Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Maluku Maluku
Cerita Ikan Bibi
- 27 Desember 2018

Di sebelah Selatan pulau Kei Besar pada pesisir bagian Timurnya terletak sebuah negeri/desa yang bernama "UWAT." Pada bagian Utara negeri/desa itu dekat pesisir pantai terdapat tiga buah patung yang tingginya kira-kira 50 cm. Ketiga patung itu merupakan lembang dari tiga orang bersaudara yang pernah hidup di sana. Ketiga orang bersaudara itu, yang sulung bernama ‘Sades’, yang kedua/tengah bernama ’Barnav’ dan yang ketiga bernama 'Far-Far.' Ketiga lelaki bersaudara ini masih memiliki seorang adik perempuan yang bernama "Bokel."

Keempat saudara bersaudara ini hidup dalam satu suasana kekeluargaan yang rukun, aman, damai serta seia-sekata, pendek kata mereka menghadapi semua persoalan hidupnya sesuai dengan kata pepatah "berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing." Itulah sebabnya untuk menghadapi segala persoalan hidup mereka sehari-hari mengadakan pembagian tugas sebagai berikut :

Sades sebagai kakak yang sulung tiap hari bertugas untuk membuat perahu/sampan untuk dijual ataupun digunakan untuk menangkap ikan sebagai tugas kedua demi memenuhi kehidupan bersama. Barnav sebagai saudara kedua bertugas untuk berkebun. Far-Far sebagai saudara ketiga bertugas untuk membantu saudara perempuan mereka Bokel agar menyiapkan makanan dan keperluan mereka sehari-hari di rumah termasuk tugas untuk mengambil saguer atau tuak kepada kedua kakaknya. Demikianlah cara hidup dari keempat saudara kandung tersebut. Namun sangatlah disayangkan bahwa kehidupan yang rukun dan antara keempat bersaudara ini tak dapat berlangsung lama sebagaimana yang mereka cita-citakan.

Pada satu saat Sades lagi sibuk melaksanakan salah satu tugas pokoknya, teringatlah Sades bahwa ikan mereka di rumah sudah habis, sehingga lauk pauk mereka tak ada lagi untuk  makan nanti. Segera ia berkemas, mengambil alat-alat penangkap ikannya lalu berjalan menuju ke arah tepi pantai. Sesampainya di pantai ia berjalan ke arah perahu/sampannya lalu meletakkan segala peralatan penangkapan ikan di dalam sampannya seraya mendorong sampan itu ke laut dan segera ia naik ke atas sampan itu dan mengayuhkannya menuju tempat di mana ia akan menangkap ikan.

Beberapa jam kemudian Sades sudah kembali dengan membawa hasil ikan yang cukup memuaskan. Ikan hasil perolehan Sades itu lalu diberikan kepada Bokel dan Far-Far untuk dimasak sesuai tugas mereka berdua, agar mereka berempat bisa segera makan, karena makanan lainnya sudah disiapkan sejak tadi oleh Bokel dan Far-Far. Bokel segera mengambil ikan-ikan hasil perolehan Sades tadi untuk dibersihkan. Sementara Bokel lagi membersihkan ikan-ikan itu, tiba-tiba terpeciklah sisik ikan itu dan melekat pada mata susu/puting Bokel. Ikan yang sisiknya melekat pada puting Bokel itu namanya ikan Kilbav Reng. Sisik ikan ini tetap melekat pada mata susu/puting Bokel walaupun sudah beberapa kali ia mandi bahkan setiap hari ia mandi beberapa kali untuk menghilangkan sisik ikan itu dari putingnya namun usaha ini tidak berhasil.

Lama kelamaan tanpa disadari Bokel sudah mengandung, ia lalu menjadi takut dan belum berani untuk menceriterakan hal ini kepada ketiga saudara lelaki yang sangat ia cintai itu. Kini Bokel menjadi gelisah memikirkan nasib malang yang sedang mencekam dirinya. Namun di lain pihak dia menyadari dan yakin akan dirinya bahwa ia belum pernah berhubungan dengan seorang laki-lakipun. Sedang sisik ikan yang melekat pada putingnya itu terjadi secara tidak disengaja. Di atas dasar kesadaran dan keyakinan demikian Bokel memberanikan diri untuk menceriterakan keadaan dirinya kepada ketiga saudara lelakinya. Ketiga lelaki ini terkejut dan menjadi sangat susah memikirkan nasib satu-satunya adik perempuan bungsu mereka ini.

Kini Sades, Barnav, Far-Far, berkumpul bersama-sama dengan Bokel untuk mengadakan penyelidikan siapakah di antara mereka bertiga yang telah membuat perbuatan tercela dan hina itu serta merusak sendi-sendi kehidupan persaudaraan mereka. Dari pemeriksaan dan penyelidikan yang mereka lakukan secara terbuka dan jujur di antara mereka sendiri, ternyata bahwa tidak ada seorang pun di antara ketiga saudara lelaki Bokel yang terbukti melakukan perbuatan  tercela itu. Hanya dari pemeriksaan dan penyelidikan itu ternyata bahwa ada sisik ikan Kilbav Reng yang melekat pada mata susu/puting Bokel, di mana ketiga saudara Bokel itu lalu menduga bahwa sisik ikan itulah yang mengakibatkan Bokel mengandung. Walaupun ketiga lelaki tersebut tidak bersalah dan meskipun Bokel sendiri juga tidak bersalah namun peristiwa ini sangat merusak nama baik mereka sehingga tidak ada jalan keluar lain yang harus diambil kecuali desa mereka.

Bokel harus ditenggelamkan ke dalam laut atau Bokel harus dihanyutkan ke tengah laut, sehingga ia harus dihanyutkan oleh arus laut ke mana saja asalkan tidak ke negeri desa mereka. Kedua kemungkinan ini setelah ditimbang masak-masak oleh Sades, Barnav, dan Far-Far tibalah mereka pada kesimpulan bahwa kemungkinan kedualah yang harus digunakan yakni Bokel harus dihanyutkan. Setelah ketegasan ini diambil maka ketiga saudara lelaki itu pun bergegas untuk menyiapkan segala sesuatu demi pelaksanaan keputusan sesuai adat mereka. Mereka lalu menyiapkan sebuah "perahu semang" atau perahu bercadik yang cukup besar dan dilengkap dengan layar, dayung dan lain-lain, juga perbekalan yang cukup untuk beberapa bulan berupa embal yaitu sagu yang dibuat dari ubi kayu, ikan, sayur dan air minum. Di samping itu perahu/sampan itu dilengkapi pula dengan alat-alat senjata berupa busur, anak panah, tombak, bambu runcing, parang, pisau dan alat senjata lainnya.

Ketika persiapan sudah siap semuanya dan hari pelaksanaan keputusan itu telah sampai, mereka lalu menentukan waktu di mana hari masih gelap gulita maka Bokel diantar oleh kaum kerabat dan sanak-saudara menuju tempat di mana keputusan ini akan dilaksanakan bernama "Yaman." Di tempat inilah terjadi perisitiwa yang sangat menyedihkan itu, di mana di sanalah terjadi cucuran air mata dari kaum kerabat dan sanak- saudara yang sempat menyaksikannya. Peristiwa penghanyutan Bokel ini diawali dengan satu upacara doa/permohonan kepada dewa. Tuhan dan arwah nenek-moyang. Do'a itu adalah sebagai berikut :
"Ambafof o, fel musa rehe, om mol muf ar. Bet hira en hauk ental o, am na rok neran tataha i mental i. Fel, mba i timlebat nuhu met mot ifar habar m na sak Yaman Uram en har tad Janean."
Artinya :
"Kami menghanyutkan engkau, bila kau bersalah, maka akan lenyap dari muka bumi ini. Tetapi bila kau tidak bersalah, sekali kelak turunanmu akan seperti pasir di pantai dan bintang di langit dan turunanmu akan menjadi orang berkuasa. Serta engkau akan membuktikan itu kepada kami keluargamu. Siapa yang menyerang engkau, akan kau serang dengan alat senjata yang telah kami berikan padamu."
Selesai upacara do'a ini lalu dihanyutkan. Berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya Bokel diombang-ambingkan gelombang laut yang cukup menakutkan dan akhirnya terdamparlah Bokel di pantai "Kaimana" yang terletak di daratan Irian Jaya sekarang. Di Kaimana Bokel disambut oleh bangsawan penduduk asli Kaimana lalu ia dikawinkan dengan bangsawan negeri tersebut. Segala peralatan senjata yang dibawa oleh Bokel serta sisa air minum dalam bambu dan lain-lainnya ditanam di tepi pantai kota Kaimana di tempat mana Bokel mendarat dengan sampan bercadik. Barang-barang yang ditanam tadi lalu tumbuh dengan suburnya.

