Apakah Anda pernah mendengar panganan Bolu berendam (Halue Telur)? Makanan ini adalah sejenis makanan khas dari Indragiri Hulu (Inhu).
Meskipun makanan bolu berendam (halue telur) merupakan makanan khas, tetapi banyak di antara kita yang belum mengenalnya, karena makanan tersebut tidak dapat kita jumpai atau kita beli di toko atau warung.
Makanan tersebut hanya dapat kita jumpai pada hari-hari khusus, seperti dalam acara resepsi dan hari lebaran. Jika kita lihat dari bentuknya bolu berendam tak ubahnya seperti bolu biasa.
Rasa bolu berendam sangat manis, karena sebelum dihidangkan, makanan ini terlebih dahulu direndam dalam air gula putih, seperti hidangan halue buah-buahan. Hanya saja, sewaktu dihidangkan air gula atau sirupnya tidak terbawa bersama bolu berendam itu, tapi dipisahkan.
Bagi yang penasaran dengan resepnya, berikut cara membuat Bolu Berendam (Halue Telur). Bahan-bahannya adalah 1 cangkir telur ayam/ 3 butir, 1/2 sendok gula pasir kasar, 2 sendok tepung terigu (1/2 gelas), Vanilli secukupnya, 1 cangkir gula kasar ( 1/2 gelas), 1/2 gelas air mentah (1 gelas), Cengkih, kayu manis, adas manis secukupnya, margarin (1 ons).
Alat untuk membuat bolu berendam adalah Kompor, loyang kue atau cetakan, oven pembakar, baskom, mixer, saringan, gelas, sendok, piring, koran, kain lap, kapas, kuas, mangkuk kaca.
Cara membuat bolu berendam adalah siapkan bahan dan alat yang diperlukan. Kocoklah telur dan gula hingga mengembang. Kemudian masukkan tepung dan vanili, masukkan adonan yang sudah mengembang dalam cetakan
atau loyang, kemudian bakar dalam oven hingga masak.
Selanjutnya, masaklah gula dan air sampai kental, lalu masukkan cengkih, kayu manis, adas untuk pengharum sirup. Setelah itu, angkatlah dari api lalu saringlah kembali dengan penyaring.
Setelah bolu masak, masukkan bolunya ke dalam sirup secukupnya saja. Susu dalam piring untuk menghidangkannya.
Alamat & Kontak Penjual:
Bolu Kemojo Ibu Hj. Hazizah
Jalan Rajawali No. 48, Laksmana, Dumai Barat, Kota Dumai 28821
0812-1012-2280
http://bertuahpos.com/lifestyle/bolu-berendam-kue-manis-dari-inhu.html
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.