Dahulu di Bengkulu ada sebuah kerajaan, rajanya bernama Kiyai Ratu Agung dan istrinya bernama Putri Dewi. Raja dan Ratu ini telah berpuluh-puluh tahun hidup berumah tangga, namun tidak mempunyai anak, jangankan mempunyai anak, hamil pun tidak. Melihat keadaan yang demikian, istri raja menjadi sedih. Kemudian raja memerintahkan untuk memanggil ahli nujum guna meramalkan nasib mereka. Apakah bisa diberkahi anak atau tidak.
Ahli nujum membuka-buka kitab nujumnya dan menurut ramalan yang ada dalam buku tersebut bahwa jika Raja dan Ratu ingin mempunyai anak, Raja harus pergi bertapa ke sebuah pulau, namanya pulau Sumedang. Di pulau itu ada sebatang kayu yang bernama Sumedang.
Kayu tersebut mempunyai lima lembar daun, tiga lembar berbentuk bulat, dan dua lembar berbentuk pipih. Bila lima lembar daun itu telah gugur baru Raja kembali ke rumah, tetapi bila kelima daun itu belum gugur berarti Raja belum bisa pulang. Kemudian Raja diantar oleh rakyatnya untuk bertapa dan sesampainya ditempat pertapaan, Raja di ditinggal sendiri. Ratu yang ditinggalkan oleh Raja merasa gelisah sebab takut Raja tidak pulang lagi.
Pada suatu malam, istri Raja bermimpi didatangi lima ekor burung tiga ekor bersuara dan dua ekor tidak bersuara. Mimpi itu dikatakan kepada tukang ramal, kemudian tukang ramal menyatakan bahwa sebentar lagi Ratu akan mempunyai anak, dan anak yang Ratu miliki adalah nanti adalah berjumlah lima orang, tiga orang anak laki-laki dan dua orang perempuan, Ratu merasa lega hatinya.
Tiga bulan lamanya Raja bertapa dan akhirnya jatuhlah 3 lembar daun yang kemudian disusul lagi oleh jatuhnya dua lembar daun Sumedang tersebut. Raja merasa puas karena hasratnya telah tercapai. Sesampainya di rumah, segera dikabarkan pada ahli nujum tentang arti lima lembar daun Sumedang itu. Ahli nujum mengatakan bahwa raja akan diberkahi tiga orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan.
Mendengar berita itu Raja berbangga hati sebab berita ini mempunyai kesamaan dengan mimpi sang ratu Putri Dewi.
Setahun kemudian istri raja melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama "Bujang Gemalun". Setahun setelah kelahiran anak pertama, lahir pula anak kedua yang diberi nama "Raden Sulaiman." Setahun kemudian lahirlah anak yang ketiga dan diberi nama "Bujang Kecil". Sekarang Raja dan Ratu telah diberkahi anak tiga orang anak laki-laki semuanya, sebagai mana yang dikatakan ahli nujum tentang tiga lembar daun yang bulat dan tiga ekor burung yang bersuara seperti mimpi ratu Putri Dewi.
Setelah ketiga orang anak laki-laki itu lahir, maka setahun kemudian menyusul pula anak perempuan yang diberi nama Dayang Serada. Setahun kemudian menyusul pula anak perempuan yang diberi nama Dayang Seradi, maka kini lengkaplah anak Raja dan Ratu berjumlah lima orang sebagai mana yang telah diramalkan oleh ahli nujum itu. Maka diangkatlah ahli nujum itu menjadi penasehat raja, itu sebagai hadiah dan tanda terima kasih kepada ahli nujum.
Setelah anak mereka yang pertama yakni Bujang Gemalun dewasa ahli nujum memerintahkan agar anak ini bertapa selama tiga tahun untuk memperkuat kerajaan. Selama tiga tahun Bujang Gemalun bertapa, ia mendapat berita bahwa adiknya Dayang Serada akan diambil atau dikawini secara paksa oleh raja Malaka. Kebetulan pada waktu akan diambilnya Dayang Serada, Bujang Gemalun baru pulang dari pertapaannya, jadi ilmu yang dimilikinya masih hangat.
Terjadilah suatu kerusuhan dan awal dari permusuhan tersebut menurut sahibul hikayat dimulai dalam suatu permainan yakni permainan sepak raga. Bola yang dipakai terbuat dari besi 100 Kg beratnya. Permainan sepak raga dimulai, sepakan pertama dilakukan oleh rakyat Malaka sepanjang 5 hasta, kemudian disambut oleh Panglima sejauh 20 hasta. Disepak oleh Bujang Gemalun dan kini tidak kembali lagi. Melihat keadaan yang demikian. Panglima ketakutan dan sekaligus rencana untuk mengambil Putri Dayang Serada gagal. Kemudian mereka pulang kembali ke Kerajaan Malaka dengan tangan hampa.
Mendengar tidak berhasilnya Panglima mengambil Putri Dayang Serada, Raja Malaka marah dan memerintahkan kepada seluruh angkatan perangnya untuk datang ke Kerajaan Bengkulu dan membunuh Ratu Bujang Gemalun. Terjadilah perang besar antara pihak Raja Bengkulu dan pihak Raja Malaka. Kekuatan pihak Raja Bengkulu yang dipimpin oleh Bujang Gemalun tidak dapat ditandingi oleh Kerajaan Malaka, maka akhirnya Raja Malaka dapat dipukul mundur.
Raja Malaka mohon bantuan kepada Raja Belik, agar dapat mengalahkan Bujang Gemalun, namun usahanya itu pun sia-sia, karena kekuatan Bujang Gemalun memang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun juga. Rakyat Raja Belik mundur dan beristtirahat di bawah pohon kayu.
Ketika sedang beristirahat Raja Belik didatangi oleh seorang tua bangka yang mengatakan, "Jika kalian ingin membunuh Bujang Gemalun, pakailah cincin ini." Raja Belik dan angkatan perangnya yang telah memiliki cincin bermata liam tadi, berangkat menuju ke Karajaan Bengkulu. Maka terjadilah peperangan yang lebih dahsyat lagi. namun usaha Raja Belik itu pun sia-sia juga, akhirnya gagallah dia mengambil dengan paksa Putri Dayang Serada.
Dalam keadaan damai, setelah mengalami kemenangan melawan Malaka, maka sebagai pertanda kebanggan hatinya, ayah Bujang Gemalun bermaksud untuk mengawinkan Bujang Gemalun dengan pilihannya yakni seorang Dewi dari Kayangan yang bernama Putri si Rambut Panjang. Calon istrinya kini ditemui pada waktu ia bertapa selama 3 (tiga) tahun yang lalu. Putri si Rambut Panjang wajahnya cantik jelita tidak ada bandingannya, sehingga Rakyat Bengkulu berduyun-duyun ingin menyaksikan kecantikan putri dan rambutnya yang panjang sekali. Sebab tidak pernah ada rambut sepanjang itu di daerah Bengkulu waktu itu.
Bermacam-macam kegiatan rakyat Bengkulu menjelang perkawainan Bujang Gemalun, Panglima perang anak tertua raja Bengkulu itu. Berlangsunglah pesta perkawinan tersebut selama tujuh hari tujuh malam, dengan memotong kerbau sebanyak 49 ekor, karena seluruh rakyat Bengkulu ikut hadir.
Akhir cerita setelah perkawinan selesai, maka keluarga Raja Bengkulu dan rakyatnya merasa aman dan tenteram, dan yang memegang tampuk pemerintahan adalah Bujang Gemalun yang diangkat menjadi raja oleh ayahnya yakni Kiyai Ratu Agung.
Sumber : Cerita Rakyat (Mite dan Legende) Daerah Lampung. Depdikbud
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...