Pada suatu hari ikan miau berkunjung ke rumah saudaranya ikan kakapar. Ia berkata kepada saudaranya itu.
"Oh, adikku aku hendak pergi merantau melihat negeri orang. Sudah bosan rasanya saya selalu tinggal di kampung. Saya ingin juga menambah pengalaman. Bagaimana pendapatmu?
"Pikiranmu itu baik saja, kakanda, cuma harus dipikirkan masak-masak lebih dahulu, kalau-kalau yang diperoleh kakanda nanti bukan yang mengenakkan melainkan cuma sesuatu yang menyusahkan" sahut kakapar.
Maka kata miau, "Yah sudah ku pikirkan juga hal itu. Dan pikiranku sudah tetap hendak pergi merantau." Kakapar diam sejenak, lalu kemudian ia bersuara lagi, "Kalau kehendakmu memang sudah tetap dan tak dapat dihalang-halangi lagi, silahkan laksanakan saja maksudmu itu. Cuma kakanda harus ingat di jalanan banyak sekali bahaya.
Menurut suara bunyi burung Tingan. Maharaja sekarang sedang memasang bubu tampirainya dimana-mana. Baiklah kakanda berhati-hati. Jangan sampai terjerumus melihat sesuatu yang bergantungan disana-sini, sebab semuanya itu umpan supaya seseorang lengah dan masuk bubu serta tampirat Maharaja itu."
"Tak apa adinda, aku kakakmu ini tak akan terjebak, percayalah padaku," kata miau.
"Baiklah kakanda, pergilah saja, laksanakan niatmu itu. Saya tak bermaksud hendak menghalanginya.
Demikianlah miau lalu berkemas dan berangkat. Disana-sini dikunjunginya. Ia sangat gembira karena dalam pengembaraannya itu ia bertemu banyak sekali hal yang bagus-bagus. Sering ia tertegun heran melihat segala sesuatu yang gemerlapan, kelap-kelip, memancarkan cahayanya sampai matanya silau. Sebab melihat semuanya ini, mau lalu lupa, Pada suatu hari ia melihat sebuah pintu kecil sekali, cukup dilalui seorang saja.
Di dengarnya di dalam ruangan itu, orang berbicara ramai sekali, lalu timbullah hasratnya untuk mengetahui, apakah gerangan yang terjadi di dalamnya. Lalu ia pun menjejalkan dirinya melewati pintu langsung masuk ke dalam waktu ia masuk, mereka yang didalam ramai mentertawainya. Miau tak tahu mengapa mereka tertawa. Baru setelah ia hendak keluar dari ruangan itu ia mengetahui bahwa ikan-ikan mentertawai kebodohnanya. Bahwa ia sama bodoh seperti mereka yang sudah terjebak, masuk tampirai Maharaja.
Miau mendekati pintu duduk disitu lalu menangis. Sementara ia sedang menangis lalu ada seekor ikan buntal disitu, mendengar tangisan miau demikian lalu buntalpun berhenti disitu.
"Hai, sanger mengapa engkau menangis?" kata buntal.
"Yah beginilah sanger, karena kebodohanku tidak menghiraukan nasehat saudara perempuanku kakapar, maka aku terkurung disini," kata miau. Sekarang saya tak dapat keluar dari sini menunggu saat datangnya Maharaja membunuh kami."
"Yah saudara benar-benar kasihan nasibmu," apakah yang dapat ku perbuat untukmu?" kata buntal.
Lalu kata miau, "Tolong katakan pada saudariku kakapar saya terkurung didalam tampirai Maharaja, tanyakan kepadalah juga rumah kakapar itu.
"Hai Nger, apa kabar?" kata kakapar.
Buntal selanjutnya menceritakan apa yang telah terjadi terhadap miau dan menyampaikan pesannya. Beberapa saat kakapar terdiam. Ia memikirkan mencari akal bagaimana caranya dapat menolong saudaranya.
Buntal pun diam pula. Ia tahu kakapar sedang berpikir mencari jalan yang baik untuk menolong miau itu.
"Begini saja" kata kakapar, "Katakan pada kakakku miau kalau Maharaja mengangkat tampirainya, baiklah ia mengejangkan badannya supaya kaku, mengeruhkan matanya supaya Maharaja mengiranya sudah mati, kalau Maharaja melihatnya pasti ia dipisahkan dari ikan-ikan yang masih hidup. Mereka yang hidup pasti dimasukkannya ke dalam kurungan, tetapi mereka yang mati atau kejang pastilah dibiarkan diluar. Begitulah kalau Maharaja lengah, ia dapat saja melompat ke air."
Buntal lalu kembali menemui miau ditampirai Maharaja lalu menyampaikan pesan kakapar tadi. Tak berapa lama kemudian lalu Maharaja bersama Ranggir mengangkat tampirainya. Waktu Maharaja mengangkat tampirai, ia gembira sekali.
“Banyak benar ikan didalamnya. Masukkan ke dalam kurungan,” katanya kepada Ranggir. Ranggir mengambil tampirai itu dari tangan maharaja.
“Hai…., kata Ranggir, rupanya kita terlambat mengangkat tampirai ini, ada seekor miau besar didalamnya. Kaku tubuhnya rupanya matanya pun keruh, tentu ikan ini sudah mati.”
Ranggir lalu memisahkan miau itu dari ikan lainnya dan diletakkannya diatas lantai perahu bersama-sama dengan ikan-ikan lain yang sudah mati.
Waktu Ranggir dan Maharaja asyik berdayung, tiba-tiba “Cup, miau melompat dari atas lantai perahu ke air.
“Hai, rupanya miau tadi masih hidup,” kata Ranggir. Maharaja diam saja, karena ikannya terlalu banyak yang diperoleh hari ini.
Begitulah ia lalu pulang ke tempat asalnya, berjumpa lagi dengan saudaranya. Ia sangat berterima kasih atas jasa kakapar, yang karena pertolongannya ia terlepas dari bahaya itu dan pulang ke kampungnya.
sumber:
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...