Dahulu kala orang tinggal dibentang. Di zaman itu boleh dikatakan tak ada rumah yang bentuknya seperti rumah sekarang. Betang itu rumah panjang dan besar. Beratus-ratus orang ditampung di dalamnya. Dalam sebuah kampung biasanya terdapat beberapa buah betang. Kalau banyak pemuda-pemudi kawin atau berkeluarga, dan betang yang sudah tidak mampu lagi menampung mereka, maka dibangunlah betang yang baru.
Pada suatu tempat di Kapuas, dahulu kala ada sebuah kampung. Betang di kampung itu tidak cukup menampung pemuda-pemudi yang baru berumah tangga. Karena itu penduduk mufakat untuk bergotong royong membangun betang yang baru bagi mereka.
Pada hari yang sudah ditentukan, orang banyak bergegas-gegas keluar dari betangnya membawa perkakas masing-masing, menolong menggali tanah tempat mendirikan tiang betang yang baru dibangun.
Demikianlah mereka mulai menggali, menggunakan linggis memakai dayung dan ada yang menggunakan mandau, pendeknya mereka menggunakan bermacam-macam perkakas.
Mereka bekerja sepenuh hati dan tenaga. Keringat bercucuran membasahi muka dan badan. Di mana-mana mereka ada melaksanakan tugas. Mereka yang tidak menggali, menolong mengangkat tanah, sebagian lagi menimba air yang mengalir dari dalam lubang, jangan sampai mereka terendam.
Yell, yell teriakan untuk membangkitkan semangat mereka yang sedang bekerja dan melupakan kelelahan, terdengar dari sana-sini. Pekerjaan itu sungguh berat, tetapi mereka kerjakan dengan tertawa gembira. Sorak sorai mereka ramai sekali.
Mereka yang tidak menolong menggali, pulang pergi berjalan mengangkat tiang kayu besi untuk membangun betang itu. Yell, yell untuk menimbulkan semangat sering mereka teriakkan.
Dengan demikian, walaupun matahari sudah berada di atas kepala mereka masih saja bekerja.
Tiba-tiba terdengar suara ribut. Mereka berhenti seketika mencari sebab-musebab keributan itu.
"Ada apa?" tanya yang satu kepada yang lain.
"Ikan apa?" bertanya lagi mereka yang ada di sekitar itu.
"Mari kami bantu," kata mereka.
Lalu orang banyak berdiri mendatangi dan menolong mereka mengangkat benda itu ke atas tanah. Barang itu bukan main besarnya. Beberapa orang mengangkatnya, baru bisa terangkat. Benda itu lemah dan lembut serta tidak bersisik. Rupanya seperti ikan, tetapi bukan ikan. Dikatakan binatang, tidak juga, sebab mahkluk itu tak berkaki.
"Apakah itu?" tanya mereka.
"Binatang bukan."
"Burung tidak juga. Tempatnya dalam tanah, lagi pula berair."
"Cacing bukan, karena sangat besar, lagi pula bertengkorak"
"Tidak, makhluk itu pastilah ikan"
"Apakah itu?"
"Ikan."
"Ikan apa?"
"Entahlah."
Demikianlah selalu jawaban yang diperoleh, kalau ada yang bertanya mengenai mahluk itu. Jawaban yang serba kabur semua. Untuk menyelesaikan persoalan itu, mereka bermufakat menamai ikan itu Lauk En (Ikan apa)
Menurut adat kebiasaan orang pada zaman dahulu, hasil perolehannya langsung dipotong-potong, dibagikan untuk seluruh penduduk kampung itu.
Mereka yang berkeluarga besar mendapat bagian lebih banyak dari mereka yang berkeluarga kecil. Sedangkan untuk mereka yang bekerja, ikan itu dimasak dan dihidangkan kepada mereka. Demikian seluruh penduduk kampung beserta pola makan Lauk En itu.
Dari sekian banyak orang yang telah menikmati ikan itu, hanya dua orang pemuda yang belum, disebabkan karena ada pekerjaannnya mereka terpaksa meninggalkan kampung tengah hari itu juga. Namun ketika mereka hendak ke ladang, mereka juga diberikan beberapa potong Lauk En.
Pada malam hari mereka berdua terbangun sebab mendengar suara gemuruh dan menderu datangnya dari arah kampung mereka. Salah seorang dari antara mereka membuka pintu pondoknya untuk benar-benar dapat memastikan apakah suara itu datang dari arah kampungnya atau tidak. Sudah dapat dipisahkan bahwa suara itu dari kampungnya. "Apakah yang terjadi disana? "tanya adiknya keheranan.
"Entahlah." Tetapi yang pasti suara itu dari arah kampung. "Wah." kata adiknya?" Mengapa daging ikan yang digantung ini cir-car gemerlapan?". "Lihat, rupanya pun bergerak-gerak, sampai tiang para-para itu tergoyang olehnya."
Rupanya keduanya belum sempat memasak ikan tadi dan sebab keduanya bermalam diladang, ikan itu sengaja belum dimasaknya hari itu untuk dimakan mereka besok.
"Nah, bahaya?" kata kakaknya. "Tentu ada sesuatu yang tidak beres terjadi di sana" "Mari kita pergi melihatnya."
"Mari." sahut adiknya.
Ketika mereka berdua sedang bersiap untuk berangkat, tiba-tiba daging ikan itu tadi terbang menuju kampung. Mereka berdua terkejut sekali karena hal yang menakutkan itu.
Walaupun demikian, mereka berdua pun berangkatlah kesana. Apakah yang terlihat? Ke hulu, ke hilir mereka melihat manusia terbang sambil berteriak-teriak dan saling menggigit sama sendiri dan waktu telah hampir siang, mereka telah berhenti melakukannya.
Menyaksikan hal itu, mereka lalu tidak berani mendekati kampung dan melarikan diri ke kampung lain. Menurut ceritanya mereka yang telah makan Lauk En itu menjadi nenek moyang orang hantuen.
sumber:
Untuk membuka blokIr (BRImo) yang terblokIr. Anda bisa menghubungi Layanan CS BRI di Nomor WhatsApp+: (+62817. 7641 4017.))) atau 1500017 atau Anda Bisa lakukan lupa username atau password" pada halaman login aplikasi {BRImo}.
Untuk membuka blokIr (BRImo) yang terblokIr. Anda bisa menghubungi Layanan CS BRI di Nomor WhatsApp+: (+62817. 7641 4017.))) atau 1500017 atau Anda Bisa lakukan lupa username atau password" pada halaman login aplikasi {BRImo}.
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...