Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Riau Riau
Burung Bayan dan Si Penggetah
- 17 Juli 2012

"Niat hati nak getah bayan, sudah tergetah burung serindit," artinya, hasil yang diperoleh jauh dari yang diharapkan. Dalam pepatah ini, burung bayan digambarkan memiliki keistimewaan dari jenis burung lainnya. Burung bayan (eclectus roratus) adalah salah satu jenis burung paruh-bengkok berukuran sedang, dengan panjang sekitar 43 cm. Keistimewaan yang dimiliki burung ini adalah bulunya sangat indah, suaranya sangat merdu, dan pandai berbicara. Selain itu, burung ini juga memiliki keistimewaan yang jauh lebih bernilai dibandingkan dengan keistimewaan lainnya seperti yang disebutkan di atas. Konon, di daerah Riau, Indonesia, ada seekor burung bayan yang sangat cerdik dan sakti, kotorannya bisa berubah menjadi emas. Burung bayan itu adalah milik seorang laki-laki miskin, yang akrab di panggil si Penggetah. Karena kesaktiannya, maka Raja Helat yang sedang memerintah saat itu berkinginan untuk memiliki burung bayan yang sakti itu. Berhasilkah Raja Helat memiliki burung bayan itu? Bersediakah burung bayan itu dibawa oleh sang Raja ke istana? Lalu, bagaimana nasib si Penggetah? Untuk mengetahui jawabannya, ikuti kisahnya dalam Burung Bayan dan Si Penggetah.

Alkisah, di pinggir hutan belantara, terdapatlah sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga miskin. Karena kerja si Miskin setiap hari adalah menggetah burung, maka penduduk sekitar memanggilnya si Penggetah.

Burung-burung hasil getahannya tersebut ia jual di kampung tetangga, tak jauh dari rumahnya. Karena si Penggetah mengetahui Burung Bayan memiliki bulu dan suara yang indah dan pandai berbicara, maka ia berkeinginan untuk menggetah Burung Bayan.

Suatu hari, setelah si Miskin mempersiapkan segala keperluan untuk menggetah, berangkatlah ia ke dalam hutan belantara. Tak lama kemudian, ia pun menemukan sebuah pohon yang menurutnya sangat strategis untuk memasang getah. Setelah memasang getah di ranting kering pada pohon itu, ia kemudian menunggu di bawah pohon. Sambil berharap burung Bayan yang diidamkannya terkena getah, ia mengucapkan janji dalam hati, "Jika aku berhasil mendapatkan Burung Bayan, maka aku akan memberinya sangkar emas."

Benarlah, ketika siang menjelang, burung Bayan terperangkap pada getah yang telah dilekatkan si Penggetah di ranting pohon. Burung itu dibersihkan si Penggetah dengan minyak, hingga bulunya nampak indah mengkilat. Lalu diambilnya sangkar kayu yang telah disiapkannya. Sambil memasukkan burung itu ke dalam sangkar, si Penggetah berkata, "Burung Bayan, sebenarnya aku berjanji apabila berhasil mendapatkanmu, akan aku beri sangkar emas. Tapi, tahulah kau, jangankan emas, uang pun aku tak punya, karena aku sangat miskin," kata si Penggetah dengan nada iba.

Tiba-tiba burung Bayan itu menjawab, "Kalau kau memang menginginkan emas, tampunglah kotoranku. Kotoran itu nantinya akan menjadi emas." Mendengar jawaban Burung Bayan, si Penggentah tersentak kaget. "Ah, yang benar saja, Bayan! Kalau begitu, aku akan mengumpulkan semua kotoranmu," sahut si Penggetah dengan semangatnya. Setelah beberapa hari si Penggetah mengumpulkan kotoran, maka berubahlah kotoran itu menjadi butiran emas. Si Penggetah lalu menjual emas itu dan membelikan sangkar emas untuk si Bayan.

Kesaktian Burung Bayan itu terdengar oleh seluruh penduduk negeri. Hingga suatu hari, kabar itu sampai ke telinga Raja Helat, seorang raja yang tamak. Maka diperintahnyalah seorang utusan istana bernama Bujang Selamat untuk pergi ke rumah si Penggetah.

Alangkah terkejutnya si Penggetah melihat utusan istana datang ke gubuk reyotnya. "Waduh, gawat! Ada apa utusan istana datang ke sini. Jangan-jangan si Bayan mau dibawa ke istana," gumam si Penggetah dengan cemasnya. Melihat raut wajah si Penggetah yang pucat, Bujang Selamat kemudian menenangkan hati si Penggetah dan berkata, "Janganlah engkau takut, Penggetah, aku datang hanya untuk menyampaikan titah raja." Dengan hati-hati, si Penggetah bertanya, "Titah apa yang hendak tuan sampaikan kepadaku?" Bujang Selamat kemudian menjelaskan maksud kedatangannya, "Baginda Raja tahu engkau memiliki burung yang pandai bicara dan kotorannya bisa menjadi emas. Untuk itulah aku ke sini, karena Baginda Raja ingin memilikinya."

Mendengar penjelasan Bujang Selamat, si Penggetah menjadi bingung. Belum sempat dia menjawab, Bujang Selamat berkata lagi, "kau jangan khawatir, karena kami akan menggantinya dengan uang atau barang yang kau inginkan. Tapi kalau kau menolaknya, maka kami akan mengambilnya dengan paksa," lanjut Bujang Selamat.

Si Penggentah hanya diam mendengar penjelasan Bujang Selamat. Dia berpikir bagaimana cara yang baik untuk menolak, karena si Penggetah tahu benar sifat Raja Helat yang terkenal kejam itu.

Maka dengan hati-hati, dia berkata kepada Bujang Selamat, "Begini saja Bujang Selamat, supaya adil, bagaimana kalau kita tanyakan kepada si Bayan, apakah dia mau dibawa ke istana Raja Helat?" bujuk si Penggetah.

Setelah menimbang-nimbang, Bujang Selamat setuju dengan tawaran si Penggetah. Lalu ditanyalah si Bayan: "Hai Bayan, engkau telah mendengar sendiri pembicaraan kami, maka maukah engkau dibawa ke istana Raja Helat?" tanya si Penggetah. Burung Bayan melihat kepada Bujang Selamat, lalu dengan tegas menjawab: "Hai Bujang Selamat, aku mau bertuankan Raja Helat asalkan dia mau memenuhi syaratku," kata si Bayan. "Apa syaratnya?" tanya Bujang Selamat. "Syaratnya, sebelum Raja menjadi tuanku, maka Raja Helat harus mendengarkan ceritaku. Sebelum ceritaku selesai, aku tidak boleh berpindah tuan," tegas Si Bayan. Syarat yang diberikan si Bayan tidaklah sulit. Tanpa berpikir panjang Bujang Selamat pun setuju. "Kalau begitu, baiklah," kata Bujang Selamat.

Setelah sepakat, mereka pun membawa si Bayan ke istana. Sesampainya di istana, si Bayan mulai bercerita di hadapan Raja Helat dan keluarga istana. Cerita-cerita yang dirangkainya sangat menarik, sehingga Raja Helat terpesona dan selalu meminta Si Bayan terus bercerita. Karena Si Bayan ini adalah burung yang cerdik, maka untuk setiap cerita yang diminta raja, ia selalu meminta syaratnya dipenuhi. Selain itu, si Bayan juga mengajukan permintaan kepada Raja Helat. Untuk setiap cerita yang diberikannya, Raja harus mengganti dengan segantang (setara dengan 4 kg) emas murni serta makanan dan minuman. Raja Helat pun tidak keberatan, semua yang diminta Si Bayan selalu dipenuhi saat itu juga. Si Bayan lalu memberikan emas, makanan, dan minuman tersebut kepada Si Penggetah.

Si Bayan yang cerdik itu selalu membuat cerita yang dituturkannya panjang dan bersambung, maka tanpa terasa sudah berminggu-minggu ia bercerita di hadapan Raja Helat, keluarga istana, dan rakyat negeri. Emas, makanan, dan minuman yang diterima si Penggetah pun semakin banyak. Sebagian dia simpan, dan sebagian lainnya ia bagikan kepada rakyat yang miskin. Begitulah seterusnya setiap hari, sampai gudang kerajaan tempat menyimpan emas, makanan, dan minuman menjadi kosong.

Sekarang, raja yang kejam itu sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Akibatnya, rakyat sudah tidak percaya lagi kepadanya. Kekayaan yang seharusnya dibagikan kepada rakyatnya yang miskin, tak pernah dilakukannya. Selama ini Raja Helat menimbun kekayaan untuk dinikmati sendiri bersama keluarganya.

Akhirnya Raja Helat berhasil ditumbangkan dan diturunkan tahtanya oleh si Burung Bayan, si Penggetah, dan rakyat negeri. Si Penggetah kemudian diangkat oleh seluruh rakyat sebagai Raja, sedangkan si Bayan diangkat menjadi penasehat raja. Sejak negeri itu diperintah oleh si Penggetah, rakyatnya hidup damai, makmur dan sejahtera.

Dari cerita di atas, dapat dipetik hikmahnya bahwa raja yang tamak dan tidak menyejahterakan rakyatnya, suatu hari akan ditumbangkan oleh rakyatnya sendiri. Raja yang adil dan bijaksana selalu dicintai dan didukung rakyatnya, sebagaimana pepatah Melayu: Raja Adil Raja Disembah, Raja Zalim Raja Disanggah. (SM/sas/14/07-07).

Sumber :
Diringkas dari Burung Bayan dan Si Penggetah. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa, 2005.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum