Pakaian Tradisional
Pakaian Tradisional
Busana Adat Nusa Tenggara Timur Sumba Barat
Busana Tradisional Sumba Barat dan Kelengkapannya
- 4 Oktober 2014

BUSANA TRADISIONAL DAN KELENGKAPANNYA

DI Sumba Barat, busana tradisional antara wilayah satu dan lainnya hampir sama, dengan sedikit perbedaan pada corak kain dan cara mengikat kapauta (ikat kepala). Busana tradisional dengan atribut lengkap biasanya dikenakan para rato dan kaum bangsawan saat berlangsung upacara adat besar, sedangkan pada upacara-upacara yang lebih kecil busana dikenakan dengan atribut minimal. Berikut ini adalah bagian-bagian busana tradisional Sumba Barat:

Busana Adat Pria

PERLENGKAPAN dasar busana adat pria adalah sebagai berikut:

1. Ingi Dete dan Ingi Bawa: yang dimaksudkan dengan ingi adalah kain berbentuk lembaran yang merupakan item paling pokok dari busana tradisional lelaki Sumba. Ingi terdiri dari dua bagian, Ingi Bawa (kain bawah) dan ingi deta (kain atas). Ingi bawa dikenakan pada bagian bawah tubuh dengan cara dililitkan di pinggang dimana sebagian ujung kain dibiarkan menjulur diantara lutut. Ingi Dete digunakan seperti selendang yang disampirkan menyimpang dari bahu kiri ke bahu kanan.
2. Kapouta: ikat kepala yang dililit sedemikian rupa membentuk kerucut (kabora) dengan ujung mencuat ke atas atau berbagai variasi lain. Beda wilayah beda pula cara mengikat kaupata, sehingga dalam batas-batas tertentu bisa dijadikan identitas kelompok sub-etnis. Kapouta dulunya terbuat dari kulit kayu, namun kini tergantikan oleh kain tenun dan kain-kain buatan pabrik.
3. Kalere begge: ikat pinggang terbuat dari kulit kayu yang digunakan untuk mengikat ingi bawa agar kuat melekat di pinggang. Dewasa ini kalere begge yang asli sudah jarang ditemukan, orang lebih suka menggunakan ikat pinggang lebar buatan pabrik yang disebut salopo atau halopa.
4CD_p.jpg4. Katopo begge: parang yang diselipkan pada ingi bawa, di pinggang bagian kiri.
5. Kaleku pamama: tas dari anyaman pandan atau kulit kayu yang disampirkan di bahu sebelah kiri. Kaleku pamama digunakan untuk menyimpan sirih pinang yang disuguhkan kepada tamu sebagai tanda selamat datang dan untuk keperluan pemujaan.

 

 

Sementara untuk kalangan rato dan penari, selain perlengkapan standar seperti disebutkan di atas, ada tambahan asesoris sebagai berikut:

1. Lado: hiasan kepala terbuat dari bulu kuda putih dengan rotan kecil sebagai bingkai dan bilah rotan sebagai pengikat. Lado biasanya ditancapkan pada kapauta, ujung bawah sejajar dengan dahi dan ujung satunya sejajar dengan kabora. Lado seperti itu hanya digunakan oleh Rato Rumata. Rato-rato lain menggunakan lado yang lebih sederhana, berupa seutas rotan yang ujungnya dihiasi bulu ayam hitam (lado wullu manu mette).
491_q.jpg2. Nobu: tombak yang umumnya terbuat dari besi atau kayu pilihan. Tombak yang dikenakan oleh rato biasanya merupakan tongkat-tongkat keramat yang hanya boleh digunakan pada saat tertentu.
3. Toda: tameng atau perisai terbuat dari kulit kerbau.
4. Lagoro: giring-giring yang dikenakan pada betis, ada yang berhiaskan bulu ekor kuda (logoro ullu wa'i) dan juga yang disematkan pada kulit kambing.
5. Pali piding: tali rotan berhiaskan bulu ekor kuda. Dikenakan di pinggang dengan ujung berada dibelakang tubuh.
6. Dolu: gelang terbuat dari gading, emas, kuningan atau perak, yang dikenakan pada lengan bagian atas.
7. Teko: sejenis parang kuno yang sarungnya memiliki tali, biasa dikenakan dengan cara dicangklongkan di bahu sebelah kiri.?

Busana Adat Wanita

BUSANA adat wanita Sumba Barat pada dasarnya terdiri dari komponen-komponen berikut ini:

1. Ye'e: kain berbentuk sarung yang dipakai menutup tubuh dengan cara dilingkarkan di sekeliling dada.
2. Kaleku pamama: tas tradisional dari anyaman pandan atau kulit kayu yang disampirkan di bahu sebelah kiri. Kegunaannya sama dengan yang digunakan oleh kaum pria.
3.  Mamoli: perhiasan telinga berbentuk belah ketupat dengan lubang ditengah. Mamoli terbuat dari emas, kuningan atau perak, ada yang polos, ada juga yang dilengkapi beragam ukiran. Karena ukuran mamoli cukup besar dan berat, sekarang ini jarang yang mengenakannya sebagai anting-anting, lebih sering dijadikan bandul kalung.
4. Puli: giwang terbuat dari emas, atau perak dengan model yang khas.
5. Maraga: perhiasan dada serupa pita besar terbuat dari emas, kuningan atau perak.
6. Tabelo: perhiasan kepala berbentuk bulat sabit atau tanduk kerbau, terbuat dari emas atau perak.
7.  Lele: gelang. ada yang dikenakan di tangan, umumnya terbuat dari gading (lele gadi), ada pula yang dikenakan di kaki, umumnya terbuat dari anyaman tali yang dihiasi giring-giring (lele wai).
8. Lado mawinne: hiasan kepala dari bilah rotan bercabang tiga yang dihiasi bulu ekor kuda. Dikenakan dengan cara disematkan pada kapouta. Kapoutanya sendiri terbuat dari pelepah pinang namun kini lebih banyak yang menggunakan kain buatan pabrik dengan warna-warna mencolok yang dibiarkan menjuntai melewati pinggang. Lado Mawinne hanya digunakan oleh para penari.  (westsumba.sc)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Ingin Membatalkan Pinjaman Adakami? Begini Cara Membatalkan Pinjaman Adakami
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Barat

Cara Membatalkan Transaksi Pinjaman (AdaKami) Kamu bisa menghubungi layanan Live Chat via WA((+62821=6213=907)). jelaskan dengan baik alasan ingin melakukan Pembatalan, lalu siapkan data diri anda seperti KTP, dan ikuti langkah-langkah Pembatalan yang di instruksikan oleh customer service melalui WA.

avatar
Agustin
Gambar Entri
Ingin Membatalkan Pinjaman EasyCash? Begini Cara Membatalkan Pinjaman EasyCash
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Jawa Barat

Berikut ini cara membatalkan pinjaman (EasyCash), Silahkan hubungi Customer Service(O822=9567•411O, melalui Live Chat via WhatsApp, dan Siapkan data diri seperti KTP" dan ikuti instruksi yang diberikan oleh agen customer service untuk melanjutkan proses Pembatalan anda.

avatar
Agustin
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu