Zaman dulu ada seorang saudagar yang kaya raya, dia mempunyai tiga orang anak laki-laki. Ketiga anak tersebut sejak kecil sudah biasa dimanjakan, semua kemauannya dituruti karena uangnya banyak.
Sampai mereka besar kelakuannya tidak berubah menjadi anak manja yang hanya tahu senangnya saja. Mereka tidak pernah mau bekerja apalagi mau belajar bersaha seperti ayahnya.
Ketika mereka masih pemuda tanggung, dengan takdir Yang Kuasa, ayah mereka meninggal dunia. Mereka sangat sedih karena tidak mempunyai ayah lagi, dan kebingungan bagaimana caranya menyelamatkan harta mereka. Mereka tidak mempunyai ilmu pengetahuan dan tidak pernah diberi bimbingan semasa ayahnya masih hidup, maka mereka tetap tidak bisa melanjutkan usaha ayah mereka. Kerja mereka hanya makan, tidur berpoya-poya menghabiskan harta benda yang ada.
Lama kelamaan harta yang ada habis semua, mereka jatuh melarat tidak ada lagi yang hendak dimakan dan dipakai. Uang dan harta benda yang banyak dulu habis tidak berbekas. Terpaksa karena perut mereka lapar, mereka bertiga membuat lesung dan alu dari kayu yang diambil dari dalam hutan.
Pada suatu hari selagi mereka berisirahat, mereka bertiga mengkhayal. Kakaknya yang tertua berkata, "Kapankah kita ini akan merasa senang seperti dulu?" Jawab adiknya yang bungsu, "Kalau aku sudah besar, cita-citaku, ku akan duduk di kursi emas, mahkota intan dan menghadap hamparan permadani yang indah." Mendengar khayalan adiknya itu, kakaknya yang tertua marah, sebab cita-cita adiknya terlalu tinggi. Rasanya hal itu tidak mungkin dapat tercapai. Begitu bencinya kakak-kakaknya itu kepada adiknya, maka adiknya itu mereka buang ke hutan.
Tinggallah si bungsu itu di dalam hutan, tidak ada yang dimakannya, kecuali daun-daunan. Dia tidur di pohon kayu, sedangkan dibawah pohon itu biasa tempat babi berkubang. Ketika kawanan babi hutan itu akan berkubang, si anak tadi cepat-cepat memanjat pohon dan bersembunyi di balik daun-daun agar tidak dilihat babi-babi tersebut.
Suatu hari seperti biasa, kalau babi-babi itu datang dari jauh sesudah kedengaran suaranya ribut, si anak segera bersembunyi di tempat biasa. Hari itu dilihatnya salah seekor di antara babi itu rupanya yang menjadi rajanya menanggalkan kalung yang ada dilehernya, dan dikaitkan di ranting kayu tempat anak itu tadi bersembunyi. Anak itu sangat tertarik melihat kalung yang terkait diranting kayu tempatnya bersembunyi, dan dapatlah kalung itu diraihnya, segera disembunyikannya ke dalam saku bajunya. Setelah puas berkubang, babi-babi itu segera meninggalkan tempat itu dan raja babi lupa akan kalung yang dilepaskannya tadi.
Senanglah hati anak itu karena dia sudah mempunyai kalung yang amat bagus menurut penilaiannya. Rupanya kalung itu kalung ajaib, sebab barang siapa yang memakainya dia dapat terapung di atas air. Hal ini diketahui anak itu, ketika pada suatu hari ia pergi mandi-mandi ke pinggir laut, mula-mula ia hanya berani di pinggir tetapi lama-lama dia berani ke tengah, karena dirasanya badannya ringan, bahkan seolah-olah ia dapat berjalan diatas permukaan air laut itu.
Keesokan harinya dia bertekad akan menyeberangi lautan itu, pergi ke negeri seberang. Pergilah dia pagi-pagi meninggalkan tempat persembunyiannya menyeberangi lautan. Sampai di seberang, ia berjalan-jalan dipinggir kota, melihat-lihat keindahan kota itu. Sampai sore hari ia berjalan tidak tentu tujuan, akhirnya ia singgah di rumah salah seorang penduduk, minta izin untuk melepaskan lelahnya.
Orang kampung itu merasa tertarik kepada anak yang datang itu dan menanyakan hal ikhwalnya keadaannya, dari mula sampai ia terlunta-lunta demikian. Dengan sedih diceritakannyalah keadaannya, dari mula sampai ia datang kesitu. Orang kampung itu merasa kasihan kepadanya dan menerimanya tinggal bersama-sama dengan dia. Anak itu tinggal di rumah orang kampung yang menanggung makan dan minumnya, dia bekerja dengan rajin. Pagi-pagi dia sudah bangun masak air, menanak nasi dan menyapu rumah serta halaman. Melihat kelakukannya yang baik, orang kampung itu melaporkan kepada raja negerinya bahwa ada seorang pemuda yang menumpang di rumahnya.
Kelakuannya sangat baik, rajin dan dapat dipercaya. Mendengar laporan itu raja memerintahkan membawa anak itu menghadap. Begitu raja melihatnya, raja yakin bahwa memang benar anak ini baik dan rajin serta dapat dipercaya. Maka dia disuruh raja tinggal di istana untuk menolong pekerjan-pekerja di istana. Pemuda itu sangat gembira dan sejak hari itu tinggallah dia di istana. Dari hari ke hari, raja makin senang kepada pemuda itu dan makin lama dia pun menjadi makin dewasa, menjadi pemuda yang tampan dan cakap melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Raja mempunyai seorang anak putri yang sudah besar pula dan raja ingin segera melihat anaknya punya suami. Raja berkenan menjodohkan anaknya dengan pemuda itu, putri raja dan pemuda rupanya saling setuju pula.
Maka dilangsungkanlah perkawinan putri raja dengan pemuda pendatang itu, dengan memotong kerbau tujuh ekor dan dirayakan dalam waktu tujuh hari tujuh malam. Setelah tua, raja menyerahkan kerajaannya kepada menantunya ini. Rupanya tercapai juga cita-cita pemuda itu dulu, yaitu duduk dikursi emas, bertatahkan intan yang dialasi dengan permadani yang tebal dan indah. Jadilah dia raja yang kaya raya dan disegani rakyatnya, karena dia memerintah dengan adil dan bijkasana.
Beberapa tahun kemudian, didengarnya berita ada dua orang laki-laki masuk ke negerinya menjual lesung dengan alunya. Raja lalu teringat kepada kedua orang kakaknya yang telah lama berpisah, walaupun perpisahan itu dengan sengaja karena maksud jahat kedua orang kakaknya itu. Maka raja lalu menyuruh hamba istana memanggil kedua pedagang itu, dalam hatinya, mudah-mudahan benarlah kedua orang kakaknya yang datang itu.
Kedua orang yang dipanggil raja itu terkejut dan takut, kalau-kalau raja akan memberi hukuman kepada mereka karena sudah berani masuk ke negeri raja. Terpaksa mereka menghadap juga, walaupun hati mereka masih bertanya-tanya apa gerangan yang akan terjadi.
Sesampainya mereka di hadapan raja, raja langsung dapat mengenali kembali kedua kakaknya itu, sedangkan kakaknya tidak mengenali adiknya karena mereka tidak berani menentang mata raja. Raja lalu bertanya, "Hai bapak, dapatkah bapak mengenali saya?" Barulah kedua orang itu berani menatap mata raja, tetapi karena raja semakin tampan, ditambah pakaian kebesarannya, maka kedua orang itu tidak dapat mengenali adiknya. Jawab mereka," Ampun raja, kami tidak dapat mengenali siapa raja sebenarnya.
Maafkan kami raja." Ingatkah kakak kepada seorang anak yang bercita-cita duduk dikursi emas bertatahkan intan dengan alas permadani yang tebal dan indah."
Jawab raja kembali. Terkejutlah kedua kakaknya, karena teringat peristiwa bertahun-tahun yang lalu. Mereka membuang adiknya ke hutan dan menyangka adiknya telah meninggal di makan binatang buas. Mereka lalu menyembah, memohon ampun atas segala kesalahan mereka. Raja datang memeluk kedua kakaknya, maka berpelukanlah mereka dengan rasa terharu karena senang telah kumpul kembali.
Raja memaaafkan segala kesalahan kakaknya berdua, bahkan kakaknya disuruh tinggal di istana menjadi pembantu raja. Demikianlah ceritanya anak saudagar tiga bersaudara itu.
Sumber : Cerita Rakyat (Mite dan Legende) Daerah Lampung, Depdikbud
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...