Pada zaman dahulu, tersebutlah seorang pertapa yang bergelar Pangeran Wironegoro. Salah satu kekuatan yang dimiliki hasil dari pertapaannya itu ialah kekebalan.
Pada suatu ketika, Pangeran Wironegoro berunding dengan bajak laut diatas sesaat (rumah adat). Karena kekebalannya, Pangeran Wironegoro mengamuk, menyerang orang-orang Bugis yang ada disaat itu, sehingga orang-orang yang ada saat itu menjadi bingung dan kucar-kacir. Salah seorang temannya yang bernama Pangeran Becahyo telah terbunuh. Salah seorang dari bajau orang Bugis bersembunyi diatas sesaat. Ia tidak mengikuti teman-temannya yang lain.
Kemudian bajau Bugis yang bersembunyi tadi, melihat sebilah tombak dan tanpa pikir panjang diambilnya tombak itu dan dilemparkannya ke arah Pangeran Wironegoro. Pangeran Wironegoro tidak menyangka akan mendapat serangan yang tiba-tiba, hingga ia terluka oleh tombak itu. Sambil memegangi lukanya Pangeran Wironegoro bersumpah, bahwa seluruh keturunannya yang mempunyai ilmu kebal, selama hidupnya tidak akan mendapat berkah.
Karena merasa badannya telah terluka. Pangeran Wironegoro berbalik mencari dari mana datangnya arah tombak yang telah melukainya itu. Ternyata si pelempar tombak telah tidak ada lagi disekitar tempat itu. Ia telah melarikan diri degan membawa seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri Pangeran Wironegoro. Mengetahui hal itu, Pangeran Wironegoro mengejar para bajau tetapi tidak berhasil.
Setiba di pinggir laut, Pangeran Wironegoro melihat sebuah kapal. Setelah diteliti dengan seksama, ternyata kapal bajau yang ada ditengah laut itu hanya mempunyai layar lebarnya setapak tangan. Sebelum bertemu dengan para bajau laut, Pangeran Wironegoro bertemu dengan orang-orang Bugis lainnya diatas sebuah perahu. Pangeran Wironegoro minta tolong untuk diantarkan ke tempat bajak laut. Tetapi permintaan ini ditolak. Maka terjadilah peperangan. Setelah dapat mengalahkan orang-orang Bugis itu, Pangeran Wironegoro diantar ke perkampungan bajak laut oleh orang-orang Bugis yang kalah tadi.
Setiba di perkampungan bajak laut, Pangeran Wironegoro melihat para bajak laut sedang ramai dan sibuk membuat sesuatu persiapan untuk menyambut upacara perkawinan, yaitu antara pimpinan bajak laut dengan perempuan yang dilarikan tadi. Pangeran Wironegoro bukan main terkejutnya dan dengan tenang ia berpikir kalau sampai upacara perkawinan ini dibiarkan berlangsung berarti ini akan merusak namanya, keluarganya, sukunya dan juga keturunannya. Karena itu dia harus mencari jalan untuk mendapatkan perempuan itu kembali.
Dalam perkampungan bajak laut itu terdapat suatu perguruan yang sangat terkenal dengan nama Syarikat Abang. Perguruan Syarikat Abang adalah perguruannya orang-orang bajak laut. Kedatangan Pangeran Wironegoro, kebetulan diketahui oleh beberapa orang bajak laut. Kemudian mereka memberitahukan kedatangan ini kepada pemimpin mereka yang bernama Pengeran Jakkep.
Kiranya perempuan yang dilarikan tadi adalah kekasih Pangeran Jakkep yang menjadi pimpinan bajak laut yang telah dilarikan oleh Pengeran Wironegroro untuk dijadikan istrinya. Kemudian Pangeran Wironegoro dipanggil oleh Pangeran Jakkep untuk menghadap. Dalam pertemuan itu, Pangeran Jakkep menasehati agar dalam menghadapi segala macam urusan, Pangeran Wironegoro harus dapat bersabar.
Setelah tiga hari lamanya Pangeran Wironeggoro menunggu, maka tibalah saatnya perkawinan itu. Di alun-alaun terdapat sebuah kurungan dari besi. Tak berapa jauh dari kurungan itu terdapat beberapa batang pohon ambon yang besar. Semua orang-orang hadir dan ingin menyaksikan upacara itu, banyak yang memanjat pohon ambon yang besar itu.
Mereka ingin menyaksikan tontonan yang akan dipertunjukkan. Sementara para petugas sibuk mempersiapkan kandang itu. Pangeran Wironegoro dipersilakan oleh Pangeran Jakkep untuk memilih salah satu senjata dari delapan senjata yang telah dipsersiapkan. Pengeran Wironegoro memilih dua di antara senjata-senjata yang lain, yang menurutnya paling baik. Senjata itu yang satu bernama Bebalung Tunggal dan yang satunya Badik Lebai. Setelah semuanya siap, maka Pangeran Wironegoro dipersilakan untuk memasuki kandang besi tersebut untuk mengadu kekuatan dengan salah seorang algojo bajak laut.
Pada saat-saat awal pertarungan Pangeran Wironegoro mempergunakan senjata yang bernama Badik Lebai. Senjata itu dipergunakan untuk menikam algojo bajak laut tetapi ternyata senjata yang bernama Badik Lebai itu, walaupun mengenai sasarannya, tetapi tidak mampu melukai tubuh algojo bajak laut itu. Dengan cepat senjata Badik Lebai dilemparkan oleh Pangeran Wironegoro keluar kandang besi tadi dan pada saat yang bersamaan sang algojo bajak laut melompat ke atas, menyerang Pangeran Wironegoro. Tetapi dengan tangkas dan siapnya Pangeran Wironegoro mencabut senjata yang sebuah lagi yaitu senjata yang bernama Bebalung Tunggal. Kemudian senjata itu ditikamkannya ke tubuh algojo bajak laut itu. Algojo mereka ini kalah, maka para bajak laut lari kucar-kacir meninggalkan arena pertandingan itu.
Diantara para penonton yang menyaksikan pertandingan itu, banyak terdapat orang-orang Cina. Mereka banyak yang menyaksikan dari atas pohon ambon bersama dengan anak-anak mereka, teman-teman dan keluarganya baik laki-laki maupun perempuan. Menyaksikan hal yang demikian, maka para penonton dari keluarga bajak laut maupun penonton lainnya bubar seketika karena takut kalau-kalau Pangeran Wironegoro akan ngamuk habis-habisan dan mereka akan menjadi sasaran.
Untuk menyelamatkan diri mereka, orang-orang Cina yang menyaksikan dari atas pohon ambon terlambat turun. Mereka berebut ingin mendahului yang lainnya. Tetapi karena rambut mereka yang dikucir atau diikat, maka cara mereka ini hanya menambah susah saja, Rambut mereka tersangkut diranting pohon.
Pangeran Wironegoro yang telah tiba di bawah pohon ambon itu melihat tingkah orang-orang Cina tadi, maka timbullah perasaan jengkel dan kesalnya yang hukan alang kepalang. Orang-orang Cina yang melihat Pangeran Wironegoro telah berada d bawah pohon tempat mereka menonton pertunjukan tadi, tambah tidak karuan. Mereka banyak berusaha mati-matian untuk melepaskan rambutnya yang tersangkut itu.
Tetapi apa daya usaha mereka tidak berhasil. Dengan menahan geram dan hati kesal Pangeran Wironegoro menendang mereka dengan mata terbuka lebar. Ini menandakan Pangeran Wironegoro sangat murka sekali. Dengan senjata di tangan Pangeran Wironegoro naik keatas pohon ambon itu dan dengan cepat dan tangkas, ditebasnyalah rambut-rambut orang-orang Cina yang tersangkut di ranting kayu itu. Menerima perlakuan yang demikian ini, orang-orang Cina tambah takutnya saja. Dengan memegangi rambut mereka yang telah terpotong, orang-orang Cina tersebut dengan sangat hati-hati sekali turun secara bergantian dari atas pohon ambon itu.
Pengeran Wironegoro menyuruh orang-orang Cina untuk segera meninggalkan tempat semula. Mereka berlarian dahulu mendahului. Ada yang tidak ingat anak, istrinya lagi karena mereka ingin menyelamatkan dirinya masing-masing dan kalau-kalau kena amukan dan amarah Pangeran Wironegoro. Pulanglah orang-orang Cina tersebut dengan rambut yang telah terpotong dan ada yang tertinggal di ranting pohon ambon tempat mereka menonton upacara pertandingan tadi. Karena peristiwa inilah akhirnya terkenal adanya Cina-Cina gundul. Ini semua kerena perlakuan Pangeran Wironegoro.
Karena kekalahan si algojo bajak laut tadi, maka diantara kedua belah pihak Pangeran Wironegroro dan pihak Pangeran Jakkep terjadilah suatu sumpah dan perjanjian. Perjanjian ini ialah jika keturunan Pangeran Jakkep ada yang merompak keturunan Pangeran Wironegoro, maka bagi keturunan Pangeran Jakkep akan mendapat bahaya besar.
Dengan adanya peristiwa ini, maka timbullah suatu pikiran baru bagi Pangeran Jakkep bahwa ia tidak akan beristri lagi. Tetapi untuk megatasi masalah ini, orang-orang Pangeran Jakkep berpendapat lain, bahwa siapa saja perempuan yang memanggil, menegur untuk pertama kalinya pada Pangeran Jakkep atau menoleh dan membalas teguran itu, maka berarti perempuan itulah yang menjadi jodohnya.
Pada suatu sore, Pangeran Jakkep diajak berjalan-jalan mengitari satu perkampungan. Dengan gagahnya Pangeran Jakkep jalan diantara para pengantarnya. Rupanya tujuan ini bukan hanya sekedar untuk mengajak Pangeran Jakkep jalan-jalan saja tetapi ini adalah suatu perangkap. Pangeran Jakkep sama sekali tidak mengetahui hal ini, dengan tenang-tenang saja ia berjalan tanpa ada perasaan curiga.
Ternyata perangkap ini berhasil. Pangeran Jakkep menoleh pada seorang gadis yang sedang bertanya banyak tentang dirinya. Oleh banyaknya pertanyaan-pertanyaan inilah maka tanpa disadari Pangeran Jakkep menoleh. Pangeran Jakkep telah menemukan jodohnya sesuai dengan pendapat orang-orang dari pihaknya. Gadis yang telah banyak bertanya tentang diri Pangeran Jakkep, langsung di panggil dan langsung dikawinkan dengan pangeran jakkep.
Karena telah berjanji dan bersumpah bersaudara dengan Pengeran Wironegoro, maka Pangeran Wironegoro mengajak Pangeran Jakkep untuk ikut serta ke Lampung yaitu kampung halamannya sendiri. Maka Pengeran Jakkep berunding dengan istrinya untuk pulang ke kampung halamannya di Lampung. Istrinya menyetujui hal ini, maka berangkatlah mereka bersama dengan Pangeran Wironegro yang telah menjadi saudara angkatnya itu. Sang gadis yang telah menjadi istri Pangeran Jakkep, kiranya seorang gadis yang sangat pandai sekali menenun kain. Tenunannya sangat indah dan rapi serta halus sekali.
Setelah mereka sampai di kampung halamannya yaitu Lampung maka mulailah istri Pangeran Jakkep menenun kain. Kebanyakan gadis-gadis dan perempuan-perempuan di Lampung, belajar menenun kain pada istri Pangeran Jakkep. Mereka benar-benar mengagumi hasil tenunan istri Pangeran Jakkep. Hal ini berjalan sampai sekarang, seolah-olah telah menjadi milik kebudayaan di daerah Lampung. Sepanjang cerita, di Bugis pun sampai sekarang, masih terdapat keturunan dari Pangeran Jakkep.
Sumber : Cerita Rakyat (Mite dan Legende) Daerah Lampung, Depdikbud
Aunu Senebre: Kelezatan Tersembunyi dari Tanah Papua Identitas Kuliner Aunu Senebre merupakan makanan pendamping tradisional yang berasal dari Papua [S1]. Hidangan ini dikategorikan sebagai kuliner khas Papua yang mulai dikenal dalam percakapan kuliner nasional, meskipun popularitasnya belum menyamai papeda atau ikan bakar Manokwari [S1][S3]. Secara definisi, Aunu Senebre adalah masakan tradisional berbahan dasar nasi atau singkong parut yang dicampur dengan ikan teri goreng, dan terkadang menggunakan ubi jalar sebagai variasi [S2]. Penyebutan "Aunu Senebre" sendiri merupakan istilah lokal yang melekat pada hidangan ini di tanah Papua [S1]. Sayangnya, belum ada sumber yang mengungkap secara spesifik asal-usul etimologis nama tersebut maupun daerah sentra produksi yang lebih terperinci di wilayah Papua. Keberadaan Aunu Senebre sebagai makanan tradisional Papua juga tercatat dalam daftar kuliner khas Indonesia dari 38 provinsi, yang menegaskan statusnya sebagai warisan k...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Budaya Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak merupakan permainan tradisional yang dikategorikan sebagai permainan papan dan biji, dikenal dengan beragam nama di berbagai wilayah Nusantara. Di Jawa, permainan ini lazim disebut congklak, dakon, dhakon, atau dhakonan [S1]. Sementara itu, di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang berkebudayaan Melayu, nama yang digunakan adalah congkak [S1]. Variasi penamaan juga ditemukan di Lampung sebagai dentuman lamban, serta di Sulawesi dengan sebutan Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, dan Nogarata [S1]. Keberagaman nama ini menunjukkan luasnya persebaran dan kuatnya akar permainan ini dalam tradisi lisan masyarakat Indonesia. Sejarah permainan congklak memiliki lintasan yang panjang dan tidak sepenuhnya terpusat di satu titik asal. Bukti menunjukkan bahwa permainan ini diduga mulai tersebar dari Afrika sebelum akhirnya masuk dan membudaya di Indonesia [S2]. Pendapat ini diperkuat oleh fakta ba...
Congklak: Lebih dari Sekadar Permainan, Warisan Nusantara Identitas dan Asal-Usul Congklak, juga dikenal sebagai Dakon, adalah permainan tradisional yang memiliki berbagai sebutan di seluruh Indonesia. Permainan ini termasuk dalam kategori permainan papan dan telah ada sejak zaman kuno, menjadikannya salah satu permainan tertua di dunia. Congklak dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai daerah, seperti dhakon di Jawa, dentuman lamban di Lampung, dan makaotan di Sulawesi, menunjukkan keberagaman budaya yang ada di Nusantara [S2][S3][S4]. Sejarah Congklak menunjukkan bahwa permainan ini telah dimainkan oleh nenek moyang di Indonesia sejak lama, dengan bukti bahwa istilah dan variasi permainan ini muncul di berbagai daerah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan yang memiliki kebudayaan Melayu [S3][S4]. Dalam konteks ini, Congklak tidak hanya menjadi sekadar permainan, tetapi juga mencerminkan warisan budaya yang kaya dan beragam di Indonesia. Bahan yang digunakan dalam permaina...
Jamu: Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan Kebanggaan Indonesia Identitas dan Asal-Usul Jamu tradisional merupakan warisan kesehatan asli Indonesia berupa ramuan herbal yang diracik dari bahan-bahan alami [S1][S3]. Sebagai sistem pengobatan tradisional, jamu telah dipraktikkan secara turun-temurun selama berabad-abad oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya nasional [S1][S2]. Praktik ini mencakup pengetahuan meracik, filosofi kesehatan, hingga aspek sosial-budaya yang menyertainya. Sejarah jamu berpusat di Jawa, dengan Kota Surakarta (Solo) sebagai salah satu episentrum utama yang masih aktif memproduksi dan melestarikan tradisi ini [S4]. Akar tradisi jamu dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Mataram, di mana pengetahuan pengobatan herbal telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi [S6]. Hingga kini, Jawa tetap menjadi daerah asal dan pusat budaya jamu yang paling kuat [S2][S6]. Bukt...
Tenun Sumba: Simbol Kehidupan dalam Setiap Helai Benang Identitas dan Asal-Usul Tenun Sumba merupakan kain tradisional yang berasal dari Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur [S1][S2]. Kain ini dikenal sebagai wastra yang diolah menggunakan pewarna alami dengan proses pengerjaan yang cukup panjang, berkisar antara enam bulan hingga tiga tahun [S3]. Keberadaan tenun Sumba tidak hanya sebagai karya seni tekstil, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakatnya yang mencerminkan kearifan lokal setempat [S2]. Sejarah tenun Sumba berkaitan erat dengan tradisi lisan masyarakatnya yang tidak mengenal tradisi tulis di masa lalu [S5]. Berdasarkan sastra lisan yang diwariskan turun-temurun dalam kepercayaan Marapu, nenek moyang masyarakat Sumba diyakini sebagai pendatang yang memasuki pulau ini secara bergelombang melalui beberapa titik, seperti Tanjung Sasar, Muara Sungai Pandawai, Muara Sungai Wulla, dan pantai selatan Pulau Sumba [S5]. Dalam Lii Marapu (sabda leluhur), diungkapka...