Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Jawa Tengah
Bhatara Kala
- 13 November 2018

Hyang Girinata menginginkan melingkari dunia berbarengan istrinya. Mereka naik diatas punggung lembu Andini, terbang di angkasa. Mereka sudah usai melingkari pulau Jawa, lantas terbang di atas samodera. Kebetulan saat matahari tenggelam, saat senja saat, cahaya matahari merah menyinari air samudera, menyebabkan pandangan indah di lautan.  Hyang Guru melihat keindahan samudera, bimbang sangsi hatinya, bangkit asmaranya, lantaran mulai sejak kelahiran Wisnu, jauh dari rindu asmara. Mulai sejak tersebut baru bangkit hasrat untuk berwawan asmara dengan istrinya. Namun sayang, Dewi Uma tidak ada menanggapinya, sebab rasa hati masihlah jauh untuk bersenggama. Sang Hyang Guru berkemauan keras, sang istri dipegang lantas dipangkunya dan bakal digaulinya. Sang istri menampik serta menghindar dan berkata kasar.

Dikatanya Hyang Guru sangat kasar seperti raksasa, berbuat di sembarang tempat di atas punggung lembu. Sang istri mengharap supaya Hyang Guru sabar, lantaran kata Dewi Uma itu saat itu juga Hyang Guru bertaring seperti raksasa. Kama Hyang Girinata terlanjur keluar serta jatuh di samudera, menggelegar suaranya. Air samudera berdegur hebat, membual seperti di aduk. Sang Hyang Guru terasa malu, bercampur geram pada sang istri serta selekasnya mereka kembali. Air samudera masihlah hebat membual-bual, gegap gempita suaranya serta menggemparkan beberapa dewa. Surga seperti digunjang, lantas diminta carai pemicunya. Selekasnya beberapa dewa pergi serta cepat jalannya. Mereka sudah tiba di sumber huru-hara, tampak dari basic laut sinar seperti matahari tengah memancarakan cahaya panasnya. Sesudah terang mereka kembali, serta melaporkan kalau yang menyebabkan huru-hara di basic laut tempat aslinya. Mereka tidak bisa mendekat, lantaran panas sinarnya seperti panas api. Sang Hyang Guru berkata, kalau yang terlihat bersinar itu bernama Kamasalah.

Beberapa dewa diminta kembali, siap dengan peralatan perang. Mereka diminta memusnahkan Kamasalah yang bernyala-nyala di samudera itu dengan menimbunkan senjata padanya. Beberapa dewa selekasnya pergi, siap dengan senjata perang. Setiba ditempat yang bernyala-nyala itu, beberapa dewa berbarengan melepas panah. Seperti hujan jatuhnya, senjata gada, denda, bedama, gandi, kunta, cakra, candrasa, kapak, limpung, mosala, lori, alugoro jatuh di basic laut tempat asal sinar yang bernyala-nyala itu. Samudera seperti diaduk-aduk geloranya. Kamasalah yang sudah tertimbun panah serta senjata tak reda, bahkan juga jadi tambah besar. Sesudah hilang yang bernyala-nyala, jadilah raksasa segunung besarnya. Semuanya senjata membuat badan Kamasalah. Denda jadi kepala, gada jadi leher, limpung jadi hidung, dan pipi serta pelipis, cakra jadi mata, bindi jadi paha, nenggala jadi bahu, trisula jadi bahu kiri, gada menkadi dada, semuanya anak panah jadi bulu serta gigi. Raksasa itu sekonyong-konyong datang, berdiri tegak seprti gunung diatas samudera. Selekasnya berliuk tubuh, bersin, seperti halilintar suaranya, dehem seperti guntur, lantas keluar dari samudera. Mendekati beberapa dewa seraya memekik, berkata bertanya ayahnya. Beberapa dewa takut, mereka lari tunggang langgang, Kamasalah mengikutinya.

Beberapa dewa sudah tiba di hadapan Sang Jagadnata, berkata gagap kalau Kamasalah tak dapat dimusnahkan dengan senjata, bahkan juga jadi raksasa segunung besarnya, berwajah menakutkan keluar dari dalam samudera, berseru ajukan pertanyaan ayahnya, seraya mengerang seperti halilintar. Oleh karenanya beberapa dewa tercerai berai mereka takut. Belum usai dewa berkata, mendadak Kamasalah datang, beberapa dewa sembunyi di belakang. Kamasalah memandangnya, Hyang Guru tetaplah duduk, tak bergerak dari tempat. Kamasalah mendekat, tiba di depan Hyang Guru, lantas duduk tegak ajukan pertanyaan dengan nada menggelegar. Hyang Guru di tanya namannya, Hyang Guru menjawab kalau ia raja dunia pelindung semuanya yang hidup, bernama Sang Hyang Jagadnata.

Kamasalah berkata, apabila sang Hyang Jagadnata pelindung dunia harus tahu yang menganakkan dia serta tahu rumahnya. Sang Hyang Jagadnata mengakui tahu semua pertanyaan Kamasalah serta mampu tunjukkan rumah ayahnya, dengan prasyarat Kamasalah ingin menghormat, merunduk mencium kakinya. Kamasalah mampu, namun apabila Sang Hyang Jagadnata membohonginya bakal dimakannya. Sang Hyang Jagadnata mampu, Kamasalah diminta menghormatnya. Kamasalah menghormat, Sang Hyang Jagadnata mencabut rambut pelipis kanan kiri. Kamasalah meronta serta menengadah, cepat-cepat Sang Hyang Jagadnata memegang ke-2 taring serta dipotong ujungnya, lantas ditekan lidahnya hingga semuanya dapat keluar mulutnya. Kamasalah dilempar jatuh tertunduk tanpa ada daya, pucuk taring berbarengan dapat diciptanya, ujung taring kanan jadi kunta, tengah ujung taring kiri jadi pasupati serta rambut jadi tali busar panah. Lalu Sang Hyang Guru berkata, kalau Kamasalah yaitu puteranya serta dinamakan Batara Saat.

Batara kala lantas diminta berada tinggal di Nusakambangan, dan merajai makhluk jahat serta jin yang tinggal di pulau Jawa. Kamasalah terima kasih atas cinta kasih Sang Hyang Guru, bakal menurut semua perintah lalu minta catu yang bisa jadi makannya. Sang Hyang Guru berikan catu enampuluh type manusia, lantas dijelaskan perinciannya, enampuluh type manusia terbagi dalam anak serta orang sukerta. Batara Saat mendengar type manusia yang dimaksud oleh Sang Hyang Guru dengan suka hatinya, lantas mohon diri dan diperbolehkannya, Batara Saat menghormat, lantas pergi ke Nusakambangan, Batara Saat berada di Nusakambangan, makhluk jahat serta jin mengakui Batara Saat sebagai rajanya.

Sepeninggalan Batara Saat, Sang Hyang Guru kembali pada surga, kemarahan pada Dewi Uma bangkit kembali. Sebab ia bertaring dari akibat kalimat istrinya, Dewi Uma menyonsong kehadiran suaminya, selekasnya menghormat dihadapan Sang Hyang Pramesti. Saat itu juga dipegang rambutnya, ditarik hingga terurai sanggulnya. Dewi Uma berteriak keras, berumbai-umbai rambutnya. Dewi Uma dipegang ke-2 kakinya, dibaliknya kepala di bawah. Dengan geram Sang Hyang Guru berkata, cantik rupawan Dewi Uma namun rambut berumbai-umbai seperti raksasi, jerit nada sebagai pekik raksasa juga. Saat itu juga Dewi Uma beralih berujud raksasi. Dewi Uma dilepaskan, jadi Dewi Uma juga berteriak sedih, datang menghormat Sang Hyang Guru seraya minta maaf serta bertobat. Sang Hyang Guru terharu serta menyimpan belas kasihan. Sang Hyang Guru berkata lembut, kalau sudah jadi takdir.

Jasmani Dewi Uma berujud raksasi, namun sukma tetaplah sukma Dewi Uma. Dewi Uma yang berujud raksasi bakal jadi istri Batar Saat. Lalu Sang Hyang Guru memasukkan sukma ke badan Dewi Laksmi istri uwaknya yang bernama Resi Catur Kanaka, anak jin Lama raja jin yang berujud raksasi. Dewi Laksmi canti rupawan, secantik Dewi Uma yang sudah berujud raksasi, lantas dinamakan Batari Durga serta diberikan pada Batara Saat. Batara kala serta Batari Durga hidup berbarengan di Nusakambangan.
Sang Hyang Girinata sudah limabelas tahun tinggal di Pulau Dwipa, lalu kembali pada tanah Hindi berbarengan beberapa dewa. Setiba dibukit Tengguru mereka membangun Kahyangan lalu bangun Kahyangan di tanah selong. Resi Catur Kanaka yang istrinya sudah di ambil Sang Hyang Guru menyerah pada nasibnya.

sumber : https://ceritarakyat.web.id/cerita-rakyat-dari-jawa-tengah-bathara-kala/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu