuan meninggal dunia, tiga bulan sesudah itu dengan takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, ayah mereka menyusul pula pulang ke alam baka. Tinggallah mereka berdua, berusaha mencari nafkah untuk kelangsungan hidupnya. Mereka makan dari hasil tanaman tegalan, dan sayur-sayran serta umbi-umbian. Kadang-kadang mereka tidak makan, karena hasilnya belum mencukupi. Selain bercocok tanam, kadang-kadang yang laki-laki pergi memikat burung ke dalam hutan, karena semasa orang tuanya masih hidup, dia kerapkali dibawa ayahnya memikat burung.
Suatu pagi adiknya berkata kepada kakaknya, "Bang, hari ini tidak ada lauk buat kita makan" Jawab abangnya," Kalau begitu biarlah saya pergi dulu memikat burung." Lalu pergilah dia ke hutan, sedangkan adiknya terus memasak nasi. Hari itu rupanya mereka lagi bernasib sial, tidak seperti biasanya hari itu burung-burung seolah-olah mengetahui bahwa ada orang yang akan menangkap mereka, sehingga tidak ada seekor burung pun yang hinggap di pohon kayu dalam hutan itu. Makin lama makin jauh anak laki-laki itu masuk hutan keluar hutan. Hari sudah siang, dia belum juga berhasil menangkap burung, akhirnya dia menemukan telur ular sangat banyak dan besar-besar. Pikirnya dari pada tidak mendapat apa-apa, lebih baik dia mengambil telur ular itu untuk lauk makannya bersama adiknya dirumah. Dibawanyalah telur itu beberapa butir pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, dia disambut adiknya yang sudah menunggunya dari tadi, karena yang dimasaknya hanya nasi. Maka adiknya lalu bertanya; "Apakah abang berhasil?" Jawab abangnya, "Hari ini kita tidak berhasil, sial rupanya. Saya hanya membawa beberapa butir telur, tetapi telur ular." Adiknya sangat terkejut dan takut mendengar kata abangnya, dia lalu berkata," Kalau telur ular, saya tidak mau memakannya Bang, sebab kata orang kalau kita makan telur ular, nanti kita jadi ular pula." Kalau engkau tidak mau memakan telur itu tidak apa-apa, pokoknya saya yang mau memakannya. Rebuslah lama-lama." kata abangnya. Kemudian segera adiknya merebus telur itu, walaupun dia masih takut-takut dan tidak setuju akan pendapat kakaknya.
Kira-kira telurnya sudah masak betul, lalu dihidangkan adiknya dan makanlah mereka berdua. Abangnya memakan telur ular itu sedangkan adiknya hanya makan nasi, karena tidak ada lauk yang lain. Baru menghabiskan sebutir telur, si Abang itu sudah gelisah, dia tidak mau makan nasi lagi, melainkan hanya mau minum. Dia minum terus sampai habis air yang ada dirumah, maka disuruhnya adiknya mengambil air ke sungai. Sepulangnya dari mengambil air di sungai, dilihatnya si Abang sudah berubah, setengah badannya ke bawah sudah menjadi badan ular. Adiknya menangis karena sedih dan takut, walaupun demikian abangnya masih dapat berbicara seperti biasa, hanya dia mau minum terus-menerus. Adiknya sangat susah, selain melihat keadaan abangnya yang demikian, juga dia harus mengambil air terus-terusan untuk minum abangnya itu.
Abangnya sangat kasihan kepada adiknya yang sudah terlalu lelah membawa air, lalu dia berkata, "Kalau begini caranya lebih baik kita pergi saja ke Lubuk Sendawali." "Jadi bagaimana dengan diriku ini bang" kata adiknya. "Pokoknya kamu jangan susah, naiklah kau dipunggungku, tetapi kau harus membawa bibit selasih," kata abangnya. Pergilah mereka menuju Lubuk Sendawali, melalui kali kecil sambil minum, karena haus terus. Ketika mereka berjalan, bertemu dengan orang yang sedang berladang di pinggir kali. Orang itu sangat terkejut dan berteriak memanggil teman-temannya.
"Tolog, ular, ular besar, ular besar, tolong!" Berlarianlah orang mendengar teriakan itu, sambil membawa alat-alat apa adanya, ada yang membawa arit, cangkul, golok, dan lain-lain, untuk membunuh ular itu. Mendengar itu adik si ular lalu bernyanyi, "Jangan dipukul, jangan dibunuh, kakak laki-laki saya telah jadi ular akan menuju Lubuk Sendawali. Saya mohon jangan, tidak jadi mendekatinya, mereka sangat kasihan melihat keadaan dua saudara itu.
Mereka berdua lalu meneruskan perjalanannya, dan bertemu lagi dengan orang yang sedang bekerja di sawah, sama halnya dengan yang terdahulu, ular itu akan dibunuh, tetapi tidak jadi karena ada adiknya yang menerangkan duduk persoalannya. Demikianlah kisah perjalanan mereka, akhirnya setelah tujuh hari tujuh malam sampailah mereka di Lubuk Sendawali.
Lubuk Sendawali adalah tempat berkumpul ular-ular besar. Sebelum si abang menceburkan dirinya memasuki Lubuk Sendawali, adiknya diturunkannya dipinggir Lubuk itu dan adiknya itu disuruh menanam selasih di dekat situ. Dia berpesan, "Sekiranya selasih itu kelak layu, berarti saya dalam kesulitan dihimpit ular-ular besar lainnya, kalau selasih itu segar berarti saya diatas dan saya menang. Jika selasih itu mati, berarti saya juga mati". Setelah berkata demikian, masuklah si abang ke dalam air. Adiknya menunggu diatas tebing sambil menunggui selasih yang ditanamnya. Jika selasih segar, adiknya merasa sangat senang, sebaliknya kalau layu dia menangis, begitulah terus keadaannya berhari-hari.
Pada suatu hari, rupanya karena terlalu lama berlaga dengan ular-ular besar, matilah ular kakak si adik tadi, dan selasih pun menunjukkan tanda, selasih mati juga. Melihat itu si adik yang menunggu di darat, bukan main sedihnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Begitu sedihnya, dia lalu memanjat kayu besar melalui akar-akar gantungnya, sambil menangis dan tetap menunggui tempat kakaknya itu. Beberapa hari kemudian, datanglah seorang pemuda anak raja, yang pergi berburu dengan mengendarai seekor kuda dan membawa anjing tujuh ekor banyaknya. Dari jauh anjing-anjing itu sudah mendengar suara orang menangis, demikian juga kuda ikut meringkik mengikuti arah anjing itu berlari.
Putera raja mengikuti saja kemana dia dibawa oleh kudanya. Rupanya dia dibawa ke tempat anak gadis yang menangis tadi, yaitu dibawah pohon besar. Anak raja pun segera melihat ada gadis kecil menangis diatas pohon. Rupanya berkat kasih dan kebesaran Tuhan, gadis itu mempunyai sinar yang berkilauan, sehingga dari jauh sudah kelihatan Anak raja itu kemudian memerintahkan hulu balangnya memanjat batang kayu itu dan menyuruh membawa gadis itu turun. Gadis itu merasa senang karena ada orang yang menolongnya, Anak raja mengajak gadis itu pulang tetapi ia tidak mau, sebab ia sedang menunggu abangnya. Di mana abangmu?" tanya anak raja. "Itu, di dalam Lubuk, dia menjadi ular karena dia memakan telur ular." jawab gadis kecil itu.
"Kalau diambil dan diselami", kata anak raja. "Tidak mungkin engkau dapat menyelamatkannya, sebab Lubuk ini sangat dalam," jawab gadis itu. Kemudian jawab anak raja, "Anjingku ini, anjing wasiat, nanti dia akan dapat menyedot air ini." Dia segera memerintahkan ke tujuh ekor anjingnya untuk menyedot air Lubuk itu. Air Lubuk itu jadi susut, maka kelihatanlah ular-ular besar kecil yang ada disana. Anak raja bertanya, "Mana abangmu?" Gadis kecil itu mencari-cari yang mana ular yang asalnya dari abangnya, rupanya tidak ada diatas air, karena ia sudah mati. Maka katanya."Abangku tidak kelihatan, karena ia ada didasar Lubuk ini, dia sudah mati."
Anak raja itu rupanya mempunyai ilmu yang sakti pula, dia mempunyai lidi tujuh batang yang dapat digunakannya sebagai alat dengan bermacam-macam kegunaannya, antara lain dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati dengan membaca mantera-mantera. Juga dia dapat menyembuhkan orang sakit, dapat mengembalikan atau menyembuhkan orang yang kena sihir.
Dengan lidi yang tujuh batang itu, anak raja membalik-balik ular-ular yang ada dalam Lubuk itu, akhirnya dapat ditemukannya abang gadis itu, yang memang sudah mati. Anak raja memukul-mukulkan lidinya ke tubuh ular yang sudah mati itu sambil membaca do'a memohon kepada Tuhan agar dapat menolong anak yang sedang dalam kesusahan itu dan menghidupkan serta menjadikannya manusia sebagaimana semula. Rupanya Tuhan mengabulkan permintaan Hamba-Nya, ular yang mati itu hidup kembali dan langsung menjadi manusia seperti semula. Bukan main senangnya hati kedua anak desa itu, mereka sama-sama mengucapkan terima kasih kepada anak raja yang telah menolong mereka berdua.
Anak raja menanyakan hasil ihwal mereka, maka sampai terjadi demikian. Diceritakanlah oleh si abang tentang nasib mereka sejak ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, mereka berusaha sendiri mencari makan, sebab jauh dari sanak saudara. Anak raja sangat kasihan kepada mereka, lalu diajaknyalah anak itu ke istana. Raja yang sedang menantikan anaknya pulang berburu, dari kejauhan melihat adanya cahaya. Ia amat heran, cahaya apakah itu gerangan? Sesudah dekat jelaslah yang dilihatnya adalah cahaya yang memancar dari tubuh gadis kecil yang datang bersama puteranya.
Sesampainya di istana, putera raja lalu bersembah kehadapan ayahandanya. Raja menerima sembah puteranya dan bertanya, "Mana hasil ananda berburu?" Dijawab puteranya "Ampun ayah, hamba sudah jauh masuk hutan keluar hutan mencari binatang buruan, tetapi tidak ada seekor pun yang tampak. Mereka seolah-olah bersembunyi mendengar kedatanagn, ananda ke hutan itu. Di tengah hutan hamba dan rombongan menemukan gadis ini yang sedang dalam kesusahan".
Lalu diceritakannyalah tentang kisah kedua anak yang dibawanya itu. Raja jadi merasa terharu dan segera menyersangi kehadiran kedua anak yang malang itu. Setelah hening sejenak, putera raja lalu menambahkan,"Hamba bawa kedua anak ini ke istana, mudah-mudahan ayahanda berkenan menerima mereka." Kedua anak itupun menghaturkan sembah kepada raja, raja mengangkat kepala kedua anak itu dan bersabda, "Saya terima kedatangan kalian berdua di sini, mudah-mudahan kalian berdua pun senang tinggal bersama kami."
Sejak itu mereka hidup bersama-sama seperti bersaudara, semua pekerjaan dikerjakan bersama-sama. Sejak itu pula seolah-olah kedua anak desa itu membawa reziki dan kemakmuran kepada kerajaan itu. Sawah ladang subur, dan hasilnya berlimah-limpah, demikian juga binatang ternaknya jinak dan menjadi. Beberapa tahun kemudian si gadis sudah bertambah besar dan cantik, demikian pula putera raja, dan diantara mereka telah terjalin rasa saling menyayangi sebagaimana dua insan pemuda dan pemudi.
Ayahanda Raja pun mengetahui hal ini dan dia merasa senang juga serta menyetujui pilihan puteranya itu. Suatu hari dia memanggil anaknya menghadap serta bersabda, "Anakku, aku sudah tua, sudah masanya aku melihat engkau berumah tangga. Kulihat engkau agaknya menyenangi gadis yang ada diistana ini, ayahanda pun setuju andainya engkau memilih dia menjadi permaisurimu." Anaknya menjawab, "Kalau ayahanda sudah merestuinya, hamba dengan senang hati menerima keputusan ayahanda." Diberitahukanlah kepada hamba-hamba istana, kabarnya yang menggembirakan itu. Mulailah orang-orang sibuk menyiapkan keperluan untuk melaksanakan perayaan pernikahan putera raja dengan gadis cantik itu.
Sampai tiba saatnya, pernikahan itu dirayakan tujuh hari, tujuh malam lamanya. Kerbau yang dipotong ada empat puluh sembilan ekor. Rakyat pada waktu itu sangat bergembira, mereka boleh makan, minun serta melihat tari-tarian dan nyanyi-nyanyian yang dihidangkan. Demikianlah kisah dua anak desa yang miskin, tetapi sabar. Akhirnya berkat kasih Tuhan, menjadi orang yang kaya raya.
Sumber : Cerita Rakyat (Mite dan Legende) Daerah Lampung, Depdikbud
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...