Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Kalimantan Tengah
Cerita Ikan Miau dan Ikan Kakapar
- 27 Desember 2018

Pada suatu hari ikan miau berkunjung ke rumah saudaranya ikan kakapar. Ia berkata kepada saudaranya itu.

"Oh, adikku aku hendak pergi merantau melihat negeri orang. Sudah bosan rasanya saya selalu tinggal di kampung. Saya ingin juga menambah pengalaman. Bagaimana pendapatmu?

"Pikiranmu itu baik saja, kakanda, cuma harus dipikirkan masak-masak lebih dahulu, kalau-kalau yang diperoleh kakanda nanti bukan yang mengenakkan melainkan cuma sesuatu yang menyusahkan" sahut kakapar.

Maka kata miau, "Yah sudah ku pikirkan juga hal itu. Dan pikiranku sudah tetap hendak pergi merantau." Kakapar diam sejenak, lalu kemudian ia bersuara lagi, "Kalau kehendakmu memang sudah tetap dan tak dapat dihalang-halangi lagi, silahkan laksanakan saja maksudmu itu. Cuma kakanda harus ingat di jalanan banyak sekali bahaya.

Menurut suara bunyi burung Tingan. Maharaja sekarang sedang memasang bubu tampirainya dimana-mana. Baiklah kakanda berhati-hati. Jangan sampai terjerumus melihat sesuatu yang bergantungan disana-sini, sebab semuanya itu umpan supaya seseorang lengah dan masuk bubu serta tampirat Maharaja itu."

"Tak apa adinda, aku kakakmu ini tak akan terjebak, percayalah padaku," kata miau.
"Baiklah kakanda, pergilah saja, laksanakan niatmu itu. Saya tak bermaksud hendak menghalanginya.

Demikianlah miau lalu berkemas dan berangkat. Disana-sini dikunjunginya. Ia sangat gembira karena dalam pengembaraannya itu ia bertemu banyak sekali hal yang bagus-bagus. Sering ia tertegun heran melihat segala sesuatu yang gemerlapan, kelap-kelip, memancarkan cahayanya sampai matanya silau. Sebab melihat semuanya ini, mau lalu lupa, Pada suatu hari ia melihat sebuah pintu kecil sekali, cukup dilalui seorang saja.

Di dengarnya di dalam ruangan itu, orang berbicara ramai sekali, lalu timbullah hasratnya untuk mengetahui, apakah gerangan yang terjadi di dalamnya. Lalu ia pun menjejalkan dirinya melewati pintu langsung masuk ke dalam waktu ia masuk, mereka yang didalam ramai mentertawainya. Miau tak tahu mengapa mereka tertawa. Baru setelah ia hendak keluar dari ruangan itu ia mengetahui bahwa ikan-ikan mentertawai kebodohnanya. Bahwa ia sama bodoh seperti mereka yang sudah terjebak, masuk tampirai Maharaja.

Miau mendekati pintu duduk disitu lalu menangis. Sementara ia sedang menangis lalu ada seekor ikan buntal disitu, mendengar tangisan miau demikian lalu buntalpun berhenti disitu.
"Hai, sanger mengapa engkau menangis?" kata buntal.

"Yah beginilah sanger, karena kebodohanku tidak menghiraukan nasehat saudara perempuanku kakapar, maka aku terkurung disini," kata miau. Sekarang saya tak dapat keluar dari sini menunggu saat datangnya Maharaja membunuh kami."

"Yah saudara benar-benar kasihan nasibmu," apakah yang dapat ku perbuat untukmu?" kata buntal.
Lalu kata miau, "Tolong katakan pada saudariku kakapar saya terkurung didalam tampirai Maharaja, tanyakan kepadalah juga rumah kakapar itu.

"Hai Nger, apa kabar?" kata kakapar.

Buntal selanjutnya menceritakan apa yang telah terjadi terhadap miau dan menyampaikan pesannya. Beberapa saat kakapar terdiam. Ia memikirkan mencari akal bagaimana caranya dapat menolong saudaranya.

Buntal pun diam pula. Ia tahu kakapar sedang berpikir mencari jalan yang baik untuk menolong miau itu.

"Begini saja" kata kakapar, "Katakan pada kakakku miau kalau Maharaja mengangkat tampirainya, baiklah ia mengejangkan badannya supaya kaku, mengeruhkan matanya supaya Maharaja mengiranya sudah mati, kalau Maharaja melihatnya pasti ia dipisahkan dari ikan-ikan yang masih hidup. Mereka yang hidup pasti dimasukkannya ke dalam kurungan, tetapi mereka yang mati atau kejang pastilah dibiarkan diluar. Begitulah kalau Maharaja lengah, ia dapat saja melompat ke air."

Buntal lalu kembali menemui miau ditampirai Maharaja lalu menyampaikan pesan kakapar tadi. Tak berapa lama kemudian lalu Maharaja bersama Ranggir mengangkat tampirainya. Waktu Maharaja mengangkat tampirai, ia gembira sekali.

“Banyak benar ikan didalamnya. Masukkan ke dalam kurungan,” katanya kepada Ranggir. Ranggir mengambil tampirai itu dari tangan maharaja.

“Hai…., kata Ranggir, rupanya kita terlambat mengangkat tampirai ini, ada seekor miau besar didalamnya. Kaku tubuhnya rupanya matanya pun keruh, tentu ikan ini sudah mati.”

Ranggir lalu memisahkan miau itu dari ikan lainnya dan diletakkannya diatas lantai perahu bersama-sama dengan ikan-ikan lain yang sudah mati.

Waktu Ranggir dan Maharaja asyik berdayung, tiba-tiba “Cup, miau melompat dari atas lantai perahu ke air.

“Hai, rupanya miau tadi masih hidup,” kata Ranggir. Maharaja diam saja, karena ikannya terlalu banyak yang diperoleh hari ini.

Begitulah ia lalu pulang ke tempat asalnya, berjumpa lagi dengan saudaranya. Ia sangat berterima kasih atas jasa kakapar, yang karena pertolongannya  ia terlepas dari bahaya itu dan pulang ke kampungnya.

 

 

sumber:

  1. Alkisah Rakyat (http://alkisahrakyat.blogspot.com/2015/12/cerita-ikan-miau-dan-ikan-kakapar.html)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu