Pakaian Tradisional
Pakaian Tradisional
Pakaian Bali Bali
Busana Dramatari Arja
- 18 September 2014

Busana didalam dramatari Arja mempunyai arti tertentu, karena

dpergunakan untuk menunjukkan karakter atau identitas setiap tokoh yang

ditampilkan. Disamping itu busana juga dapat mempengaruhi segi

perbendaharaan gerak tarinya. Hiasan kepala adalah satu dari busana

yang dipakai dalam dramatari tersebut.

 

Busana yang dipergunakan dalam

dramatari Arja dapat dibedakan menjadi dua macam yakni busana tokoh

putra dan busana tokoh putri.

 

1. Warna

Penggunaan warna yang diterapkan dalambsuana dramatari Arja

di Bali mempunyai dua sifat simbolis dan menghias. Sifat simbolis

penekanannya adalah dengan warna dapat mencerminkan karakter

kejiwaan dari peran itu sendiri. Misalnya karakter atau peran Rahwana

yang mempunyai sifat-sifat seperti raksasa, busananya didominasi oleh

warna merah yang melambangkan nafsu angkara murka. Selain itu warna

hitam putih (poleng) melambangkan dua kekuatan yang saling

bertentangan seperti baik dan buruk, siang dan malam, pria dan wanita

dan lain sebagainya. Konsep ini merupakan konsep keseimbangan didalam

ajaran agama Hindu yang sering diseut rwa bineda, dua hal yang berbeda

namun selalu berdampingan. Disamping itu dijelaskan juga didalam

ajaran agama Hindu bahwa warna hitam dan warna putih bila dilebur

menjadi satu akan menimbulkan bening. Bening adalah simbol kesucian

dan keluhuran. Peleburan warna hitam dan warna putih menjadi bening

memberikan makna kepada kita bahwa apabila kita dapat menyatukan

atau melebur perasaan suka dan duka, kaya dan miskin, malang

beruntung,di alam hidup kita ini niscaya ketenangan berada dalam diri kita.

Ditempatkannya hiasan warna hitam dan putih di Pura atau tempat

suci dengan maksud agar umat yang datang bersembayang menyatukan

pikiran dan perasaan, tidak lagi mengandung rwa bineda, namun berada

dalam ketenangan dan kebersihan hati, sujud dihadapan Tuhan yang

Maha Esa.

Apabila warna hitam dan warna putih menjadi simbol rwa bineda,

maka warna-warna yang diterapkan pada hiasan-hiasan yang

menggunakan warna dalam pengider-ider, yaitu merah, kuning, hijau,

jingga, dadu, abu-abu, hitam putih dan panca warna. Setiap warna

mempunyai arti simbolis sebagai berikut. Merah dipakai sebagai lambang

Dewa Brahma yang dalam buana agung menurut penjuru angin tempatnya

dis elatan, sedangkan dalam buana alit atau tubuh manusia tempatnya di

hati. Dewa Brahma dalam ajaran agama Hindu dianggap sebagai dewa

yang memberikan kehidupan bagi smeua makhluk hidup yang berjiwa.

Dalam buku Aggasty Pana dijelaskan bahwa merah atau darah

rasanya menjadi “atma” =, sebagai unsur pemberi nyawa atau jiwa. Untuk

kesempurnaan suatu kelahiran atma bersatu dengan daging dan bayu.

Demi melihat arti simbolis warna merah, apabila dalam suatu upacara

keagamaan kita melihat sebuah pelinggih didepannya dan dihiasi dengan

payung ider-ider berwarna merah dapat dipastikan bahwa yang

bersemayam di tempat itu adalah Dewa Barhma.

Warna abu-abu adalah warna peralihan atau campuran antara

warna hitam dan warna putih. Dibuana agung dan pada bentuk-bentuk

perlengkapan upacara ditempatkan pada arah timur laut, sedangkan pada

buana alit atau tubuh manusia menurut Aggasty Pana dikatakan

tempatnya di dubur yang merupakan lambang atau simbol Dewa Hyang

atau Bumi sebagai tempat berpijak tempat berlangsunbgnya kehidupan

dan sekaligus sebagai sumber rejeki.

Hijau merupakan lambang Dewa Sangkara, di buana agung

menurut pengider-ider pada penjuru mata angin tempatnya di barat laut,

sedangkan pada tubuh manusia tempatnya di tangan. Warna hijau juga

merupakan tanda kesuburan. Disimbolaknnya tangan dengan warna hijau

karena dengan keterampilan yang dimiliki oleh tangan akan

mendatangkan rejeki dan memberikan kesuburan pada manusianya.

Dadu merupakan campuran antara warna merah dan warna putih.

Menurut pengider-ider tempatnya di tenggara berlambang dari Dewa

Mahesoro. Pada buana alit tempatnya di paru-paru,. Warna dadu juga

merupakan simbol “kama”, yaitu pertemuan antara darah laki-laki (air mani

laki-laki disimpulkan dengan warna putih) dan darah perempuan

(disimpulkan dengan warna merah). Jadi makna warna dadu disini adalah

sebagai gambaran terjaidnya awal mula proses kehidupan sebelum lahir.

Kuning adalah lambang Dewa Mahadewa (dewa tertinggi).

Tempatnya di buana agung adalah arah barat, sedangkan buana alit

tempatnya di buah pinggang. Warna kuning memberi warna keagungan

dan kebesaran Tuhan. Dalam ragam hias Bali, terutama seni bangunan

yang bertahtakan ukir-ukiran, warna yang paling banyak digunakan

adalahw arna kuning, begitu juga pada tokoh-tokoh pewayangan yang

digambarkan memiliki jiwa-jiwa yang agung seperti tokoh-tokoh raja,

ksatria, yang busana dan mahkotanya seluruh bentuknya dipulas dengan

warna kuning atau warna emas. Mengingat tempat-tempat pemujaan

dilambangkan sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa, untuk

menimbulkan kesan keagungan pada dewa yang bersemayam disana.

Selain di tempat-tempat pemujaan warna kuning atau warna emas juga

banyak dipakai pada bangunan-bangunan di lingkungan istana-istana raja.

Fungsinya tetap sama, yaitu sebagai simbol keagungan raja-raja. Pada

bangunan-bangunan umum dan bangunan-bangunan perumahan rakyat

jarang ditemukan warna kuning emas. Itu mungkin disebabkan dilarang

oleh pihak kerajaan karena dapat dikatakan mau menyaingi keagungan raja disamping saat itu warna kuning emas terlalu

mahal yang mungkin tidak terjangkau oleh daya beli rakyat. Demikian

besar makna warna kuning melekat di hati masyarakat Bali sehingga

mereka sangat hati-hati menempatkan warna kuning emas itu.

Jenar (jinga) menjadi pelambang Dewa Rdra. Menurut pengiderider

di buana agung tempatnya di barat daya, sedangkan di buana alit

tempatnya di usus. Warna jenar mengandung makna kebesaran jiwa dan

keterbukaan, yaitu keterbukaan menerima saran dan ilmu pengetahuan

dan kecerahan akan masa depan.

Dari kesemua jenis dan bentuk ragam hias tradisional yang ada di

Bali tertama yang bertata warna, bila ditinjau atau diulas berdasarkan ilmu

warna seperti yang dipelajari dalam desain mislanya, niscaya kita akan

menemukan ketidakcocokan antara hubungan warna yang satu dengan

yang lain sebab penempatan warna pada ragam hias Bali disamping

memang didasari oleh selera keindahan masyarakat lokal dan yang lebih

penting lagi harus memenuhi tata warna keagamaan yang diatur dalam

pengider-ider (Sika, 1983:36-46).

Penafsiran lain dalam busana-busana yang digunakan dalam

dramatari merupakan tanda dari kedinamisan. Melihat gerak tari, desain

busana , ragam hias dan warna yang dipakai dalam busana dan lebih-lebih

mendengarkan musik, tembang dari dramatari tersebut sungguh

terkesan sangat meriah dan menyatu dalam kedinamisannya.

Dilihat dari cerita yang diangkat didalam dramatari Arja seperti

cerita Ramayana , Panji, rakyat, cina dan lain sebagainya, juga tidak

menutup kemungkinan kalau warna merupakan tanda darikebesaran rajaraja.

Semua ini dapat dilihat pada warna emas atau prada yang serba

gemerlapan. Pada zaman dahulu kain prada merpakan kain yang paling

digemari oleh para raja dan para bangsawan karena warnanya yang

gemerlap. Namun pada masa kini kain prada banyak digunakans ebagai

busana tari sebab warna yang gemerlap sangat cocok dengan jiwa yang

dinamis tarian Bali, lebih-lebih jika disinari dengan lampu penerang kain ini

elihatan sangat teatrikal.

Keyakinan orang terhadap warna yang dipakai atau dikenakan

paling tidak akan membuat penampilan lebih percaya diri. Dengan warna

terkadang orang bisa menilai karakter atau pribadi seseorang walau hanya

sepintas. Namun dalam busana dramatari Arja penafsiran lain dari warna

yaitu mempunyai tujuan untuk mengalihkan perhatian penonton agar tidak

terjadi kejenuhan, mengingat drama tari ini didalam pertunjukannya

memakan waktu sekitar 6-8 jam. Dengan rentang waktu yang cukup

panjang jika penonton hanya mengikuti alur cerita dari pertunjukan

tersebut tanpa ada perhatian lain selain alur cerita yang dilantunkan lewat

tembang, penonton paling tidak akan merasakan bosan dengan

dihadapkannya penonton pada busana yang memainkan berbagai aksen

warna sehingga menimbulkan kesan gemerlap disamping juga dapat

merepresentasikan pengkarakteran dari masing-masing tokoh terhadap

peran yang dimainkan. Dengan demikian dinamika dari pertunjukan

dramatari Arja berul-betul mempunyia daya tarik tersendiri. Warna adalah

komponen yang sangat kuat dari busana tari yang dapat memberikan

pengaruh visual yang kuat kepada penonton serta dapat menimbulkan

reaksi emosi penonton.

 

2. Design Busana

Berbicara masalah design busana dalam Dramatari Arja, tentu tidak

lepas dengan ciri-ciri pokok dalam seni. Menurut The Liang Gie ada 5 ciriciri

pokok dan ciri-ciri tersebut sebagai brikut :

a. Sifat kreatif dari seni. Seni yang sesungguhnya senantiasa kreatif,

selalu menghasilkan sesuatu yang baru. Seni sebagai suatu rangkaian

kegiatan manusia selalu menciptakan suatu realitas yang baru, sesuatu

apapun salah satunya adalah ragam hias yang tadinya belum ada atau

belum pernah muncul dalam gagasan seseorang. Demikian juga suatu

design dari busana Dramatari Arja adalah design yang dalam proses

penciptaannya mempunyai kekreatifan tersendiri. Ini bisa dilihat dari

penyusunan warna, ragam hias dan sampai kepada design busana

tersebut. Dengan adanya design seperti sekarang ini, muncul kesan yang

memberikan tanda bahwa design semacam itu merupakan tanda

kebesaran dari raja-raja atau mengingatkan kita akan masa jaya-jayanya

kerajaan di Zaman dahulu. Tanda ini bisa dilihat pada Gelungannya atau

Irah-irahan yang dikenakan oleh tokoh-tokoh yang diperankannya.

Disamping itu, jika melihat design busana tokoh putra juga dapat

memberikan kesan bahwa laki-laki itu cenderung pada sifat ke maskulin,

kesederhanaan, dan kebebasan. Semua ini bisa kita lihat pada jaler,

setewel, kancut, baju, sabuk, kancing, badong, dan yang paling

mengesankan yaitu penggunaan saputnya yang ditopang oleh keris yang

diselipkan pada punggung sebelah kanan. Dengan demikian saput yang

sudah terdesign demikian seperti ada aksen warna dari kain kemudian

ragam hias yang dicat dengan prada akan memperkuat kesan seperti

yang telah disebutkan di atas. Sdsalah satu darii desgn tersebut ada yang

dijulurkka ke bawah sebagai contoh kancut misalkan, dan itu merupakan

tanda bahwa laki-laki itu mempunyai atau ada dari bagian tubuhnyayang

menjulur ke bawah. Berbeda halnya dengan design busana yang

dipernkan oleh penari putri. Tampak design tersebut menonjolkan bagianbagian

keindahan dari wanita seperti pingang yang kelihatan sangat

ramping setelahs etagen atau sabuk prada itu melilit dari pinggang sampai

menutupi buah dada penari putri tersebut. Melihat design kain yang

dipakai memebrikan tanda bahwa seorang perempuan cenderung

feminim, seperti cara berjalannya diibaratkan dalam istilah jawa yaitu

seperti macan luwe karena design kain yang memanjang ke bawah dan

tersisa sampai ke belakang. Dengan kain semacam itu berjalan menjadi

tidak cepat, keleluasaan didalam bergerak juga sangat terbatas. Kesusian

design ersebut jika dihuungkan dengan lekuk tubuh wanita sungguh

memberikan kesan yang sangat dinamis dan mengandung suatu

keindahan yang mendalam.

b. Seni individual, terikat pada perseorangan dalam penciptaan maupun

penikmatnya. Pengalaman estetis dalam mengamati suatu karya seni

adalah pengalaman dari masing-masing individu yang bisa sama tetapi

bisa juga berbeda. menurut pendapat filsuf Polandia, bahwa keberadaan

seni terdiri dari tiga faktor yang berlainan tetapi saling bergantung yaitu

seniman, karya seni dan pemirsa (Stefan Morawski dalam The Liang Gie,

1996:43). Beranjak dari pernyataan tersebut, design busana dramaari Arja

tidak lepas dari pendeign, hasil karyanya dan yang mengamati hasil karya

tersebut ataupenonton jika itu sudah dalam pertunjukan. Berbicara tentang

design busana Dramatari Arja, mengingatkan kita kepada perkembangan

Dramatari tersebut. Dramatari Arja merupakan perkembangan Dramatari

Gambuh yaitu Dramatari yang dianggap paling tua di Bali, yang

mendapat pengaruh yang cukup besar dari Jawa Timur yaitu kerajaan

Majapahit. Dikatakan juga bahwa Gambuh diciptakan oleh Sri Udayana

dengan meramu materi gerak tari Jawa dan Bali (Soedarsono, 1979:10).

Hubugan antara Bali dan Jawa memuncak setelah kejatuhan Majapahit ke

tangan-orang-orang Islam pada permukaan abad 16. Pada masa itu,

banyak orang Jawa menetap di Bali serta menurunkan

kesenian mereka dari generasi ke generasi. Elemen-elemen lebudayaan

Jawa dalam kesenian Bali meliputi sistem tangganada dalam gamelan

serta penggunaan cerita dan busana dalam Dramatari. Penggunan kain

dan hiasan kepala banyak “meminjam” dari kesenian Jawa (Bandem,

1996:16).

c. Seni ekspresif menyangkut perasaan manusia dan karena itu

penilaiannya juga harus memakai ukuran estetis. Seni adalah bahasa

perasaan yang melakukan komunikasi diantara seniman dengan pemirsa

melalui karya seni dengan perasaan juga. Karya seni juga harus ekspresif

dengan emosi estetis baik suatu kebulatan ataupun masing-masing

unsurnya. Ahi filsafat seni memperluas perasaan itu dengan pemahaman

dan nilai walaupun masih dianggap suatu kemungkinan belaka. Dalam

artikelnya dinyatakans ebagai berikut :

d. Barangkali penciptaan seni paling umu ditafsirkan sebagai

pengungkapan atau komunikasi dari perasaan-perasaan atau

pemahaman-pemahaman atau nlai-nilai yang seniman menemukan

dalampengalamannya sendiri (Luciana Garvin dalam The Liang Gie,

1966:4).

e. Kalau ciri pokok ekspresif tersebut diatas dapat diterima, maka

penilaian terhadap karysa seni harus dilakukan berdasakan ukuraniukuran

perasaan estetis dan nilai-nilai estetis. Bagi karya seni tidaklah

ada pengertian benar atau salah menurut perhitungan akal seperti halnya

dalam bidang kesusilaan. Dengan demikian penggunaan warna, ragam

hias dan design merupakan salah satu pengungkapan atau ragam hias

dari perasaan atau pemahaman atau nilai yang ditemukan olehs eniman

berdasarkan pengalamnnya.

f. Seni adalah abadi atau keabadian. Sekali suatu karya seni telah selesai

diciptakan sebagai suatu realitas baru, karya itu akan tetap langeng

sepanjang zaman walauun seniman penciptanya sudah tidak ada agi.

Demikian halnya dengan design busana tari Dramatari Arja masih ada

sampai sekarang walau penciptanya di zaman itu masih anonim. Namun

design busana itu masih eksis sampai sekarang bahkan bisa memberikan

inspirasi untuk pengembangan bsuana-busana tari kreasi.

g. Seni bersifat semesta. Seni muncul dimana-mana dan tumbuh

sepanjang masa karena manusia memiliki perasaan dan seni adalah

bahasanya yang melakukan komunikasi antar manusia dengan perasaan disampingnya dengan bahasa pergauan sehari-hari. jadi karya seni

diciptakan dan dikembangkan secara universal dan terus menerus di

seluruh dunia dan tentunya seni mempunyai nilai dan manfaat bagi

kehidupan manusia. 

(Sumber: Siluh Made Astini. 2011. Harmonia Jurnal Pengetahuan Dan Pemikiran Seni: Makna Dalam Busana Dramatari Arja Di Bali (Meaning In The Arja Dance Drama Costume In Bali). Vol.2 No.2/Mei-Agustus 2001. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=135893&val=5651&title= Hal. 20-27)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu