Tersebutlah kisah, ada seorang raja mempunyai anak tunggal. Pada suatu ketika sang raja meninggal dunia, dan kini tinggallah ibunya bersama si anak tunggal itu. Sesudah orang tuanya meninggal maka si anak tunggal, dingkatlah menjadi raja di negeri itu, menggantikan kedudukan ayahnya. Raja yang baru diangkat ini, kemudian mempersuntingkan seorang puteri untuk dijadikan permaisurinya. Dari perkawinan ini mereka memperoleh anak sepuluh orang.
Tak berapa lama kemudian, raja ini beristri lagi, dan dari istrinya yang kedua ini mereka memperoleh anak tujuh orang. Selang berapa lama, ibunda sang raja meninggal dunia menyusul ayahandanya. Beberapa saat sebelum ibunya meninggal, semua cucu-cucunya, anak dan kedua menantunya dikumpulkan, kemudian beliau berpesan. "Kalau saya nanti meninggal, semua harta yang ada kalian bagi sama rata." Maka si ibu pun meninggal.
Beberapa waktu kemudian, istri kedua dari sang raja berpikir-pikir, "Kalau begini caranya, harta ini bisa habis dibagi oleh anak-anak dari istri pertama. Anak-anakku sedikit, sedangkan anak-anaknya ada sepuluh orang. Kalau begitu, sangat sedikit bagian anakku nanti. Karena itu semua mereka itu harus dibunuh, kalau tidak anak-anakku nanti akan mendapat harta sedikit."
Si istri kedua ini memanggil anak kandungnya yang tua, diperintahkannya pergi ke seberang lautan ke negeri Cina mencari racun untuk membunuh mereka. Kata orang, racun dari negeri Cina itu sangat hebat. Jika seseorang kena bayangan racun itu saja, sudah cukup untuk mematikan. Berangkatlah anaknya yang tua ini ke negeri Cina. Kembali dari sana dia membawa oleh-oleh, kuwe-kuwe yang sangat bagus dan lezat, tetapi sesungguhnya telah berisi racun, Kuwe itu sangat mahal harganya.
Setelah tiba kembali di negerinya, kuweh itu langsung diberikan kepada bapaknya dan ibunya yang tua (permaisuri raja) oleh ibu kandungnya. Dikatakannya bahwa kuwe itu sangat lezat, oleh-oleh anaknya dari negeri Cina. Kuweh itu pun dimakan oleh Raja dan Istri tuanya. Raja dan istri tuanya tewas seketika. Sejak itu kesepuluh anak istri pertama raja menjadi yatim piatu.
Diantara kesepuluh anak-anak itu, ada seorang di antara mereka yang sangat alim, taat pada agama, sembahyang tidak pernah tertinggal setiap waktu. Semua larangan agama dijauhinya, dan perintah-perintah agama dikerjakannya dengan rajin dan ikhlas. Dia tak pernah melupakan Tuhannya sekejappun. Namanya Baruddin Daud.
Istri kedua raja, yaitu ibu tiri Baruddin Daud masih belum puas atas kematian raja dan madunya. Dia kembali berpikir, mencari-cari akal busuk apa yang akan dilakukannya untuk memuaskan nafsu syaetannya. Dia berpikir, jika kesepuluh anak tirinya tidak dimusnahkan semuanya, maka anak-anaknya yang tujuh saudara itu akan memperoleh bagian yang sedikit dari harta peninggalan sang Raja.
Kemudian ia menanyakan kepada anaknya. "Bagaimana cara agar kita dapat membunuh mereka sepuluh bersaudara itu?" Jawab anaknya, "Kita sembelih saja semua mereka." "Jangan!", kata sang ibu. "Kita beri mereka racun seperti kita meracuni ayahmu dulu. Cari lagi racun seperti itu." Anak itupun berangkatah kembali ke negeri Cina mencari racun seperti dulu.
Karena Baruddin Daud sangat mendalami dan taat menjalankan ibadah, maka pada suatu malam ia bermimpi. Dia mendapat petunjuk, bahwa mereka sepuluh saudara akan menemui musibah yang sangat besar.
Sehari-hari, kesepuluh saudra ini biasanya bermain-main, berkejar-kejaran, main sumput-sumputan, dan kadang-kadang si Baruddin Daud, sekali- sekali menyuarakan azan, sekedar untuk melatih lafadz azan dan lagunya, sekaligus memberi petunjuk kepada saudara-saudaranya tentang azan.
Pada suatu ketika, kesepuluh saudara tersebut dipanggil oleh ibu ibu tirinya secara tiba-tiba. Mereka datang dengan patuh memenuhi panggilan ibu tiri. Dengan muka manis yang dibuat-buat, sang ibu tiri tadi menyuruh kesepuluh bersaudara ini makan kuweh. Diapun memberikan kuweh itu kepada mereka. Sebelumnya, tak pernah sang ibu tiri ini berbuat sebaik ini. Baruddin Daud hanya diam saja, tak sepatah kata pun diucapkannya.
Merekapun mengambil kuweh itu dan terus dimakan. Beberapa saat kemudian, mereka tewas. Tetapi sangat aneh, sangat ajaib tampak di mata, dengan kuasa dan kehendak Allah Ta'ala, berkat ketaatan dan keikhlasan Baruddin Daud menjalankan perintah Allah. Baruddin Daud terlepas dari malapetaka itu, dan ia tidak turut tewas bersama-sama sembilan saudara-saudaranya.
Melihat kenyataan ini, Baruddin Daud curiga. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Dia putar otak. Dia curiga atas kebaikan ibu itirinya ynag datang secara tiba-tiba. Dan ibu tirinya memberikan kuweh itu kepada mereka, setengah memaksa. Karena itu Baruddin Daud, mencari akal. Kesembilan saudara-saudaranya yang tewas dibawanya ke suatu ruangan tempat mereka biasa bermain-main. Ada yang ditidurkan di kursi malas sambil memegang buku, ada yang diikatkan dekat jendela, sehingga tampak seolah-olah masih hidup segar, ada yang didudukkan diatas kursi, ada yang dibawa ke dapur dan sebagainya. Sehingga suasananya tampak seperti biasa, seperti tidak ada yang mati. Seolah-oleh mereka sedang bermain-main.
Akan halnya dengan si Baruddin Daud. Dialah yang memegang peranan. Dia melompat-lompat sendiri, tertawa sendiri, membaca azan, dan macam tingkah lakunya, semata-mata ingin mengalabui mata orang lain agar mengira mereka sedang bermain-main dengan riangnya.
Lama-kelamaan ibu tirinya merasa curiga. Diperhatikannya kesepuluh anak-anak tirinya itu, "Tak ada yang mati," katanya dalam hati Sang ibu tiri memanggil anak-anak kandungnya. Disuruhnya satu persatu memperhatikan kesepuluh bersaudara yang baru saja diberi racun. "Benar mak", lapor mereka kepada sang ibu. "Tak seorangpun diantara mereka yang mati." Si ibu jahanam ini kurang yakin dengan laporan anak-anaknya. Dia sendiri berjalan memperhatikan keadaan ruangan tempat mereka bermain. Diperhatikannya dari jauh. "Benar ternyata mereka tak ada yang mati. Bahkan ada yang memanggil dia. Ada yang sedang membaca. Sangat riuh kedengarannya. Padahal semuanya itu hanya suara dan perbuatan Baruddin Daud.
Permpuan durhaka ini, berkata pada anak-anaknya, "Benar Nak mereka tak ada yang mati, bahkan ada yang memanggil saya. Rupanya kuweh itu tidak mengandung racun Lebih baik kita makan saja kuweh itu bersama-sama. Kita rugi sudah payah-payah memesan kuweh lezat ini, kita sendiri tidak memakannya. Semua kita kumpul nak. Mari kita sama-sama makan kuweh itu.
Baru saja dicicipi sedikit kuweh itu, mereka tewas seketika semuanya. Mereka tergeletak dilantai, tak seorangpun diantara delapan orang itu yang masih bernafas. Baruddinn Daud merasa heran, karena sudah agak lama ia tidak pernah melihat ibu tirinya. Dia pun mencoba melihat mereka. Baruddin Daud sangat terkejut melihat mereka telah terkapar dilantai. Semua mereka tewas. Tak seorangpun yang masih hidup. Kemudian Baruddin Daud memanggil Tuan Kadi di daerah itu untuk menyaksikan dan memeriksa mereka yang tewas.
Tuan Kadi datang bersama beberapa orang temannya. Mereka langsung memeriksa sekitar tempat kejadian. Tampak oleh mereka sisa kuweh tadi ada ditengah-tengah mereka yang mati. Tuan Kadi berkata dengan terkejut" Aaaaaaaaahhh...."itu ada kuweh yang mereka makan. Kuweh itu pasti mengandung racun" Merekapun memeriksa kuweh itu. Ternyata kuweh itu buatan negeri Cina.
Baruddin Daud berkata: Kalau begitu, mereka inilah dulu yang meracun ibu dan bapakku". Kemudian bapak dari si ibu tiri dipanggil oleh Tuan Kadi. Mayat-mayat kedelapan orang itu segera dikuburkan. Musyawarah segera diadakan. Dan keputusan yang diamabil adalah :
Semua harta peninggalan raja, jatuh pada Baruddin Daud.
Baruddin Daud diangkat menjadi raja, tetapi karena masih anak-anak selama dia belum dewasa, maka Kadi bertindak sebagai wali.
Selesai musyawarah, Baruddin Daud berdoa'a sembahyang dua raka'at memohon kepada Tuhan agar kesembilan saudara-saudaranya dapat hidup kembali. Baruddin Daud membawa tujuh batang lidi kelapa hijau. Lidi itu dipukulkan pada tubuh saudaranya yang sedang membaca buku, dan... ternyata si mayat bangkit kembali, hidup dan sehat kembali seperti semula.
Demikian juga terhadap saudara-saudaranya yang lain. Baruddin Daud memukulkan lidinya pada mereka, berkat kuasa Allah, atas do'a Baruddin Daud, semua saudara-saudaranya hidup kembali. Baruddin Daud berkata, "Sayang Bapak dan Ibuku sudah dalam tanah, sudah dikuburkan. Tidak bisa dihidupkan lagi."
Sumber : Cerita Rakyat (Mite dan Legende) Daerah Lampung, Depdikbud
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...