Ada sebuah cerita yaitu akar tungal garing. Jadi Sangumang berdua dengan ibunya tidak punya lauk. "Sudahlah", katanya kepada ibunya, "tangkaplah babi beserta kailku."
"Hau" kata ibunya, "untuk apa?"
"Tidak. Saya mau mengail ditepi laut sana."
Jadi menurut cerita tadi, ditangkapnyalah babi dari dalam kandangnya, dikaitkannya babi dengan kailnya, dibawanya ke tepi laut, dan mengail-ngail disana. "Mengapa", dilemparkannya ke tengah laut di dekat muara. Sesudah itu tidurlah dia. Mula-mula pondok dibuatnya. Tidak seberapa lamanya bergoyanglah pondok itu. Kailnya tadi dipatuk ikan dan tidak berapa lamanya ia mengendalikannya. Sedang ia mengendalikannya muncullah akar kayu. Aneh, kiranya hanya akar kayu. Huh, amboi kailku lalu dengan tiba-tiba dapat memperolah akar kayu."
Pulanglah dia.
"Apa?" kata ibunya, "Ada dapat ikan?"
"Tidak ada", jawabnya.
"Apa katanya" dipatuk oleh kayu batang garing."
Katanya, "Sudah ku simpan di tepi laut"
Jadi menurut cerita, Maharaja pergi meramu daun-daunan. Dia keluar dari muara sungai mencari tatapak suduk. Dilihatnyalah kayu batang garing itu.
"Hau, Alangkah indahnya!", kata Maharaja, Kayu ini" Lalu berhenti pikirannya yang hendak mengumpulkan daun-daunan.
"Sudahlah", aku hendak membuat patung", katanya. Kayu itupun dipotongnyalah membuat patung, kayu batang tadi. Patung orang perempuan itu bagus lalu ditancapkannya di muara di tepi laut. Pulang juga Maharaja. Tidaklah ia mengumpulkan daun-daunan.
Jadi kisahnya, seorang tamanang entah siapakah namanya, yang dari Kahayan yang balian minta anak. Dengan balian itu hendak mencari jata dapat mengaruniainya dengan memberikan anak, sampai ke luar Kahayan ia lalu masuk di Muara Sampit. Terlihat olehnya patung. "Hau! inia dia, cocok ini. Saya hendak menjadikan patung ini supaya menjadi manusia, katanya.
Patung itu perempuan, patung orang perempuan. Dilaksanakanlah oleh mereka menyelengarakan belian di situ dimuara. Sampit itu menjadikan Patung itu lalu menjelma menjadi wanita. Bukan main cantiknya orang perempuan tersebut.
"Jadi, Kata Tamarang, "Ku ambil jadi anakku saja sebab hajat mengambil anak."
Artinya orang perempuan ini kebetulan rupanya Tuhan memang memberi. Katanya memang memberi anak.
"Terdengarlah kisah itu oleh Maharaja. Didatanginyalah.
"Hau tidak biasa!" Kata Maharaja. "Aku membuat patung ini dulu". Jadi mereka itu berebut-rebutan Maharaja dengan Tamanang. Terdengar oleh Sangumang. "Hau", kata Sangumang. "Kepunyaanku dulu.
Begitulah kayuku dulu. Tiba-tiba paman Maharaja menjadikannya patung," katanya yang mendatangi.
Katanya, "Ku ambil saja orang perempuan ini sebab kepunyaankulah potongan kayu ini dulu."
"Tidak, " kata Maharaja. "Karena aku membuatnya." katanya.
"Tidak," kata Tamanang, "Yang itu saya yang membuatnya menjadi manusia, meminta kepada Tuhan."
Begitulah mereka berebut-rebutan.
Jadi mereka itu berdamailah
"Sudahlah." kata Maharaja, "Engkau ibunya," katanya kepada Tamanang itu.
"Aku bapaknya. Belikan kepada Sanguman untuk istrinya."
Demikianlah ceritanya.
sumber:
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...