Dahulu kala di puncak gunung Pararawen ada sebuah kota yang indah sekali. Kota itu lengkap dengan gedung-gedung balai pertemuan, kolam permandian, dan banyak hal-hal lainnya.
Pada zaman kekuasaan raja Tiong Gomba, negeri itu makmur sekali. Rakyatnya hidup senang, tak ada kesukaran, aman dan tenteram serta berbahagia.
Raja itu mempunyai seorang putri, putri Ayang namanya. Putri itu makin lama makin besar dan pada waktu itu sudah meningkat dewasa. Karena raja hanya mempunyai seorang putri saja, maka putri itu sangat dimanjakan. Apa saja kemauannya semuanya diturutkan. Atas permintaannya, dibuatkanlah sebuah kolam khusus tempat sang putri mandi. Tiap hari ia mandi di kolam itu. Ia boleh mandi sepuas hatinya di kolam itu.
Pada suatu hari raja Tiong Gomba bermaksud hendak mengadakan perjalanan ke hilir ke kota Kayu Tangi. Sebelum ia berangkat, diceritakannya kepada istrinya akan rencananya itu dan mengharapkan supaya mereka tinggal baik-baik, dalam suasana yang aman dan tenteram.
Pada hari yang sudah ditentukan, raja Tiong Gomba menyuruh anak buahnya menyediakan perlengkapan secukupnya dan kemudian berangkatlah mereka.
Alkisah, raja Tiong Gomba dan pengiringnya naik ke dalam perahu, berangkat langsung ke hilir. Setelah kira-kira enam jam perjalanan, sampailah mereka pada sebuah gosong pasir dan melihat seekor buaya besar yang sedang berjemur di panas matahari.
Lalu raja Tiong Gomba menyuruh anak buahnya mendekati buaya itu untuk mengetahui apakah benar-benar masih hidup atau sudah mati. Setelah didekati, ternyata buaya itu masih hidup. Lalu kata Tiong Gomba, "Hai buaya" "Kalau kamu buaya sejati, bukan buaya jadi-jadian, aku ingin menyaksikan kehebatanmu. Coba tangkaplah anakku di atas gunug Pararawe sana!" Setelah berkata demikian, mereka lalu meneruskan perjalanannya ke hilir menuju Kayu Tangi.
Setelah mendengar ucapan Tiong Gomba yang dianggapnya sebagai suatu penghinaan, buaya itu lalu mencari daya upaya, bagaimanakah caranya ia bisa sampai ke puncak gunung Pararawen itu. Sebab menurut kata raja, putrinya mandi setiap hari dikolam yang khusus dibuatkan untuknya di puncak gunung Pararawen.
Demikianlah buaya itu lalu pergi menuju sungai Pararawen, meneruskan perjalananya dan akhirnya sampai di daerah terdekat di kaki gunung itu. Ia berdaya upaya mencari akal untuk sampai ke puncaknya. Setiap hari digalinya lubang sedikit demi sedikit. Begitulah dilakukannya, membuat lubang naik menuju bukit Pararawen. Lama kelamaan akhirnya lubang yang digalinya itu, yang merupakan terowongan, tembus juga ke puncak, dan kebetulan persis ditengah-tengah kolam tempat permandian sang putri. Disitulah buaya itu menunggu saatnya putri Tiong Gomba yang bernama Ayang turun mandi.
Pada suatu pagi, ketika putri Ayang sedang asyik mandi, buaya itu tiba-tiba menyambarnya dan langsung membawa putri itu ke hilir menuju sebuah gosong tempatnya berjemur dahulu.
Setelah beberapa lama raja Tiong Gomba berada di Kayu Tangi, mereka pun kembalilah ke negerinya di puncak gunung Pararawen.
Menurut ceritanya, dalam perjalanan pulang tersebut, sampailah mereka di gosong tempat buaya berjemur dan ketika hendak melewatinya, buaya itu sudah ada lagi. Tetapi di situ mereka melihat sepotong batang kayu dan di atasnya kelihatan terletak sepotong tangan.
Melihat hal itu, Tiong Gomba menyuruh anak buahnya mendekati tempat tersebut, memeriksa hal apakah yang telah terjadi disitu.
Rupa-rupanya buaya itu setelah menyambar dan membunuh sang putri, mayatnya lalu dibawa dan diletakkannya di atas gosong tempatnya berjemur dahulu sementara raja Tiong Gomba, masih berada di hilir dan gelang itu dikenalnya mirip seperti gelang putrinya, Tiong Gomba pergi mendekatinya dan memeriksa hal itu lebih lanjut.
Kenyataannya memang benarlah bahwa tangan yang terlihat itu adalah tangan putrinya sendiri. Hal itu lebih jelas lagi setelah dilihatnya badan putri itu masih utuh, tidak ada yang kurang, cuma saja ia ternyata sudah tak bernyawa lagi. Mayat anaknya dibawanya kembali ke negerinya dipuncak gunung Pararawen. Menurut ceritanya kolam itu masih ada sampai sekarang.
sumber:
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...