Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Papua Papua
Cerita Legenda Mamle
- 28 Desember 2018

Seorang laki-laki suku Frisya menikah dengan perempuan suku Sandrafe. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Mamle, artikan sakti. Karena ayahnya meninggal, Mamle ikut ibunya tinggal di Bolsase, Wen.

Pada suatu hari, Mamle yang masih kecil itu ikut membuka ladang baru bersama ibunya. Ibu Mamle menyiangi rumput, Mamle menebang pohon menggunakan tmakh khewekh (kapak batu). Mamle menebang pohon dengan semangat hingga di tempat itu tinggal satu pohon minggaian, yaitu sejenis pohon sukun, yang tersisa. Dia memanjat pohon itu dan menebang cabang-cabangnya hingga puncak pohon.

Ibu Mamle sangat khawatir melihat hal itu. Ia berteriak agar anaknya cepat turun. Tiba-tiba Mamle menjatuhkan kapak batunya sambil terjun dari puncak pohon. Ternyata setelah sampai di bawah, anak itu tidak mengalami cedera sedikitpun.

"Anak ini pasti mempunyai kesaktian karena ia terjun dari pohon yang tingi, tetapi tidak cedera sedikit pun," kata ibu Mamle mengagumi anaknya. Setelah dewasa, Mamle membangun bol taro, yaitu rumah pesta tari. Selesai membangun rumah itu, dia mengundang orang dari berbagai daerah sehingga pesta itu dihadiri banyak tamu. Ada dua perempuan suku Sandrafe hadir di antara para tamu. Mereka adalah syolo (saudara perempuan anak paman).

Mamle. Kedua perempuan itu menaruh hati kepada Mamle, akan tetapi, para tetua kedua perempuan itu melarang mereka berhubungan dengan Mamle. Mamle dikejar para lelaki peserta tari untuk dibunuh.

Dia selamat kerena cepat-cepat melarikan diri. Sewaktu berlari, Mamle melihat pohon enau. Kemudian, ia menyadap pohon enau itu dengan seruas drin (bambu kecil) sambil berkata, "Tuak ini harus dapat memabukkan orang-orang yang akan membunuhku."

Ketika para pengejar datang, Mamle berkata, "Jangan kalian bunuh aku. Minumlah tuak ini sampai habis. Setelah itu, kalian boleh membunuhku." Kemudian, para pengejar Mamle minum tuak itu. Ketika tuak itu akan habis. Mamle menepuk bagian bawah bambu itu ke tanah sambil berkta, "Nhon oli (kembali)." Seketika bambu itu penuh dengan tuak.

Akhirnya, para pengejar Mamle mabuk. Kesempatan baik itu tidak disia-siakannya. Ia segera menggunakan kesaktiannya untuk mencabut jurang yang curam untuk membentangi orang-orang itu. Ketika orang-orang itu sadar, mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena di depan mereka terbentang jurang yang curam.

Mamle mengubah dirinya menjadi burung layang-layang dan mendatangi mereka. Orang-orang yang percaya kepadanya, ia selamatkan. Akan tetapi, mereka yang tidak percaya ia tinggalkan hingga mati dan menjadi batu. Kedua perempuan yang menaruh hati kepada Mamle ikut mati. Mereka menjadi batu dan disebut sitri (tempat hati tertambat). Apabila kedua batu itu diusap atau diperolok, turunlah hujan lebat. Batu itu masih ada sampai sekarang.

Lama setelah kejadian itu, Mamle diundang oleh seseorang untuk membuka ladang baru, tetapi dia terlambat datang. Orang-orang lain yang membuka ladang telah kecapean dan beristirahat.  Mamle kemudian membuat api dan mengumpulkan kayu-kayu kering. Dengan sebelah tangannya, kayu-kayu kering itu ia tarik satu kali sudah bertumpuk dengan baik. Semua kayu dan belukar di tempat itu akhirnya terbakar habis sehingga ladang itu siap ditanami. Orang-orang yang hadir di situ keheranan melihat cara kerja Mamle.

Pada suatu hari, Mamle hendak mengunjungi bibinya yang menikah dengan orang Sawiat di tanah Meybat. Di tengah perjalanan ia mencabut dua buah gunung, yaitu Gunug Yilo dan Gunung Tless. Kedua gunung itu diikat dengan tali dlimit dan diapit di kedua lengannya.

Tempat bekas gunung itu menjadi dua  telaga dengan air berwarna biru. Di dalam telaga itu hidup berbagai macam ikan air asin. Setelah sampai di dekat tanah Meybat, Mamle mengikat gunung itu di pohon kara, sejenis pohon gabus. Setelah itu, dia menuju ladang baru. Ketika dia meminta makan, orang-orang di situ mencelanya. Kemudian dia ke ladang baru di sebelahnya, yaitu  ladang bibinya. Bibinya segera memberinya makan.

Setelah orang-orang di ladang itu kembali ke rumah masing-masing, Mamle mengambil dua gunung yang diikat tadi. Kedua gunung itu ia dirikan di ladang baru, kecuali ladang bibinya. Kedua gunung itu masih ada disana sampai sekarang.

Pada suatu hari, ibu Mamle sakit, tetapi tidak ada satu orang pun menjenguk. Bahkan, sampai meninggal pun tidak ada orang datang melayat. Dengan sedih Mamle membawa jenazah ibunya ke khalikhat (tempat menyimpan mayat). Setelah tiga hari, dia mengadakan dlen (pesta perkabungan tiga hari) tanpa dihadiri orang.

Setelah upacara perkabungan selesai, Mamle meninggalkan daerah pegunungan dan pergi ke daratan landai. Kemudian, dia tinggal bersama penduduk Khabra. Di sini Mamle juga membuat berbagai kejadian menakjubkan. Bila ingin makan, ia cukup mengatakan, "Datanglah ikan, udang, serta seisi Sungai Serumuk." Seketika itu juga datanglah berbagai macam ikan, daging, serta lauk pauk lain yang siap dimakan.

Mamle juga menuju daerah Srit. Ia mengajar kebajikan kepada orang-orang di situ sambil mengenakan dua buah alas kaki yang terbuat dari batu datar. Sampai sekarang, dua buah batu datar itu masih ada di sana.

Kesimpulan :
Legenda ini mengisahkan kecerdikan Mamle sehingga dia lepas dari kejaran orang-orang yang akan membunuhnya, bahkan akhirnya dia dapat mengalahkan orang-orang itu. Sampai sekarang kita masih dapat melihat buktinya, yaitu dua buah batu datar di daerah Srit serta dua buah gunung di tanah Meybat, yaitu Gunung Yilo dan Gunung Tless. Konon, kedua batu datar itu pernah dipakai Mamle sebagai alas kaki, sedangkan dua gunug itu pernah dicabut Mamle. Hikmah yang dapat kita ambil dari legenda ini adalah orang yang cerdik akan dapat memecahkan masalah yang dihadapinya dengan baik.

 

 

Sumber : Cerita Rakyat Dari Irian Jaya oleh Muhammad Jaruki dan Mardiyanto

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu