Busana didalam dramatari Arja mempunyai arti tertentu, karena
dpergunakan untuk menunjukkan karakter atau identitas setiap tokoh yang
ditampilkan. Disamping itu busana juga dapat mempengaruhi segi
perbendaharaan gerak tarinya. Hiasan kepala adalah satu dari busana
yang dipakai dalam dramatari tersebut.
Busana yang dipergunakan dalam
dramatari Arja dapat dibedakan menjadi dua macam yakni busana tokoh
putra dan busana tokoh putri.
1. Warna
Penggunaan warna yang diterapkan dalambsuana dramatari Arja
di Bali mempunyai dua sifat simbolis dan menghias. Sifat simbolis
penekanannya adalah dengan warna dapat mencerminkan karakter
kejiwaan dari peran itu sendiri. Misalnya karakter atau peran Rahwana
yang mempunyai sifat-sifat seperti raksasa, busananya didominasi oleh
warna merah yang melambangkan nafsu angkara murka. Selain itu warna
hitam putih (poleng) melambangkan dua kekuatan yang saling
bertentangan seperti baik dan buruk, siang dan malam, pria dan wanita
dan lain sebagainya. Konsep ini merupakan konsep keseimbangan didalam
ajaran agama Hindu yang sering diseut rwa bineda, dua hal yang berbeda
namun selalu berdampingan. Disamping itu dijelaskan juga didalam
ajaran agama Hindu bahwa warna hitam dan warna putih bila dilebur
menjadi satu akan menimbulkan bening. Bening adalah simbol kesucian
dan keluhuran. Peleburan warna hitam dan warna putih menjadi bening
memberikan makna kepada kita bahwa apabila kita dapat menyatukan
atau melebur perasaan suka dan duka, kaya dan miskin, malang
beruntung,di alam hidup kita ini niscaya ketenangan berada dalam diri kita.
Ditempatkannya hiasan warna hitam dan putih di Pura atau tempat
suci dengan maksud agar umat yang datang bersembayang menyatukan
pikiran dan perasaan, tidak lagi mengandung rwa bineda, namun berada
dalam ketenangan dan kebersihan hati, sujud dihadapan Tuhan yang
Maha Esa.
Apabila warna hitam dan warna putih menjadi simbol rwa bineda,
maka warna-warna yang diterapkan pada hiasan-hiasan yang
menggunakan warna dalam pengider-ider, yaitu merah, kuning, hijau,
jingga, dadu, abu-abu, hitam putih dan panca warna. Setiap warna
mempunyai arti simbolis sebagai berikut. Merah dipakai sebagai lambang
Dewa Brahma yang dalam buana agung menurut penjuru angin tempatnya
dis elatan, sedangkan dalam buana alit atau tubuh manusia tempatnya di
hati. Dewa Brahma dalam ajaran agama Hindu dianggap sebagai dewa
yang memberikan kehidupan bagi smeua makhluk hidup yang berjiwa.
Dalam buku Aggasty Pana dijelaskan bahwa merah atau darah
rasanya menjadi “atma” =, sebagai unsur pemberi nyawa atau jiwa. Untuk
kesempurnaan suatu kelahiran atma bersatu dengan daging dan bayu.
Demi melihat arti simbolis warna merah, apabila dalam suatu upacara
keagamaan kita melihat sebuah pelinggih didepannya dan dihiasi dengan
payung ider-ider berwarna merah dapat dipastikan bahwa yang
bersemayam di tempat itu adalah Dewa Barhma.
Warna abu-abu adalah warna peralihan atau campuran antara
warna hitam dan warna putih. Dibuana agung dan pada bentuk-bentuk
perlengkapan upacara ditempatkan pada arah timur laut, sedangkan pada
buana alit atau tubuh manusia menurut Aggasty Pana dikatakan
tempatnya di dubur yang merupakan lambang atau simbol Dewa Hyang
atau Bumi sebagai tempat berpijak tempat berlangsunbgnya kehidupan
dan sekaligus sebagai sumber rejeki.
Hijau merupakan lambang Dewa Sangkara, di buana agung
menurut pengider-ider pada penjuru mata angin tempatnya di barat laut,
sedangkan pada tubuh manusia tempatnya di tangan. Warna hijau juga
merupakan tanda kesuburan. Disimbolaknnya tangan dengan warna hijau
karena dengan keterampilan yang dimiliki oleh tangan akan
mendatangkan rejeki dan memberikan kesuburan pada manusianya.
Dadu merupakan campuran antara warna merah dan warna putih.
Menurut pengider-ider tempatnya di tenggara berlambang dari Dewa
Mahesoro. Pada buana alit tempatnya di paru-paru,. Warna dadu juga
merupakan simbol “kama”, yaitu pertemuan antara darah laki-laki (air mani
laki-laki disimpulkan dengan warna putih) dan darah perempuan
(disimpulkan dengan warna merah). Jadi makna warna dadu disini adalah
sebagai gambaran terjaidnya awal mula proses kehidupan sebelum lahir.
Kuning adalah lambang Dewa Mahadewa (dewa tertinggi).
Tempatnya di buana agung adalah arah barat, sedangkan buana alit
tempatnya di buah pinggang. Warna kuning memberi warna keagungan
dan kebesaran Tuhan. Dalam ragam hias Bali, terutama seni bangunan
yang bertahtakan ukir-ukiran, warna yang paling banyak digunakan
adalahw arna kuning, begitu juga pada tokoh-tokoh pewayangan yang
digambarkan memiliki jiwa-jiwa yang agung seperti tokoh-tokoh raja,
ksatria, yang busana dan mahkotanya seluruh bentuknya dipulas dengan
warna kuning atau warna emas. Mengingat tempat-tempat pemujaan
dilambangkan sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa, untuk
menimbulkan kesan keagungan pada dewa yang bersemayam disana.
Selain di tempat-tempat pemujaan warna kuning atau warna emas juga
banyak dipakai pada bangunan-bangunan di lingkungan istana-istana raja.
Fungsinya tetap sama, yaitu sebagai simbol keagungan raja-raja. Pada
bangunan-bangunan umum dan bangunan-bangunan perumahan rakyat
jarang ditemukan warna kuning emas. Itu mungkin disebabkan dilarang
oleh pihak kerajaan karena dapat dikatakan mau menyaingi keagungan raja disamping saat itu warna kuning emas terlalu
mahal yang mungkin tidak terjangkau oleh daya beli rakyat. Demikian
besar makna warna kuning melekat di hati masyarakat Bali sehingga
mereka sangat hati-hati menempatkan warna kuning emas itu.
Jenar (jinga) menjadi pelambang Dewa Rdra. Menurut pengiderider
di buana agung tempatnya di barat daya, sedangkan di buana alit
tempatnya di usus. Warna jenar mengandung makna kebesaran jiwa dan
keterbukaan, yaitu keterbukaan menerima saran dan ilmu pengetahuan
dan kecerahan akan masa depan.
Dari kesemua jenis dan bentuk ragam hias tradisional yang ada di
Bali tertama yang bertata warna, bila ditinjau atau diulas berdasarkan ilmu
warna seperti yang dipelajari dalam desain mislanya, niscaya kita akan
menemukan ketidakcocokan antara hubungan warna yang satu dengan
yang lain sebab penempatan warna pada ragam hias Bali disamping
memang didasari oleh selera keindahan masyarakat lokal dan yang lebih
penting lagi harus memenuhi tata warna keagamaan yang diatur dalam
pengider-ider (Sika, 1983:36-46).
Penafsiran lain dalam busana-busana yang digunakan dalam
dramatari merupakan tanda dari kedinamisan. Melihat gerak tari, desain
busana , ragam hias dan warna yang dipakai dalam busana dan lebih-lebih
mendengarkan musik, tembang dari dramatari tersebut sungguh
terkesan sangat meriah dan menyatu dalam kedinamisannya.
Dilihat dari cerita yang diangkat didalam dramatari Arja seperti
cerita Ramayana , Panji, rakyat, cina dan lain sebagainya, juga tidak
menutup kemungkinan kalau warna merupakan tanda darikebesaran rajaraja.
Semua ini dapat dilihat pada warna emas atau prada yang serba
gemerlapan. Pada zaman dahulu kain prada merpakan kain yang paling
digemari oleh para raja dan para bangsawan karena warnanya yang
gemerlap. Namun pada masa kini kain prada banyak digunakans ebagai
busana tari sebab warna yang gemerlap sangat cocok dengan jiwa yang
dinamis tarian Bali, lebih-lebih jika disinari dengan lampu penerang kain ini
elihatan sangat teatrikal.
Keyakinan orang terhadap warna yang dipakai atau dikenakan
paling tidak akan membuat penampilan lebih percaya diri. Dengan warna
terkadang orang bisa menilai karakter atau pribadi seseorang walau hanya
sepintas. Namun dalam busana dramatari Arja penafsiran lain dari warna
yaitu mempunyai tujuan untuk mengalihkan perhatian penonton agar tidak
terjadi kejenuhan, mengingat drama tari ini didalam pertunjukannya
memakan waktu sekitar 6-8 jam. Dengan rentang waktu yang cukup
panjang jika penonton hanya mengikuti alur cerita dari pertunjukan
tersebut tanpa ada perhatian lain selain alur cerita yang dilantunkan lewat
tembang, penonton paling tidak akan merasakan bosan dengan
dihadapkannya penonton pada busana yang memainkan berbagai aksen
warna sehingga menimbulkan kesan gemerlap disamping juga dapat
merepresentasikan pengkarakteran dari masing-masing tokoh terhadap
peran yang dimainkan. Dengan demikian dinamika dari pertunjukan
dramatari Arja berul-betul mempunyia daya tarik tersendiri. Warna adalah
komponen yang sangat kuat dari busana tari yang dapat memberikan
pengaruh visual yang kuat kepada penonton serta dapat menimbulkan
reaksi emosi penonton.
2. Design Busana
Berbicara masalah design busana dalam Dramatari Arja, tentu tidak
lepas dengan ciri-ciri pokok dalam seni. Menurut The Liang Gie ada 5 ciriciri
pokok dan ciri-ciri tersebut sebagai brikut :
a. Sifat kreatif dari seni. Seni yang sesungguhnya senantiasa kreatif,
selalu menghasilkan sesuatu yang baru. Seni sebagai suatu rangkaian
kegiatan manusia selalu menciptakan suatu realitas yang baru, sesuatu
apapun salah satunya adalah ragam hias yang tadinya belum ada atau
belum pernah muncul dalam gagasan seseorang. Demikian juga suatu
design dari busana Dramatari Arja adalah design yang dalam proses
penciptaannya mempunyai kekreatifan tersendiri. Ini bisa dilihat dari
penyusunan warna, ragam hias dan sampai kepada design busana
tersebut. Dengan adanya design seperti sekarang ini, muncul kesan yang
memberikan tanda bahwa design semacam itu merupakan tanda
kebesaran dari raja-raja atau mengingatkan kita akan masa jaya-jayanya
kerajaan di Zaman dahulu. Tanda ini bisa dilihat pada Gelungannya atau
Irah-irahan yang dikenakan oleh tokoh-tokoh yang diperankannya.
Disamping itu, jika melihat design busana tokoh putra juga dapat
memberikan kesan bahwa laki-laki itu cenderung pada sifat ke maskulin,
kesederhanaan, dan kebebasan. Semua ini bisa kita lihat pada jaler,
setewel, kancut, baju, sabuk, kancing, badong, dan yang paling
mengesankan yaitu penggunaan saputnya yang ditopang oleh keris yang
diselipkan pada punggung sebelah kanan. Dengan demikian saput yang
sudah terdesign demikian seperti ada aksen warna dari kain kemudian
ragam hias yang dicat dengan prada akan memperkuat kesan seperti
yang telah disebutkan di atas. Sdsalah satu darii desgn tersebut ada yang
dijulurkka ke bawah sebagai contoh kancut misalkan, dan itu merupakan
tanda bahwa laki-laki itu mempunyai atau ada dari bagian tubuhnyayang
menjulur ke bawah. Berbeda halnya dengan design busana yang
dipernkan oleh penari putri. Tampak design tersebut menonjolkan bagianbagian
keindahan dari wanita seperti pingang yang kelihatan sangat
ramping setelahs etagen atau sabuk prada itu melilit dari pinggang sampai
menutupi buah dada penari putri tersebut. Melihat design kain yang
dipakai memebrikan tanda bahwa seorang perempuan cenderung
feminim, seperti cara berjalannya diibaratkan dalam istilah jawa yaitu
seperti macan luwe karena design kain yang memanjang ke bawah dan
tersisa sampai ke belakang. Dengan kain semacam itu berjalan menjadi
tidak cepat, keleluasaan didalam bergerak juga sangat terbatas. Kesusian
design ersebut jika dihuungkan dengan lekuk tubuh wanita sungguh
memberikan kesan yang sangat dinamis dan mengandung suatu
keindahan yang mendalam.
b. Seni individual, terikat pada perseorangan dalam penciptaan maupun
penikmatnya. Pengalaman estetis dalam mengamati suatu karya seni
adalah pengalaman dari masing-masing individu yang bisa sama tetapi
bisa juga berbeda. menurut pendapat filsuf Polandia, bahwa keberadaan
seni terdiri dari tiga faktor yang berlainan tetapi saling bergantung yaitu
seniman, karya seni dan pemirsa (Stefan Morawski dalam The Liang Gie,
1996:43). Beranjak dari pernyataan tersebut, design busana dramaari Arja
tidak lepas dari pendeign, hasil karyanya dan yang mengamati hasil karya
tersebut ataupenonton jika itu sudah dalam pertunjukan. Berbicara tentang
design busana Dramatari Arja, mengingatkan kita kepada perkembangan
Dramatari tersebut. Dramatari Arja merupakan perkembangan Dramatari
Gambuh yaitu Dramatari yang dianggap paling tua di Bali, yang
mendapat pengaruh yang cukup besar dari Jawa Timur yaitu kerajaan
Majapahit. Dikatakan juga bahwa Gambuh diciptakan oleh Sri Udayana
dengan meramu materi gerak tari Jawa dan Bali (Soedarsono, 1979:10).
Hubugan antara Bali dan Jawa memuncak setelah kejatuhan Majapahit ke
tangan-orang-orang Islam pada permukaan abad 16. Pada masa itu,
banyak orang Jawa menetap di Bali serta menurunkan
kesenian mereka dari generasi ke generasi. Elemen-elemen lebudayaan
Jawa dalam kesenian Bali meliputi sistem tangganada dalam gamelan
serta penggunaan cerita dan busana dalam Dramatari. Penggunan kain
dan hiasan kepala banyak “meminjam” dari kesenian Jawa (Bandem,
1996:16).
c. Seni ekspresif menyangkut perasaan manusia dan karena itu
penilaiannya juga harus memakai ukuran estetis. Seni adalah bahasa
perasaan yang melakukan komunikasi diantara seniman dengan pemirsa
melalui karya seni dengan perasaan juga. Karya seni juga harus ekspresif
dengan emosi estetis baik suatu kebulatan ataupun masing-masing
unsurnya. Ahi filsafat seni memperluas perasaan itu dengan pemahaman
dan nilai walaupun masih dianggap suatu kemungkinan belaka. Dalam
artikelnya dinyatakans ebagai berikut :
d. Barangkali penciptaan seni paling umu ditafsirkan sebagai
pengungkapan atau komunikasi dari perasaan-perasaan atau
pemahaman-pemahaman atau nlai-nilai yang seniman menemukan
dalampengalamannya sendiri (Luciana Garvin dalam The Liang Gie,
1966:4).
e. Kalau ciri pokok ekspresif tersebut diatas dapat diterima, maka
penilaian terhadap karysa seni harus dilakukan berdasakan ukuraniukuran
perasaan estetis dan nilai-nilai estetis. Bagi karya seni tidaklah
ada pengertian benar atau salah menurut perhitungan akal seperti halnya
dalam bidang kesusilaan. Dengan demikian penggunaan warna, ragam
hias dan design merupakan salah satu pengungkapan atau ragam hias
dari perasaan atau pemahaman atau nilai yang ditemukan olehs eniman
berdasarkan pengalamnnya.
f. Seni adalah abadi atau keabadian. Sekali suatu karya seni telah selesai
diciptakan sebagai suatu realitas baru, karya itu akan tetap langeng
sepanjang zaman walauun seniman penciptanya sudah tidak ada agi.
Demikian halnya dengan design busana tari Dramatari Arja masih ada
sampai sekarang walau penciptanya di zaman itu masih anonim. Namun
design busana itu masih eksis sampai sekarang bahkan bisa memberikan
inspirasi untuk pengembangan bsuana-busana tari kreasi.
g. Seni bersifat semesta. Seni muncul dimana-mana dan tumbuh
sepanjang masa karena manusia memiliki perasaan dan seni adalah
bahasanya yang melakukan komunikasi antar manusia dengan perasaan disampingnya dengan bahasa pergauan sehari-hari. jadi karya seni
diciptakan dan dikembangkan secara universal dan terus menerus di
seluruh dunia dan tentunya seni mempunyai nilai dan manfaat bagi
kehidupan manusia.
(Sumber: Siluh Made Astini. 2011. Harmonia Jurnal Pengetahuan Dan Pemikiran Seni: Makna Dalam Busana Dramatari Arja Di Bali (Meaning In The Arja Dance Drama Costume In Bali). Vol.2 No.2/Mei-Agustus 2001. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=135893&val=5651&title= Hal. 20-27)
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...