Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Papua Mimika
Biwar Sang Penakluk Naga
- 12 Desember 2014
Alkisah, di daerah Mimika, Papua, terdapat sebuah kampung yang dihuni oleh sekelompok suku Mimika. Mata pencaharian penduduk tersebut adalah memangkur sagu yang telah diwarisi secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Setiap hari, baik kaum laki-laki maupun perempuan, memangkur sagu di sepanjang aliran sungai di daerah itu.
 
Suatu hari, beberapa orang dari penduduk kampung tersebut hendak mencari sagu dengan menggunakan perahu. Selain membawa alat berupa kapak dan pangkur,[1] mereka juga membawa bekal berupa makanan dan minuman karena kegiatan memangkur sagu tersebut memerlukan waktu sekitar dua sampai tiga hari.
 
Setelah beberapa lama melayari sungai, tibalah mereka di suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon sagu. Dengan penuh semangat, kaum laki-laki mulai menebang pohon sagu yang sudah bisa diambil sari patinya. Setelah rebah, pohon sagu itu mereka kuliti untuk mendapatkan hati sagu yang berada di dalamnya. Kemudian hati dari pohon itu mereka tumbuk hingga menyerupai ampas kelapa dengan menggunakan pangkur. Hasil tumbukan itulah yang disebut dengan sagu. Selanjutnya, sagu tersebut mereka kumpulkan pada sebuah wadah bambu yang sudah dibelah, lalu mencampurinya dengan air.
 
Setelah itu, kaum perempuan segera memeras sagu itu. Air perasan inilah yang mengandung sari pati sagu. Untuk mendapatkan sari pati tersebut, air perasan mereka biarkan beberapa saat hingga sari patinya mengendap di dasar wadah bambu. Setelah air perasan berubah dari warna putih menjadi jernih, air yang jernih tersebut mereka buang hingga yang tersisa hanyalah endapan inti sagu. Inti sagu itu kemudian mereka bentuk seperti bola tenis atau memanjang seperti lontong. Selanjutnya, sagu-sagu yang sudah siap dimasak tersebut mereka masukkan ke dalam wadah yang disebut dengan tumang, yaitu keranjang yang terbuat dari rotan.
 
Setelah menaikkan semua tumang yang berisi sagu tersebut ke atas perahu, rombongan itu pun berlayar menyusuri sungai untuk kembali ke perkampungan. Saat perahu yang mereka tumpangi melewati sungai di daerah Tamanapia, tiba-tiba seeokar naga muncul dari dalam air dan langsung menyerang mereka. Hanya sekali kibas, ekor naga itu mampu menghancurkan perahu itu hingga berkeping-keping. Tak ayal, seluruh penumpangnya terlempar dan tenggelam di sungai, kecuali seorang perempuan yang sedang hamil dapat menyelamatkan diri.
 
Kebetulan perempuan hamil mampu meraih salah satu kepingan perahu yang telah hancur saat ia terlempar ke sungai. Kepingan perahu itulah kemudian ia jadikan sebagai pelampung hingga dapat sampai ke tepi sungai dan melarikan diri masuk dalam hutan. Untuk berlindung dari binatang buas, perempuan hamil itu tinggal di dalam sebuah gua yang ia temukan dalam hutan tersebut. Dalam keadaan hamil tua, perempuan yang malang itu berusaha mencari daun-daun muda dan umbi-umbian untuk bisa bertahan hidup.
 
Suatu hari, dengan susah payah perempuan itu berjuang melahirkan seorang diri. Atas kuasa Tuhan, ia berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan dan diberinya nama Biwar. Kini, perempuan itu tidak lagi kesepian tinggal di tengah hutan tersebut. Ia pun merawat dan membesarkan Biwar dengan penuh kasih sayang. Saat Biwar tumbuh menjadi remaja, ia mengajarinya berbagai ilmu seperti cara memanah, menangkap binatang, dan membuat api. Selain itu, ia juga mengajari Biwar bermain tifa[2] hingga mahir memainkan alat musik tersebut.
 
Beberapa tahun kemudian, Biwar telah tumbuh menjadi pemuda yang tampan, kuat, dan gagah perkasa. Setiap hari ia membantu ibunya mencari lauk dengan cara memancing ikan di sungai. Ia juga membantu ibunya membuat sebuah rumah sederhana yang disebut dengan honai, yaitu rumah adat masyarakat Papua yang terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut dari jerami atau ilalang.
 
Suatu hari, Biwar baru saja pulang dari memancing di sungai dengan membawa beberapa ekor ikan besar. Setiba di depan rumahnya, ia meletakkan ikan hasil tangkapannya itu di tanah seraya berteriak memanggil ibunya.
 
“Mama[3]..., Mama..., keluarlah lihat! Biwar membawa ikan yang besar-besar,” teriak Biwar.
 
Mendengar teriakan itu, ibunya pun keluar dari dalam rumah seraya bertanya, “Dari mana kamu dapatkan ikan itu, Anakku?”
 
“Tadi Biwar memancingnya di sebuah sungai yang dalam. Sungai itu banyak sekali ikannya dan pemandangan di sekitarnya amat indah,” ungkap Biwar, “Jika Mama ingin melihatnya, besok Biwar akan tunjukkan tempat itu.”
 
Sang ibu menerima ajakan Biwar. Keesokan hari, berangkatlah mereka ke sungai yang dimaksud. Alangkah terkejutnya ibu Biwar saat tiba di sungai itu. Ia langsung teringat kepada almarhum suaminya.
 
“Biwar, Anakku! Ketahuilah, ayahmu beserta keluarga dan teman-taman Mama tewas di sungai itu karena diserang oleh seekor naga!” ungkap sang ibu mengenang masa lalunya yang amat memilukan hati.
 
Mendengar kisah sedih ibunya, Biwar bertekad untuk membinasakan naga itu. Namun, sang ibu mencegahnya.
 
“Tapi, Biwar! Naga itu sangat ganas,” cegah ibunya.
 
“Tidak Mama. Bukankah Mama telah mengajarkan Biwar berbagai ilmu? Dengan ilmu itulah Biwar akan membinasakan naga yang menghilangkan nyawa Papa,” tegas Biwar.
 
Sang ibu tidak mampu membendung tekad keras Biwar. Sebelum melaksanakan tekadnya, Biwar bersama ibunya pulang ke rumah untuk menyiapkan semua senjata yang diperlukan. Setelah menyiapkan tombak, golok, dan panahnya, Biwar pun berpamitan kepada ibunya untuk pergi mencari sarang naga itu di sekitar sungai.
 
“Hati-hati, anakku!” ujar mama-nya.
 
“Baik, Mama,” jawab Biwar seraya meninggalkan ibunya.
 
Setiba di tepi sungai, Biwar melihat sebuah gua yang diduga sebagai tempat persembunyian naga itu.
 
“Aku yakin naga itu pasti bersembunyi di dalam gua ini,” gumam Biwar.
 
Dengan langkah perlahan-lahan, Biwar mendekati gua itu. Sesampai di depan mulut gua, ia segera mengambil tifa yang diselipkan di pinggangnya lalu meniupnya untuk memancing naga itu agar keluar dari dalam gua. Alunan musik tifa yang dimainkan Biwar benar-benar menarik perhatian sang naga. Tak berapa lama kemudian, terdengarlah suara gemuruh dari dalam gua.
 
Mendengar suara itu, maka semakin yakinlah Biwar bahwa di dalam gua itulah sang naga bersarang. Ia pun segera bersiap-siap dengan golok di genggamannya untuk berjaga-jaga kalau-kalau naga itu datang menyerangnya. Ternyata benar, tak lama berselang, kepala naga itu tiba-tiba muncul di mulut gua. Tanpa berpikir panjang, Biwar segera melemparkan tombaknya ke arah kepala naga itu dan berhasil melukainya. Meskipun terluka parah, naga itu masih terlihat ganas. Maka sebelum naga itu menyerangnya, Biwar segera mencabut golok yang terselip di pinggangnya.
 
“Terimalah pembalasan dari ayah dan keluargaku yang telah kau binasakan di sungai ini!” seru Biwar seraya memenggal kepala naga itu hingga nyaris putus.
 
Tak ayal, naga itu jatuh terkulai di depan mulut gua. Melihat hal itu, cepat-cepat Biwar menimbun tubuh naga itu dengan bebatuan. Setelah memastikan naga itu benar-benar telah mati, ia pun segera pulang ke rumahnya untuk memberitahukan keberhasilannya membinasakan naga itu kepada ibunya. Betapa senangnya hati sang ibu mendengar berita gembira tersebut.
 
“Naga telah menerima hukumannya. Kini hati Mama sudah lega,” ucap ibunya, “Segeralah buat perahu anakku lalu kita kembali ke perkampungan!”
 
Keesokan harinya, Biwar pun membuat sebuah perahu kecil yang cukup ditumpangi mereka berdua. Dalam beberapa hari, perahu itu pun selesai dibuatnya dan siap untuk digunakan. Akhirnya, dengan perahu itu, Biwar bersama ibunya berlayar mengarungi sungai menuju ke tanah kelahiran ibunya. Setiba di perkampungan, mereka pun disambut dengan gembira oleh penduduk setempat. Untuk merayakan keberhasilan Biwar sebagai pahlawan yang telah menaklukkan naga itu, mereka mengadakan pesta yang meriah.
 
* * *
 
Demikian cerita Biwar Sang Penakluk Naga dari daerah Mimiki, Provinsi Papua. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu keutamaan sifat sabar dan pemberani. Sifat sabar ditunjukkan oleh ditunjukkan oleh perilaku ibu Biwar yang senantiasa berjuang melahirkan dan membesarkan Biwar seorang diri di tengah hutan. Berkat kesabarannya, ia berhasil mendidik Biwar menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Sementara itu, sifat pemberani ditunjukkan oleh keberanian Biwar menghadapi seekor naga yang ganas. Dengan keberanian yang dimiliki, ia berhasil membinasakan naga itu.
 
 
[1] Pangkur adalah alat untuk memangkur sagu yang bentuknya mirip cangkul. Hanya saja, bentuk pada bagian ujungnya seperti tombak, lancip, dan lebih kecil.
 
[2] Tifa adalah alat musik tradisional masyarakat Papua yang bentuknya menyerupai gendang dan dimainkan dengan cara dipukul.
 
[3] Mama artinya Ibu.
 
http://nusantaralogin.blogspot.com/2013/09/kumpulan-cerita-rakyat-papua.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Timun Mas: Bukan Sekadar Gadis Pemberani, Tapi...
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Timun Mas: Bukan Sekadar Gadis Pemberani, Tapi... Lead Kisah Di sebuah kampung di Jawa Tengah, hiduplah seorang janda paruh baya bernama Mbok Srini [C5]. Ia memiliki seorang putri cantik, baik hati, cerdas, dan pemberani bernama Timun Mas [C1]. Kecerdasan dan kebaikan hati Timun Mas membuatnya sangat disayangi oleh ibunya [C2]. Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika sesosok raksasa jahat muncul dengan niat mengerikan: menyantap Timun Mas [C3]. Berkat keberanian luar biasa yang dimilikinya, Timun Mas bersama ibunya berhasil menghadapi dan melumpuhkan raksasa tersebut [C4]. Legenda Timun Mas adalah salah satu cerita rakyat yang kaya akan nilai-nilai kehidupan [S2, S3, S4]. Cerita ini, yang berasal dari Jawa Tengah, mengisahkan perjuangan seorang gadis muda melawan ancaman yang datang [S1]. Keberanian Timun Mas dalam menghadapi raksasa jahat bukan sekadar kisah fiksi, melainkan cerminan dari kekuatan yang dapat dimiliki oleh setiap individu ketika dihadapkan pada kesulitan [C4]....

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Celempung Sunda: Melodi Tatar Sunda yang Terlupakan?
Alat Musik Alat Musik
Jawa Barat

Celempung Sunda: Melodi Tatar Sunda yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Provinsi Jawa Barat, yang dalam bahasa Sunda dikenal sebagai Tatar Sunda, merupakan wilayah dengan identitas budaya yang kuat dan memiliki sejarah panjang dalam pengembangan kesenian daerah [S1]. Wilayah ini sering disebut sebagai Tanah Sunda, yang mencerminkan akar budaya masyarakat Sunda yang mendominasi demografi dan adat istiadat di wilayah tersebut [S2]. Kesenian daerah di Jawa Barat, khususnya dalam ranah alat musik, menjadi salah satu ciri khas utama yang membedakan identitas budaya lokal dibandingkan daerah lain di Indonesia [S3]. Warisan alat musik tradisional di Jawa Barat sangat beragam, mencakup berbagai jenis instrumen yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat [S2]. Beberapa sumber mencatat bahwa kesenian daerah terkenal di setiap wilayah, dengan alat musik menjadi elemen utama yang menonjol dalam ekspresi budaya [S5]. Keberagaman ini mencakup instrumen dari yang sederhan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik: Lebih dari Sekadar Motif, Warisan Luhur Bangsa
Motif Kain Motif Kain
Daerah Istimewa Yogyakarta

Batik: Lebih dari Sekadar Motif, Warisan Luhur Bangsa Identitas dan Asal-Usul Batik motif Parang merupakan salah satu ragam hias batik paling ikonik di Indonesia yang memiliki akar sejarah kuat dalam tradisi kerajaan [S5], [S6]. Sebagai bagian dari kekayaan wastra Nusantara, motif ini tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga menyimpan nilai filosofis, sejarah, dan identitas bangsa yang mendalam [C2], [S1]. Pengakuan internasional terhadap batik sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 mempertegas posisi motif Parang sebagai warisan budaya takbenda yang diakui dunia [C4], [C10]. Secara historis, motif Parang berkembang dari lingkungan keraton, di mana penggunaannya pada masa lalu sering kali dibatasi oleh aturan adat yang ketat [S6]. Motif ini dikategorikan sebagai pola yang memiliki simbol sakral, sehingga pada masa tertentu, pemakaiannya tidak dapat dilakukan secara sembarangan dan sering kali mencer...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Papeda: Lebih dari Sekadar Bubur Sagu Papua
Makanan Minuman Makanan Minuman
Papua

Papeda: Lebih dari Sekadar Bubur Sagu Papua Identitas Kuliner Papeda adalah makanan khas yang berasal dari Kepulauan Maluku dan pesisir barat Papua, serta memiliki penyebutan lokal 'Dao' dalam bahasa Inanwatan, yang mencerminkan identitas budaya masyarakat Papua [S3][S5]. Hidangan ini terbuat dari sagu, yang merupakan bahan utama yang sangat penting dalam kuliner daerah tersebut, dan menjadi simbol dari warisan kuliner Indonesia yang unik [S4][S5]. Papeda tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga mulai mendunia, menunjukkan daya tariknya yang melampaui batas geografis [S5]. Tekstur papeda kental dan rasanya cenderung hambar, namun menjadi nikmat saat dipadukan dengan lauk seperti ikan kuah kuning atau ikan bakar [S5][S5]. Hidangan ini sering disajikan dalam konteks tradisional, menciptakan pengalaman kuliner yang kaya akan makna dan simbolisme, serta mencerminkan budaya masyarakat Papua dan Maluku [S5][S4]. Papeda juga memiliki nilai gizi yang baik, dengan kandungan energi s...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kebaya Kutubaru: Bef di Dada, Sejarah di Setiap Jahitan
Pakaian Tradisional Pakaian Tradisional
Daerah Istimewa Yogyakarta

Kebaya Kutubaru: Bef di Dada, Sejarah di Setiap Jahitan Identitas dan Asal-Usul Kebaya merupakan pakaian tradisional perempuan Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan tersebar luas di berbagai wilayah Nusantara [C1][C8]. Kebaya dikenal sebagai busana bagian atas dengan karakteristik terbuka di bagian depan, dibuat secara tradisional, dan umumnya dipadukan dengan kain batik, songket, atau kain lainnya sebagai bawahan [S3][C7]. Secara etimologi, istilah "kebaya" berasal dari kata abaya yang berarti jubah atau pakaian, menunjukkan pengaruh budaya luar yang telah diadaptasi dalam perkembangan busana lokal [C9]. Kebaya telah digunakan sejak abad ke-15 atau ke-16, menjadikannya salah satu warisan budaya yang menyaksikan perkembangan sejarah Indonesia hingga saat ini [C1][C8]. Keberadaannya tidak hanya sebagai pakaian adat, tetapi juga simbol keanggunan, kesederhanaan, kelembutan, dan keteguhan perempuan Indonesia [C10][S4]. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kebaya mula...

avatar
Kianasarayu