Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Candi Bali Bali
Candi Narmada
- 13 Juli 2018

Keagungan Gunung Rinjani sebagai titik tertinggi di Lombok, Nusa Tenggara Barat menginspirasi Raja Lombok-Karangasem membuat replikanya. Bukan dalam bentuk patung atau artefak lain, tapi sebuah taman air yang memusatkan Gunung Rinjani sebagai sumber energi dan air bersih.

Lombok memang istimewa. Sejumlah unsur Bali bisa ditemukan di Lombok, seperti arsitektur, pura, dan makanan. Namun tidak sebaliknya. Lombok juga menunjukkan multikulturalnya tak hanya irisan dengan kebudayaan Bali, juga keyakinan dan etnis lain.

Salah satu jejak multikultural ini adalah Candi Narmada, cagar budaya warisan Kerajaan Karangasem (Bali) di Lombok Anak Agung Gede Ngurah yang dibuat pada 1727. Raja ini memusatkan tempat tinggal dan istananya di titik-titik sumber air. Termasuk di Bali, ada sejumlah cagar budaya yang serupa peninggalannya yakni Tirta Gangga dan Taman Ujung di Kabupaten Karangasem.

Dengan cara ini, di luar konteks penguasaan, juga mendorong perlindungan sumber-sumber air terbaik. Setidaknya sumber-sumber air ini sekarang bisa diakses publik sebagai obyek wisata. Mengingatkan warga yang berkunjung betapa pentingnya area hijau yang memberi keteduhan dan menjaga cadangan air bersih.

Perasaan teduh dan tenang ini langsung menyeruak saat memasuki Candi Bentar, gapura pintu gerbang kompleks Candi Narmada. Dua kolam, telaga kembar menyambut di halaman Jabelkap. Sebuah taman kecil yang nampak terawat. Bangunan pertama yang terlihat adalah Bale Loji di kiri yang difungsikan sebagai kamar.

Area berikutnya adalah Balai Terang, bale yang berukuran lebih besar seperti rumah panggung dari nyaris seluruhnya kayu. Di sini ada dua kamar di sisi kiri dan kanan berhadapan. Ukiran dan gambar yang terpahat di kayu saat naik ke bale ini, khas Bali seperti rangkaian bunga, daun, lalu di atasnya naga, monyet, dan wayang. Bagian bangunan kayu ini dicat cukup mencolok merah dan hijau yang diaplikasikan secukupnya di bagian depan kamar dan tiang-tiang penyangganya.

Di antara kamar adalah ruangan terbuka untuk bersantai melihat pemandangan. Bale ini diposisikan strategis di tengah-tengah area dan tinggi sehingga lapang melihat sebagian besar lansekap Candi Narmada. Dari sini terlihat dari bagian paling tinggi di utara, arah Gunung Rinjani. Rombongan anak muda terlihat gembira sambil memainkan ponselnya untuk pose dari berbagai sudut dari Bale Terang ini. Sesuai namanya, dari sini penglihatan terasa lebih terang sekaligus tenang.

Dari kejauhan, terlihat level tertinggi adalah halaman Pura Kelasa atau Pura Narmada, tempat persembahyangan dengan sebuah bangunan meru bertingkat di sebelah Timur. Seperti mendaki gunung untuk mencapai puncaknya, tapi di sini untuk mencapainya cukup menaiki tangga. Sekeliling hijau dengan rimbun pepohonan dan rerumputan. Gemericik air yang melalui pancuran dan dimuntahkan patung-patung membuat betah berlama-lama.

Kemudian di sisi barat dan timur adalah taman air, jumlah kolam atau telaga ada 3, simbol tiga danau Segara Anakan di Gunung Rinjani. Paling luas adalah Telaga Ageng, kolam besar di sisi timur. Kolam ini sering jadi lokasi mancing. Sejumlah warga terlihat menuangkan bibit ikan. Tak sulit menemukan ikan berenang di airnya yang cukup jernih tapi penuh lumut ini.

Kolam di sampingnya adalah pemandian umum dan kolam renang yang luasnya bisa digunakan untuk lomba. Area ini pusat keramaian yang terlihat paling profan dan tidak terintegrasi dengan arsitektur lainnya karena dibuat seperti kolam renang pada umumnya. Ada juga kolam kecil untuk anak-anak. Kebutuhan pengunjung untuk jalan-jalan, piknik, sampai berenang terpenuhi di Candi Narmada ini.

Karena dibangun 300 tahun lalu, sejumlah pemugaran dan penambahan terjadi dibanding aslinya. Setelah direkonstruksi oleh pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan, Direktorat Perlindungan dan pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Taman Narmada dijadikan sebagai kompleks bangunan cagar budaya dengan daftar induk inventarisasi peninggalan sejarah dan purbapakala pusat bernomor 1839.

Bangunan menarik lain adalah Gapura Gelang atau Paduraksa yang menghubungkan antara halaman Jabalkap dengan halaman Mukedes. Pada halaman Mukedes terdapat beberapa buah bangunan, antara lain Sanggah Pura dan Balai Pamerajan.

Kompleks ini terlihat sebagai tempat tinggal sekaligus peristirahatan karena tata ruangnya dibuat fungsional untuk kebutuhan raja dan keluarganya. Taman bermain, tidur, mandi, dan sembahyang. Area sakral dan profan.

Pemandu menyebut alkisah raja ingin dekat dengan Gunung Rinjani, terlebih saat masa tuanya, sudah tak bisa mendaki gunung lebih dari 3700 meter ini untuk melakukan ritual. Misalnya Mulang Pakelem, naik ke puncak gunung untuk berdoa dan menghaturkan sesajen ke kawah. Seperti upacara Kasada di Gunung Bromo.

Candi Narmada memperlihatkan upaya arsitek kerajaan saat itu untuk mengadopsi ruang dan filosofi Gunung Rinjani. Secara visual terlihat ada pembagian level dan fungsi. Misalnya puncak adalah tempat sembahyang sebagai ruang lebih dekat dengan Tuhan, kemudian di bahu gunung adalah lembah, hutan-hutan yang disimbolkan dengan taman, kemudian di kaki gunung adalah pemukiman di mana warga bisa menikmati air bersih dan tempat istirahat.

Bagian peristirahatan ini adalah di sisi selatan, halaman Pasarean dan Patandaan. Ada bangunan terbuka seperti wantilan yang jadi tempat kumpul atau pertunjukkan.

Salah satu bangunan yang menarik perhatian pengunjung adalah Balai Petirtaan yang diyakini sumber mata airnya berasal dari Gunung Rinjani. Juga pertemuan tiga sumber air, yakni Pura Suranadi, Lingsar, dan Narmada. Ketiga pura ini lokasinya berdekatan sekitar 5 kilometer dari Candi Narmada yang berada di tengah-tengahnya. Jika minum atau membersihkan wajah dengan air pancuran di bale Petirtan ini dipercaya bisa awet muda. Keyakinan sederhana dan masuk akal, karena jika kita selalu mengonsumsi air bersih tanpa imbuhan kimiawi tentu saja lebih sehat.

Sebuah papan memperlihatkan kawasan ini bagian dari Geopark Rinjani Lombok. Candi Narmada dikenal sebagai istana saat musim kemarau, ketika penghuni istana di Cakranegara, salah satu pusat kota Lombok saat ini pindah ke Narmada. Istilah Narmada diambil dari nama anak sungai Gangga di India yang berarti mata air atau sumber kehidupan.

Taman Narmada (dibaca Narmade dalam lidah Lombok dan Bali) berada di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Dari pusat kota sekitar 30 menit bisa diakses dengan mudah karena dekat jalan raya. Tantangannya untuk pewarisnya adalah memastikan kawasan hulu Gunung Rinjani tetap hijau, jika sumber airnya masih bisa dinikmati sampai generasi kini dan nanti.

 
 

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu