Dikisahkan pada zaman dahulu kala di sebuah bukit yang jauh dari desa di Bumi Kalimantan hiduplah seorang orang tua miskin dan seorang anak gadisnya. Sang ibu yang kesehariannya bekerja mencari sayuran yang nantinya akan dijual di Pasar. Semua itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya dan anak gadisnya.
“Lama sekali sih Bu, aku lapar Bu! lihat di rumah tidak ada makanan apa-apa,” ucapnya sambil menggerutu.
“Aku bosan makan-makanan itu, setiap hari hanya dengan daun singkong!”
Mendengar ucapannya itu Ibunya sangat sedih, tak mau memakan-makanan itu karena memang hanya makanan itu yang bisa dimasak olehnya, dikarenakan dia tidak mampu membeli daging ataupun ikan. Sang gadis pun sama sekali tidak peduli dengan kondisi dari ibunya yang sedang kesulitan mencari uang.
Di malam yang sunyi, sang ibu yang sedang melamun memikirkan kondisi keuangannya, dikejutkan oleh anak gadisnya anak meminta untuk dibelikan baju baru.
“Aku ingin baju baru, besok Ibu harus membelikannya untukku.”
Sang Ibu yang merasa kasihan, dia juga merasa tidak tega dengan anaknya, “Iya nak besok Ibu akan membelikannya untukmu.”
Keesokan harinya mereka berangkat bersama menuju pasar yang cukup jauh dari bukit tempatnya tinggal, untuk memberikan baju anaknya.
“Bu Jangan Jalan disampingku, ibu harus jalan di belakang, karena aku tak mau berjalan bersama ibu. Aku tidak mau terlihat jelek di depan orang-orang yang melihatku. Ibu itu dekil, aku malu. Pokoknya ibu jalan di belakangku titik!”
“Nona, jika boleh saya bertanya, mau ke manakah arah tujuanmu dan dari mana asalmu?” tanya pemuda yang pertama.
“Aku sedang mencari baju baru.”
“Apakah orang tua yang berjalan di belakangmu itu ibumu?” tanya pemuda berikutnya yang bertemu dengan dia.
“Bukan! dia adalah babuku,” jelasnya tanpa rasa bersalah mengatakan itu.
Ibunya yang mendengar itu sangat amat merasa sedih mendengarnya, tidak hanya sampai di situ, setiap orang yang bertanya kepadanya tentang perempuan yang dibelakangnya, dia terus menjawab dengan kata-kata yang menyakitkan.
Sampai pada suatu ketika ibunya sangat merasa sedih dan diapun berkata sambil mengeluarkan air mata, “Oh anakku, tega nian kau mendurhakai ibumu ini yang sudah sayang dan bersabar merawatmu, entah murka apa yang akan engkau terima dari Tuhan.”
Mendengar apa yang ibunya katakan, sang gadis menangis dan memohon ampun, tapi sayang itu sudah terlambat. Perlahan-lahan kakinya berubah jadi batu, kemudian bagian tubuh yang lainnya sampai sekujur badannya.
Semua orang yang melihat terkaget-kaget melihat peristiwa aneh itu. Batu itu akhirnya dipinggirkan orang-orang dan disandarkan di tebing, hingga sekarang batu itu masih ada dan dinamakan batu menangis.
Kita tidak penah tahu seberapa sakit atau susahnya orang tua mencari nafkah untuk anaknya, mereka selalu mengusahaakan apapaun yang kita minta walau pun terkadang lama. Hormati keduanya khususnya ibumu yang sudah melahirkan, karena surga dan restunya itu sangat ampuh untuk menjadikan orang yang sukses dikemudian hari.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...