Setelah Bokel tiba di Kaimana ia tidak lupa untuk memberitahukan kepada sanak saudaranya bahwa ia telah tiba dengan selamat dan sentosa di Kaimana. Berita ini disampaikan melalui sekawan "Ikan Bibi" yaitu sejenis ikan yang buncit sekali perutnya. Berita ini disampaikan oleh Bokel melalui ikan bibi dan tidak melalui manusia, karena Bokel sangat khawatir bilamana berita ini diberikan melalui manusia, jangan-jangan berita itu tidak disampaikan kepada ketiga kakak tercintanya. Ikan bibi ini menyampaikan berita tersebut kepada ketiga saudaranya melalui Sades kakak sulung dari Bokel bersaudara, karena  Sadeslah yang senantiasa pergi ke laut mencari ikan sesuai pembagian tugas mereka. Ikan bibi itu biasanya beracun, sehingga bilamana ada nelayan yang secara kebetulan menangkap ikan jenis ini, segera dilepaskan kembali ke dalam  laut hidup-hidup, sehingga ikan itu dapat hidup lagi.

Tetapi sangatlah aneh ketika pergi menangkap ikan pada satu ketika ia menangkap seekor ikan bibi. Tatkala ikan bibi itu hendak dilepaskan kembali oleh Sades bagaimana lazimnya ikan bibi itu lalu berkata: "Jangan engkau melepaskan aku, aku ada membawa pesan dari saudaramu Bokel". Sades menjadi heran dan tercengang mendengar suara ikan bibi itu lalu bertanya: "Apa pesannya itu?" Lalu ikan bibi itu pun berkata : "Saudaramu  Bokel  telah sampai dengan selamat di Kaimana, dan telah kawin dengan bangsawan asli Kaimana di Irian Jaya dan telah menjadi orang kaya dan kami sekawan ikan bibi ini diutus untuk memberitahukan hal ini kepada saudara-saudaranya. Dan pesannya lagi, sesudah kami memberitahukan hal ini maka kami boleh saudara-saudara tangkap untuk dimakan, yang merupakan pertanda  bahwa  kami  sudah  menyampaikan berita ini kepada saudara-saudara." Selesai ikan bibi itu menyampaikan pesan tersebut Sades pun berkata kepada ikan bibi tersebut: "Bagaimana kami dapat makan saudara-saudara sedang saudara beracun."

Mendengar pertanyaan Sades itu ikan bibi itu pun menyahut seraya menunjukkan bagaimana caranya membersihkan ikan bibi sehingga racunnya dapat dibuang agar supaya ikan itu dapat dimakan. Kini ikan bibi yang tadinya beracun dan tidak dapat dimakan orang sekarang orang sudah dapat memakannya karena rahasia untuk menghilangkan racun dari ikan tersebut sudah diberitahukan sendiri oleh ikan bibi itu sendiri. Dan mulai saat itu tiap tahun pada waktu tertentu yaitu dari bulan Maret sampai dengan permulaan bulan Mei ikan bibi selalu banyak muncul dan ditemui di sekitar pantai Ratskhap/Fes Choitel dari pantai timur sampai ke pantai barat. Keadaan ini berlangsung dari saat itu hingga sekarang di mana dalam kurun waktu tersebut di atas muncullah ikan bibi di daerah tersebut dalam jumlah yang sangat banyak.

Dan hanya orang-orang yang menghuni Ratshap Tubab Jamlim/Fes Choitel sajalah yang mengetahui cara membersihkan ikan bibi tersebut agar dapat dimakan sedang penduduk kepulauan Kei lainnya tidak mengetahui caranya, malah orang Kei lainnya menganggap pantang makan ikan tersebut, karena beracun ikan bibi itu sudah banyak menimbulkan malapetaka. Demikianlah ceritera yang mengkisahkan mengapa ikan bibi bermunculan sangat banyak antara bulan Maret sampai dengan bulan Mei di sekitar pantai Ratshap Tubab Jamlim/Fes Choitel.

 

 

Sumber : Ceritera Rakyat Daerah Maluku oleh Depdikbud

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum